TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, memiliki banyak pasar tradisional yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Salah satunya adalah Pasar Nongko yang berada di Kelurahan Mangkubumen, Kota Surakarta.
Pasar ini berada di lokasi yang cukup strategis karena berdekatan dengan Stasiun Balapan Solo.
Baca juga: Omzet Pedagang Oleh-oleh di Pasar Nongko Solo Rp 6 Juta Per Hari, Tidak Seramai Tahun Sebelumnya
Namun, di balik aktivitas perdagangan yang berlangsung setiap hari, Pasar Nongko menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk diketahui.
Nama Pasar Nongko sendiri sudah begitu melekat bagi warga Solo. Meski demikian, pasar tersebut sebenarnya memiliki nama asli Pasar Turisari karena berada di kawasan Turisari.
Lantas, bagaimana asal-usul nama Pasar Nongko?
Jauh sebelum menjadi kawasan perdagangan seperti sekarang, wilayah yang kini dikenal sebagai Pasar Nongko merupakan area rawa yang dikelilingi kebun lebat.
Di kawasan tersebut tumbuh banyak pohon nangka yang subur. Pohon nangka menjadi salah satu bagian dari lanskap alami wilayah itu pada masa lalu.
Keberadaan pohon nangka tersebut kemudian turut melahirkan nama Pasar Nongko.
Dalam bahasa Jawa, "nongko" berarti nangka.
Pasar Nongko berkembang sekitar paruh terakhir abad ke-19, terutama setelah dibangunnya jalur kereta api dan Stasiun Balapan sekitar tahun 1870.
Baca juga: Asal Usul Tradisi Sebaran Apem Kukus Keong Mas Pengging, Berawal dari Kisah Hama Keong Mas
Keberadaan jalur kereta api membuat kawasan di sekitar pasar semakin ramai. Letaknya yang berada di dekat jalur perlintasan kereta api menjadikan wilayah tersebut memiliki posisi strategis untuk aktivitas perdagangan.
Pada awal perkembangannya, para pedagang banyak menjual buah nangka.
Aktivitas jual beli dan transit buah nangka inilah yang kemudian membuat masyarakat lebih mengenal kawasan tersebut sebagai Pasar Nongko, meskipun nama aslinya adalah Pasar Turisari.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas perdagangan di kawasan ini terus berkembang.
Perubahan besar terjadi pada dekade 1980-an.
Masyarakat di sekitar kawasan Pasar Nongko mulai memanfaatkan lahan tersebut untuk berdagang.
Dari sinilah aktivitas ekonomi di kawasan tersebut semakin berkembang.
Komoditas yang dijual pun tidak lagi terbatas pada buah nangka.
Berbagai kebutuhan masyarakat mulai tersedia di pasar tersebut.
Buah-buahan, sembako hingga jajanan pasar mengisi lapak-lapak pedagang.
Pasar Nongko pun perlahan berubah mengikuti kebutuhan masyarakat.
Menariknya, perubahan terbesar justru terjadi ketika sebagian pedagang mulai menjual bunga dan tanaman hias.
Hanung mengisahkan bahwa pada masa kakeknya, bunga sebenarnya hanya dijajakan sebagai usaha sampingan.
Namun, seiring perkembangan zaman, perdagangan bunga dan tanaman hias justru semakin berkembang.
Kini, tanaman hias menjadi salah satu identitas utama Pasar Nongko.
Perubahan tersebut membuat Pasar Nongko memiliki wajah yang berbeda dibandingkan masa awal kemunculannya.
Dari kawasan rawa yang dahulu dipenuhi pohon nangka, Pasar Nongko kini dikenal sebagai salah satu pusat tanaman hias di Kota Surakarta.
Perjalanan tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah kawasan dapat terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Sejarah Arum Manis : Jajanan Khas Sekaten Solo 2026 yang Diburu Pengunjung, Aslinya dari Italia
Tidak hanya memiliki sejarah sebagai kawasan perdagangan, Pasar Nongko juga menyimpan cerita perjuangan kemerdekaan.
Di kawasan bundaran Pasar Nongko, tepatnya di persimpangan Jalan Prof Dr Supomo dan Jalan RM Said, berdiri sebuah monumen yang mungkin kerap terlewatkan oleh masyarakat yang melintas.
Monumen tersebut berada di depan Kantor Mangkubumen dan menjadi pengingat atas peristiwa perjuangan yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Monumen Pasar Nongko menjadi titik bersejarah untuk mengenang para pahlawan dan warga sipil yang menjadi korban dalam pertempuran antara pejuang Indonesia dan Belanda.
Pertempuran tersebut berkaitan dengan perjuangan rakyat Solo, terutama pada masa Agresi Militer Belanda II dan Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo.
Gencarnya perjuangan pasukan TNI bersama laskar pelajar dan rakyat menjadikan kawasan sekitar Pasar Nongko sebagai salah satu medan pertempuran.
Dalam catatan sejarah tersebut, lebih dari 25 warga sipil menjadi korban dalam pertempuran di Pasar Nongko.
Nama-nama mereka kemudian diabadikan melalui monumen yang berada di kawasan tersebut.
Perjuangan di Kota Solo tidak terlepas dari sosok perwira muda Letnan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi.
Dalam Serangan Umum Empat Hari di Solo, pasukan Indonesia menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan lebih lengkap, termasuk tank.
Namun, pasukan Indonesia menggunakan strategi gerilya untuk menghadapi kekuatan Belanda.
Di kawasan Pasar Nongko, pasukan Indonesia menerapkan taktik gerilya kota dengan melakukan serangan secara mendadak terhadap patroli Belanda.
Setelah melakukan serangan, pasukan Indonesia segera menghindar sebelum mendapatkan serangan balasan.
Taktik tersebut menunjukkan keuletan dan keberanian para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan.
Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Solo dalam menghadapi Belanda.
Untuk mengenang peristiwa dan para korban perjuangan tersebut, sebuah monumen kemudian didirikan di kawasan Pasar Nongko.
Monumen itu diinisiasi oleh Dewan Harian Nasional Angkatan 45 dan didukung oleh Pemerintah Kota Surakarta.
Monumen yang terbuat dari batu marmer tersebut berdiri sejak 1980.
Keberadaannya menjadi simbol perjuangan dan kehebatan taktik gerilya pasukan TNI dalam menghadapi kekuatan Belanda.
Bagi masyarakat yang melintas, monumen tersebut mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari kawasan persimpangan.
Namun, di balik keberadaannya terdapat kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan dan warga sipil yang menjadi korban perang.
Monumen Pasar Nongko menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut bukan hanya memiliki sejarah perdagangan, tetapi juga menyimpan jejak perjuangan kemerdekaan.
Monumen tersebut juga kerap dikunjungi dan dihormati pada momen-momen tertentu, seperti peringatan Serangan Umum Empat Hari maupun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
(*)