SURYA.co.id, LAMONGAN - Universitas Islam Lamongan (UNISLA) memasuki usia ke-26 dengan tantangan baru yang semakin kompleks.
Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga persaingan global mendorong perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan berpengetahuan, tetapi juga memiliki karakter dan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam peringatan Dies Natalis ke-26 UNISLA yang mengusung tema "Berilmu, Berakhlak dan Berdampak".
Rektor UNISLA Abdul Ghofur mengatakan, tema tersebut menjadi arah bagi kampus dalam menentukan langkah di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Menurut dia, tiga nilai tersebut tidak cukup berhenti sebagai slogan. Berilmu, berakhlak dan berdampak harus menjadi bagian dari proses pendidikan sekaligus karakter yang melekat pada mahasiswa dan lulusan UNISLA.
"Kita harus menguasai ilmu pengetahuan agar tidak tergilas oleh perubahan zaman. Namun, penguasaan ilmu juga harus disertai akhlak dan diwujudkan dalam bentuk manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Abdul Ghofur dalam pidatonya.
Abdul Ghofur menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi.
Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk tidak berhenti melakukan pembaruan. Kampus harus mampu menyesuaikan kurikulum, meningkatkan kualitas riset serta memperkuat kemampuan mahasiswa dalam bidang teknologi dan sains.
UNISLA, kata dia, berkomitmen terus melakukan berbagai penyesuaian agar mahasiswa memiliki bekal yang relevan dengan kebutuhan zaman.
"Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Karena itu, perguruan tinggi harus adaptif, baik dalam pengembangan kurikulum, riset maupun penguatan literasi teknologi dan sains," katanya.
Menurutnya, perguruan tinggi yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kualitas dan daya saing lulusannya.
Karena itu, usia 26 tahun bagi UNISLA bukan sekadar penanda perjalanan institusi, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi sekaligus menyiapkan langkah ke depan.
Selain penguasaan ilmu pengetahuan, UNISLA menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari pendidikan.
Sebagai perguruan tinggi Islam, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah menjadi salah satu landasan dalam membentuk karakter mahasiswa.
Abdul Ghofur menegaskan, kecerdasan intelektual tanpa dibarengi kompas moral dapat menimbulkan persoalan. Karena itu, lulusan UNISLA diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
"Berakhlak berarti membentuk generasi yang jujur, berintegritas, rendah hati, memiliki empati sosial dan mampu menggunakan ilmunya secara bertanggung jawab," tuturnya.
Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal mahasiswa ketika memasuki dunia kerja maupun ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Kata "berdampak" dalam tema Dies Natalis ke-26 juga menjadi penegasan bahwa keberadaan perguruan tinggi harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
UNISLA didorong tidak hanya menjalankan aktivitas akademik di lingkungan kampus, tetapi juga menghadirkan solusi atas persoalan yang ada di tengah masyarakat.
Abdul Ghofur menyebut Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat dan hilirisasi hasil riset, menjadi salah satu jalur untuk mewujudkan tujuan tersebut.
"Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari persoalan masyarakat. Mahasiswa dan lulusan kita harus mampu menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat nyata," jelasnya.
Ia berharap kontribusi UNISLA ke depan semakin luas, tidak hanya untuk Kabupaten Lamongan, tetapi juga Jawa Timur, tingkat nasional hingga global.
Dalam momentum Dies Natalis tersebut, Abdul Ghofur juga memberikan apresiasi kepada seluruh civitas akademika yang telah menjadi bagian dari perjalanan UNISLA selama 26 tahun.
Penghargaan tersebut ditujukan kepada para dosen yang terus menjalankan tugas pendidikan dan penelitian, tenaga kependidikan yang memberikan pelayanan akademik, serta mahasiswa yang mengharumkan nama kampus melalui berbagai prestasi.
Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan tinggi dan persaingan global, ia menilai kolaborasi menjadi kunci penting bagi perkembangan UNISLA.
Menurutnya, tantangan pendidikan tinggi tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri maupun melalui ego sektoral.
"Kita harus bergerak bersama dalam satu irama kolaborasi yang harmonis. Dengan kebersamaan, UNISLA akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan dan meningkatkan daya saing," tegasnya.
Memasuki usia 26 tahun, Abdul Ghofur menyebut perjalanan UNISLA merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi seluruh elemen kampus.
Ia mengajak civitas akademika menjadikan Dies Natalis ke-26 sebagai momentum memperkuat komitmen untuk membawa UNISLA menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam akhlak serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Perjalanan 26 tahun ini merupakan hasil perjuangan dan dedikasi seluruh civitas akademika. Mari kita jadikan momentum ini untuk terus membangun UNISLA agar semakin unggul, berintegritas dan memberikan dampak," pungkasnya.
Dengan semangat berilmu, berakhlak dan berdampak, UNISLA menatap perjalanan berikutnya dengan target memperkuat kualitas pendidikan sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.