Melihat Eksistensi Komunitas Pekanbaru Read Aloud Indonesia, Dari Rumah Menumbuhkan Cinta pada Buku
M Iqbal August 10, 2026 08:17 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Ada tempat yang jauh lebih dekat dan punya pengaruh besar, yakni rumah.

Di sanalah kebiasaan anak terbentuk. Dari orang tua, anak pertama kali belajar meniru, termasuk dalam hal membaca. Ketika buku hadir sebagai bagian dari keseharian keluarga, membaca perlahan dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban.

Semangat itulah yang dibawa Komunitas Pekanbaru Read Aloud Indonesia. Komunitas ini mengajak orang tua mengenalkan buku kepada anak melalui kebiasaan sederhana, yakni membacakan cerita dengan suara nyaring atau read aloud.

Bagi Ketua Pekanbaru Read Aloud, Helena Magdalena, M.Psi, gerakan tersebut bukan sekadar kampanye membaca. Ia melihat read aloud sebagai cara sederhana untuk membangun kedekatan orang tua dengan anak sekaligus menanamkan kecintaan terhadap buku sejak usia dini.

Ketertarikan Helena terhadap gerakan ini bermula ketika ia mengikuti Training of Trainer yang dipandu Rossie, Founder Read Aloud Indonesia.

Dari pelatihan itu, Helena menemukan bahwa membacakan buku kepada anak ternyata tidak membutuhkan cara yang rumit.

"Setelah mengikuti pelatihan, saya merasakan bahwa membacakan buku dengan teknik read aloud ternyata tidak sulit. Caranya sederhana dan sangat efektif untuk membantu anak mencintai buku," ujar Helena kepada Tribunpekanbaru.com

Bukan Sekadar Membaca

Selama ini, ketika berbicara tentang kemampuan membaca anak, perhatian orang tua sering tertuju pada kemampuan mengeja dan melafalkan kata. Anak didorong agar cepat bisa membaca sendiri.

Namun, menurut Helena, ada hal yang tidak kalah penting, yakni bagaimana membuat anak menikmati buku terlebih dahulu.

Sebab, kemampuan membaca tanpa ketertarikan terhadap buku bisa membuat aktivitas tersebut terasa membosankan bagi anak.

Di sinilah teknik read aloud diperkenalkan.

Orang tua tidak hanya membacakan tulisan yang ada di dalam buku. Mereka diajak menggunakan intonasi, ekspresi, serta membangun interaksi dengan anak selama cerita berlangsung.

Anak pun tidak sekadar menjadi pendengar. Mereka diajak memperhatikan gambar, memahami cerita, menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, bahkan membayangkan tokoh dan peristiwa dalam buku.

Suasana seperti itu membuat kegiatan membaca menjadi lebih hidup.

Buku tidak lagi sekadar kumpulan halaman berisi tulisan, tetapi menjadi ruang untuk berbincang, bermain imajinasi, sekaligus menghabiskan waktu bersama.

Bagi anak, pengalaman tersebut dapat meninggalkan kesan positif terhadap buku. Sementara bagi orang tua, kegiatan membaca bersama menjadi kesempatan untuk mengenal cara berpikir dan perasaan anak.

Berawal dari Pengalaman Keluarga

Keyakinan Helena terhadap manfaat read aloud juga tumbuh dari pengalaman di keluarganya sendiri.

Ia melihat anak-anaknya mampu membaca dengan lancar sejak usia dini setelah terbiasa mendengarkan buku yang dibacakan menggunakan teknik membaca nyaring.

Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk membagikan praktik yang sama kepada keluarga lain.

"Pengalaman itu membuat saya semakin bersemangat mengajak orang tua lain mencoba. Saya melihat sendiri manfaatnya pada anak-anak saya," katanya.

Menurut Helena, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin jauh lebih penting daripada memaksakan anak membaca dalam waktu lama.

Beberapa menit membaca bersama setiap hari, jika dilakukan secara konsisten dan menyenangkan, dapat menjadi awal terbentuknya kebiasaan membaca.

Lahir di Pekanbaru Sejak 2019

Komunitas Pekanbaru Read Aloud merupakan bagian dari gerakan Read Aloud Indonesia. Komunitas ini hadir di Pekanbaru sejak 2019.

Kegiatan komunitas kemudian berkembang, termasuk pada masa pandemi Covid-19. Ketika aktivitas tatap muka terbatas, edukasi mengenai literasi dan membaca nyaring dilakukan secara daring.

Gerakan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kebiasaan membaca anak.

