Mengenal Syekh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang Kisahnya Berawal dari Doa Sang Ibu
Joko Widiyarso August 10, 2026 05:02 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Nama Syekh Abdurrahman As-Sudais sudah tidak asing lagi bagi umat Islam di berbagai negara.

Suaranya saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an begitu dikenal, termasuk melalui rekaman dan siaran yang banyak didengarkan umat Islam di Indonesia.

Di balik perannya sebagai salah satu imam dan khatib Masjidil Haram, perjalanan hidup Syekh Sudais sudah dimulai sejak usia sangat muda. 

Ia dikenal telah menghafal Al-Qur'an ketika berusia 12 tahun sebelum kemudian menempuh pendidikan di bidang syariah.

Masa Kecil dan Pendidikan

Syekh Abdurrahman bin Abdulaziz bin Abdullah As-Sudais lahir di Riyadh, Arab Saudi, pada 1960.

Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kemampuan dalam menghafal Al-Qur'an. 

Pada usia 12 tahun, ia disebut telah menyelesaikan hafalan 30 juz.

Setelah menyelesaikan pendidikan awalnya, Syekh Sudais melanjutkan pendidikan di bidang syariah. 

Ia kemudian memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Syariah pada 1983, sebelum melanjutkan pendidikan magister di Imam Mohammad Ibn Saud Islamic University dan doktoral di Umm Al-Qura University.

Kisah Doa Sang Ibu

Ada satu kisah menarik yang kerap diceritakan tentang masa kecil Syekh Sudais.

Saat masih kecil, ia pernah bermain pasir dan tanpa sengaja masuk ke rumah dengan tangan yang masih penuh pasir. 

Tanpa pikir panjang, pasir itu kemudian ditaburkannya ke makanan yang sedang disiapkan sang ibu untuk menjamu tamu.

Melihat ulah putranya, sang ibu sontak marah. 

Namun, ucapan yang keluar justru menjadi sebuah doa.

Idzhab ja'alakallahu imaman lil haramain,” yang berarti, “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu imam di dua tanah suci.”

Bertahun-tahun kemudian, ucapan tersebut seolah menjadi kenyataan. 

Syekh Sudais benar-benar dipercaya menjadi imam Masjidil Haram dan kemudian mendapat tanggung jawab besar dalam urusan keagamaan di dua masjid suci.

Mulai Menjadi Imam Masjidil Haram

Perjalanan Syekh Sudais menuju Masjidil Haram mulai memasuki babak penting pada 1984.

Pada tahun tersebut, ia ditunjuk sebagai imam dan khatib Masjidil Haram ketika usianya masih sekitar 20-an tahun.

Setelah itu, ia juga menjalani karier akademik di bidang syariah. 

Ia pernah mengajar di Umm Al-Qura University dan terus aktif dalam bidang pendidikan serta dakwah.

Dari Kepala Urusan Dua Masjid hingga Jabatan Saat Ini

Karier Syekh Sudais kemudian berkembang ke posisi pemerintahan yang lebih tinggi.

Pada 2012, ia ditunjuk sebagai kepala General Presidency for the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet's Mosque dengan pangkat setingkat menteri.

Struktur kelembagaan tersebut kemudian berubah pada 2023. 

Pemerintah Arab Saudi membentuk lembaga khusus yang menangani urusan keagamaan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada 8 Agustus 2023, Syekh Sudais ditunjuk sebagai kepala Presidency of Religious Affairs at the Grand Mosque and the Prophet's Mosque, juga dengan pangkat setingkat menteri.

Dalam jabatan tersebut, tugasnya berkaitan dengan urusan keagamaan di kedua masjid, termasuk kegiatan dakwah, kajian, bimbingan keagamaan, serta pengembangan layanan keagamaan bagi jamaah dan pengunjung. 

Hingga 2026, ia masih menjabat sebagai kepala lembaga tersebut.

Sosok yang Dikenal Lewat Lantunan Al-Qur'an

Nama Syekh Sudais sampai sekarang tetap lekat dengan Masjidil Haram dan lantunan Al-Qur'an.

Rekaman bacaannya tersebar luas di berbagai negara dan menjadi salah satu cara umat Islam mengenal sosoknya bahkan sebelum mengetahui perjalanan kariernya.

Perjalanan dari seorang anak yang mulai menghafal Al-Qur'an sejak usia dini hingga menjadi imam Masjidil Haram menunjukkan panjangnya proses yang dilalui Syekh Sudais.

Sementara kisah doa sang ibu yang terus diceritakan hingga sekarang menjadi bagian menarik dari cerita hidupnya.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.