Pakan Ternak Mahal, Bulog Pastikan Jagung Subsidi untuk Peternak Magelang Masih Aman
Muhammad Fatoni August 10, 2026 10:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tekanan yang dihadapi peternak ayam petelur di Magelang belum sepenuhnya berakhir.

Di tengah mahalnya biaya pakan dan harga telur yang sempat tertekan, aksi pembagian hampir 2.000 ayam afkir di Alun-alun Kota Magelang menjadi gambaran beratnya kondisi usaha peternakan rakyat.

Perum Bulog Cabang Magelang memastikan pasokan jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk peternak masih tersedia hingga akhir tahun.

Pimpinan Perum Bulog Cabang Magelang, Iksan Suraadilaga, mengatakan stok jagung SPHP masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan peternak.

"Stok jagung SPHP masih sangat mencukupi," kata Iksan.

Menurutnya, dari kuota jagung SPHP sebanyak 10.000 ton untuk Cabang Magelang, penyerapan hingga saat ini baru sekitar 50 persen.

Artinya, masih terdapat pasokan yang dapat dimanfaatkan peternak.

"Dari kuota 10.000 ton untuk Cabang Magelang, masih tersisa sekitar 50 persen atau 300 ton yang siap diserap oleh para peternak," jelasnya.

Baca juga: Harga Telur Anjlok, Pakan Tembus Rp8.000: 350 Peternak Magelang Bagikan 2.000 Ayam Afkir ke Warga

Program subsidi jagung tersebut telah berjalan sejak awal Februari 2026. 

Dalam skema ini, Bulog membeli jagung dari petani dengan harga Rp6.400 per kilogram, kemudian menyalurkannya kepada peternak melalui koperasi dengan harga Rp5.000 per kilogram.

"Selisih harga sebesar Rp1.400 per kilogram ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk subsidi," ujar Iksan.

Menurut Iksan, keberadaan jagung SPHP menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu peternak menghadapi tingginya biaya produksi.

Pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi usaha ayam petelur.

"Program ini diharapkan dapat membantu menekan biaya pakan sehingga beban produksi yang ditanggung peternak bisa lebih ringan," katanya.

Harga Telur

Di sisi lain, kabar baik mulai terlihat dari sisi harga telur.

Setelah sempat mengalami tekanan, harga komoditas tersebut kini mulai bergerak naik berdasarkan pemantauan Bulog.

Iksan mengatakan, salah satu faktor yang sebelumnya menekan harga telur adalah berkurangnya penyerapan pasar selama masa libur sekolah.

"Penurunan harga sebelumnya sempat dipicu oleh masa libur sekolah yang mengurangi tingkat penyerapan pasar," ujarnya.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah.

Berdasarkan pemantauan harga harian secara real-time melalui DataGO, harga telur mulai menunjukkan tren peningkatan.

"Berdasarkan pemantauan harian real-time DataGO, tren harga telur saat ini mulai menunjukkan pergerakan naik dan diharapkan segera kembali stabil sesuai regulasi pemerintah," kata Iksan.

Pergerakan harga tersebut menjadi angin segar bagi peternak yang selama ini menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi.

Harga Pakan

Meski demikian, kenaikan harga telur saja belum cukup untuk sepenuhnya mengakhiri persoalan yang mereka hadapi.

Peternak masih membutuhkan kepastian pasar, harga pakan yang lebih terkendali, serta penyerapan produksi yang konsisten.

Sebab, biaya untuk mempertahankan populasi ayam tetap berjalan setiap hari, sementara pendapatan dari penjualan telur sangat bergantung pada kondisi pasar.

Aksi pembagian hampir 2.000 ayam afkir di Alun-Alun Kota Magelang menjadi salah satu gambaran kondisi tersebut.

Ayam yang sudah tidak lagi produktif harus dikeluarkan dari kandang untuk mengurangi beban biaya pemeliharaan.

Di tengah kondisi itu, ketersediaan jagung SPHP hingga Desember menjadi salah satu instrumen yang diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak.

Pemerintah juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara harga pakan, harga telur di tingkat peternak, dan penyerapan pasar agar usaha peternakan rakyat tidak terus tertekan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.