Influencer sekaligus pengusaha kuliner asal Malaysia, Khairul Aming, kembali membuktikan kesuksesannya. Ia berhasil menjual produk sambal baru senilai Rp 8,7 miliar dalam 2 menit saja!
Khairul Aming bukanlah sosok baru dalam dunia bisnis kuliner di Malaysia. Kariernya bermula tahun 2021 saat ia memulai bisnis online jualan sambal bawang bernama Sambal Nyet.
Sambal ini dikemas dalam stoples kaca. Per botolnya dibanderol RM 13 (Rp 46.000) saat itu.
Usahanya kemudian berkembang dengan produk Dendeng Nyet Berapi, berupa dendeng kemasan yang praktis hingga mendirikan Restoran Rembayung di Kampung Baru, Kuala Lumpur. Restoran ini sangat diminati publik hingga muncul antrean ketat dan oknum penjual slot reservasi.
Dikutip dari (10/8/2026), Khairul Aming membagikan kabar mengenai penjualan produk sambal terbarunya, Sambal Nyet Bilis. Dalam waktu kurang dari 2 menit, tepatnya 1 menit 54 detik, ia mampu meraup RM 2 juta (Rp8,7 miliar) dari penjualan 150 ribu botol sambal.
Penjualannya berlangsung via livestream TikTok dari Menara Maybank. Saat itu, penontonnya mencapai lebih dari 370.000. Mereka menantikan peluncuran Sambal Nyet Bilis.
Penjualan sambal ini rupanya melampaui penjualan sambal Khairul Aming sebelumnya. Saat itu, tahun 2024, ia meraup RM 1,2 juta dalam 3 menit 28 detik.
Sambal Nyet Bilis terasa gurih istimewa karena memakai ikan bilis (teri) segar pilihan dari Setiu, Terengganu. Dikutip dari berbagai sumber, proses pembuatan jenis sambal ini kabarnya mencapai 6 bulan dengan melibatkan kerja sama bersama para nelayan lokal.
Kepada via (9/8/2026), Khairul Aming mengatakan peluncuran Sambal Nyet Bilis menjadi momen berarti karena ia keluar dari zona nyamannya.
Peluncuran produk kedua ini memiliki tantangan tersendiri, karena sambal pertamanya telah menetapkan ekspektasi tinggi di kalangan konsumen.
Ia menyadari konsumen mengharapkan sesuatu yang berbeda setelah enam tahun tanpa produk baru.
Penjualan awal yang kuat menunjukkan Sambal Nyet Bilis telah diterima dengan baik, tetapi Khairul Aming mengatakan ujian sebenarnya adalah respons konsumen setelah mereka berkesempatan untuk mencobanya.
"Mungkin sudah terjual habis, tetapi respons masih akan datang. Jadi, kita harus siap," tutup pria 33 tahun ini.





