TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Tepat pada hari ini Senin, 10 Agustus 2026, Kabupaten Tana Tidung ( KTT ) yang berdiri di Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ) genap berusia 19 tahun.
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Bumi Upun Taka ini menjadi momentum bersejarah, untuk mengingat kembali kilas balik perjuangan panjang para tokoh masyarakat, dan tokoh adat, dalam mendirikan kabupaten termuda di Kalimantan Utara tersebut.
Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Tana Tidung, Asnol, yang juga merupakan salah satu figur sejarah dalam proses pembentukan daerah ini, membeberkan kisah di balik berdirinya Tana Tidung.
Asnol menceritakan, cikal bakal Tana Tidung berawal dari kerinduan masyarakat, dan para tokoh adat, untuk mengangkat kembali sejarah masa lalu.
Baca juga: Breaking News, Ibrahim Ali Pakai Baju Adat Tidung di HUT ke 19 Tana Tidung, Vamelia Dayak Belusu
Wilayah ini pada zaman pendudukan Belanda dikenal sebagai Tana Tidoengsclanden, lalu menjadi Tana Tidoeng Ken di era Jepang, hingga menjadi kewedanaan setelah Kemerdekaan RI tahun 1945.
"Perjuangan ini berangkat dari cita-cita bersama para tokoh masyarakat dan adat di wilayah utara Kalimantan Timur saat itu.
Kita ingin sejarah Tana Tidung kembali bangkit, dan memiliki otonomi daerah sendiri," ujar Asnol.
Gagasan besar ini kemudian dimotori oleh sejumlah tokoh penting seperti Joesoef Abdullah, S.H, Drs. H. Hasyim, M.AP, Drs. Ibrahim Adam, M.AP, Dr. H. Undunsyah, MH., M.Si, dan Datu Noerbeck, S.H.
Pertemuan demi pertemuan digelar, mulai dari Hotel Harmonis hingga kediaman para tokoh, demi mempersiapkan Pertemuan Akbar Suku Tidung, Bulungan, Bulusu, Tenggalan, dan Tagol.
Puncaknya terjadi pada 21-22 Oktober 2002 di Hotel Tarakan Plaza, di mana Rapat Akbar yang dihadiri 148 perwakilan tokoh se-Kalimantan Timur, resmi mendeklarasikan pembentukan Kabupaten Tana Tidung.
"Dari sana terbentuk Tim Formatur hingga Presidium Daerah yang diketuai Pak Drs. Akhmad Berahim, M.M.
Kemudian pada 23 Desember 2002, dibentuk Komite Kecamatan.
Kebetulan saat itu saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Komite Kecamatan Sesayap Ulu Tideng Pale, mendampingi Pak Hendrik, S.H., M.Hum sebagai Ketua," kenang Asnol.
Perjuangan tidak berhenti di situ, berbagai tahapan krusial dilewati selama bertahun-tahun.
Mulai dari penyampaian aspirasi ke Kemendagri, peninjauan langsung oleh Komisi II DPR RI pada 31 Juli 2004, hingga keluarnya Amandemen Presiden (Ampres) pada awal 2007.
Hingga akhirnya, perjuangan panjang tersebut membuahkan hasil manis ketika Sidang Paripurna DPR RI mengesahkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Tana Tidung pada 17 Juli 2007, yang kemudian resmi diundangkan oleh Presiden RI pada 10 Agustus 2007.
Tanggal 10 Agustus inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir Kabupaten Tana Tidung.
Roda pemerintahan resmi berjalan saat Pj Bupati pertama, Ir. H. Ahmad Zaini Anwar, M.M., dilantik di Jakarta pada 18 Desember 2007.
Sejak saat itu, Tana Tidung terus berkembang di bawah kepemimpinan para bupati, mulai dari periode Drs. H. Undunsyah, M.Si., periode Ibrahim Ali, A.Md., hingga kepemimpinan Bupati Ibrahim Ali, S.P dan Wakil Bupati Sabri, S.Pd saat ini.
Begitu pula dari sisi legislatif yang pernah dipimpin oleh Herwansyah, SE, Hendrik, SH., MH, Yapur Alatas, Ibrahim Ali, A.Md, hingga Jamhari yang menjabat sebagai Ketua DPRD Tana Tidung saat ini.
Menanggapi perjalanan 19 tahun Bumi Upun Taka, Asnol menyampaikan rasa haru dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi berdirinya Tana Tidung.
"Perjuangan pembentukan Tana Tidung ini bukan waktu yang singkat dan tidak mudah.
Sungguh luar biasa berkat ketangguhan, niat tulus, dan keikhlasan para deklarator serta masyarakat, Tana Tidung bisa berdiri kokoh seperti sekarang.
Di usia ke-19 ini, sesuai dengan semangat logo dan tema HUT kita, semoga Tana Tidung semakin bersatu, unggul, dan sejahtera," tutup Asnol.
(*)
Penulis : Rismayanti