Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menargetkan upaya pemulihan ekosistem seluas 15.000 hektare kawasan lahan kritis yang terdegradasi selesai pada tahun ini.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko kepada ANTARA di Taman Wisata Alam Angke, Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pemulihan tersebut mencakup perbaikan vegetasi mangrove, mineral gambut, hutan, hingga pemulihan lahan hutan bekas perambahan, dengan fokus terbesar berada di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

"Kita punya beberapa ekosistem yang terdegradasi. Berarti harus kita kembalikan lagi menjadi hutan, mangrove misalnya. Lalu ada juga ekosistem yang rusak karena adanya perambahan," kata dia.

Dia menjelaskan bahwa target pemulihan ekosistem seluas 15.000 hektare tersebut tersebar di berbagai lokasi yang dikelola oleh 47 Unit Pelaksana Teknis (UPT) KSDAE di seluruh Indonesia.

Adapun secara spesifik ada sekitar 1,27 juta hektare berada di areal konservasi yang akan di restorasi. Jumlah ini bagian dari total 12,7 juta hektare lahan kritis baik dalam kawasan hutan atau di luar kawasan hutan yang akan direstorasi pemerintah sampai dengan 2030.

Khusus untuk kawasan yang mengalami kerusakan akibat perambahan ilegal, kata Satyawan, Kemenhut terlebih dahulu menyelesaikan proses hukum serta penguasaan aset sebelum menyusun rencana aksi pemulihan di lapangan.

Menurut dia, pemulihan ekosistem terbesar tahun ini dialokasikan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo untuk mengembalikan fungsi hutan dari alih fungsi lahan sawit ilegal.

"Yang terbesar ada di daerah Tesso Nilo. Tesso Nilo kan tahu sendiri di sana ada sawit yang harus kita kembalikan menjadi hutan," cetusnya, seraya menekankan bahwa langkah taktis ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan pemerintah dalam memulihkan kawasan hutan kritis serta menjaga kelestarian keanekaragaman hayati secara menyeluruh.