Apalagi di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu cepat. Anak semakin mudah berhadapan dengan gawai dan berbagai bentuk hiburan digital.

Dalam kondisi tersebut, interaksi langsung antara orang tua dan anak menjadi semakin penting.

Membacakan buku menjadi salah satu cara sederhana untuk menghadirkan kembali waktu berkualitas bersama keluarga.

Selain membangun kebiasaan membaca, read aloud juga diyakini dapat membantu memperkaya kosakata, mengembangkan kemampuan bahasa, melatih konsentrasi, meningkatkan kemampuan membaca, serta memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Terbuka untuk Semua

Saat ini, anggota Pekanbaru Read Aloud didominasi para ibu. Namun, komunitas tersebut tidak hanya ditujukan bagi ibu.

Orang tua, guru, pustakawan, relawan, praktisi pendidikan maupun masyarakat umum dapat bergabung dan belajar bersama.

Anak-anak juga dapat mengikuti berbagai kegiatan literasi yang diselenggarakan komunitas tanpa harus menjadi anggota grup.

Selain kegiatan membaca bersama, komunitas secara rutin memberikan edukasi mengenai cara menerapkan teknik read aloud dengan baik. Tujuannya agar orang tua tidak sekadar membacakan buku, tetapi memahami bagaimana membuat kegiatan tersebut menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Gerakan ini sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, pustakawan, institusi pendidikan hingga organisasi dan komunitas lainnya.

Mimpi Melahirkan Pembaca Sepanjang Hayat

Bagi Pekanbaru Read Aloud, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak cepat membaca.

Komunitas ini ingin melihat anak-anak Pekanbaru tumbuh menjadi pembaca sepanjang hayat, yakni orang-orang yang menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Untuk mencapai tujuan tersebut, edukasi kepada orang tua menjadi salah satu langkah penting.

Helena meyakini perubahan budaya membaca tidak harus dimulai dari program besar. Kebiasaan itu bisa dimulai dari ruang paling sederhana, yakni rumah.

Orang tua cukup menyediakan buku, meluangkan waktu, lalu membacakannya kepada anak dengan cara yang menyenangkan.

"Orang tua adalah teladan pertama bagi anak. Akan sulit mengajak anak gemar membaca jika kebiasaan itu tidak hadir di rumah. Karena itu kami ingin semakin banyak keluarga mencoba teknik read aloud agar budaya membaca bisa tumbuh sejak dini," ujar Helena.

Pada akhirnya, sebuah buku mungkin hanya terdiri dari beberapa puluh halaman. Namun, ketika dibacakan dengan penuh perhatian oleh orang tua, halaman-halaman itu bisa menjadi awal dari perjalanan panjang seorang anak mengenal bahasa, cerita, pengetahuan, imajinasi, sekaligus menemukan kegembiraan dalam membaca.

Susunan Pengurus

  • Penanggung Jawab: Helena Magdalena, M.Psi., Psikolog
  • Didukung oleh tim relawan: Nurfitri Marta Linda, S.Pd. (Certified Read Aloud Trainer) dan Nurliza Rusli (Certified Read Aloud Trainer)


Program dan Kegiatan

Sebagai komunitas yang berfokus pada penguatan literasi keluarga, Pekanbaru Read Aloud secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan, baik secara luring maupun daring, di antaranya:

1. Seminar daring bagi orang tua dan masyarakat mengenai membaca nyaring, literasi keluarga, serta tumbuh kembang anak.

2. Seminar dan pelatihan tatap muka untuk orang tua, guru, pustakawan, dan tenaga pendidik.

3. Kegiatan literasi untuk anak berupa sesi membaca nyaring (Read Aloud) yang dipadukan dengan bookish play, seperti kegiatan seni dan kerajinan (arts and crafts) yang berkaitan dengan isi buku.

4. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai teknik membaca nyaring yang efektif agar kegiatan membaca menjadi menyenangkan bagi anak.

5. Menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah di Pekanbaru dalam pelaksanaan program Read Aloud untuk mendukung penguatan budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Komitmen

Komunitas Pekanbaru Read Aloud percaya bahwa kebiasaan membaca dimulai dari rumah.

Karena itu, komunitas ini terus mengajak orang tua menjadi teladan dengan membiasakan membacakan buku kepada anak menggunakan teknik membaca nyaring yang tepat.

Melalui gerakan ini, diharapkan semakin banyak keluarga di Pekanbaru yang mampu menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sepanjang hayat. (Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.