Trump Geser Strategi Hadapi Iran, Serangan Militer Diganti Tekanan Ekonomi, Pakar: AS Makin Terdesak
Bobby Wiratama August 11, 2026 06:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan perubahan strategi dalam menghadapi Iran.

Washington kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi daripada melancarkan serangan militer baru untuk mendorong Teheran mencapai kesepakatan.

Al Jazeera melaporkan Trump mengatakan Amerika Serikat memilih pendekatan yang lebih hati-hati setelah berbulan-bulan konflik.

“Kami menanganinya secara diam-diam,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios.

Trump menyebut Washington hanya melakukan sebagian negosiasi dengan Teheran sambil memantau dampak konflik terhadap perekonomian Iran.

Ia menilai Iran berada dalam kondisi keuangan yang “sangat buruk”, dengan inflasi tinggi dan kesulitan membayar pasukannya.

Trump juga menyebut blokade angkatan laut Amerika Serikat yang diberlakukan sejak April turut meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Trump Yakin Perang Iran Segera Berakhir

Keyakinan Trump terhadap efektivitas tekanan tersebut terlihat dari pernyataannya mengenai kemungkinan berakhirnya perang.

“Saya pikir perang ini akan segera berakhir. Saya pikir mereka (Iran) tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” kata Trump di Gedung Putih.

Trump mengklaim Amerika Serikat masih mengendalikan situasi, meski Iran tetap memiliki kemampuan melakukan serangan.

“Kita mengendalikannya, tetapi mereka selalu bisa menembak sesuatu. Mereka selalu punya sesuatu atau menjatuhkan ranjau,” lanjut Trump.

Namun, klaim bahwa Iran semakin terdesak tidak serta-merta berarti konflik akan segera berakhir.

Salah satu persoalan yang masih menjadi titik tarik-ulur adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Baca juga: Iran Tunjuk Eks Panglima IRGC Pimpin Dewan Keamanan, Pernah Sebut Hormuz Lebih Penting dari Bom Atom

Iran Jadikan Hormuz Kartu Tawar

Selat Hormuz menjadi jalur penting dalam konflik karena berkaitan langsung dengan pelayaran dan arus perdagangan energi global.

Pembicaraan mengenai pembukaan kembali jalur tersebut dimediasi Oman.

Al Jazeera melaporkan pembicaraan mengenai rute pelayaran baru melalui Selat Hormuz disebut telah mendekati terobosan.

Namun, Iran menegaskan pembukaan kembali selat tersebut tetap bergantung pada pemenuhan tuntutan Teheran.

Tuntutan itu antara lain pencabutan blokade angkatan laut AS, penghentian aksi militer, dan kompensasi atas kerugian perang.

Juru bicara IRGC Hossein Mohebi mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada sejauh mana Amerika Serikat menerima syarat Iran.

“Pembukaan kembali tersebut sebenarnya tunduk pada syarat-syarat Iran, dan bergantung pada sejauh mana Amerika Serikat menerima syarat-syarat tersebut,” ujar Mohebi.

Menurutnya, Selat Hormuz bukan hanya jalur ekonomi bagi Iran, tetapi juga bagian dari kekuatan strategis negara tersebut karena posisi geografisnya.

Pakar: Justru Iran yang Menekan AS

Perbedaan pandangan muncul ketika kondisi tersebut dianalisis dari sisi Iran.

Pakar hubungan internasional Universitas Binus, Tia Mariatul Kibtiah, menilai Iran justru sedang memanfaatkan tekanan yang dihadapi Amerika Serikat.

Dalam wawancara di Sapa Indonesia Pagi yang tayang di YouTube Kompas TV, Senin (10/8/2026), Tia menilai tuntutan Iran terhadap AS bukan tanda Teheran mulai menyerah.

Sebaliknya, Iran dinilai sedang mencoba memaksa Washington segera menyelesaikan perang.

“Jadi ini terbalik. Ini terlihatnya adalah Iran sedang memaksa Amerika Serikat,” kata Tia.

Tia menjelaskan tuntutan Iran sebenarnya tidak sepenuhnya baru.

Baca juga: Saudi-Pakistan-Turki Bentuk Pakta Pertahanan, Iran Soroti Runtuhnya Hegemoni Keamanan AS

Namun, beberapa tuntutan kini dibuat lebih terarah dan mendesak, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.

“Iran itu mengatakan bahwa, oke Selat Hormuz dibuka yang penting lu ganti kompensasi, jangan ganggu front-front kita di beberapa wilayah Timur Tengah, yang ketiga adalah segera cabut sanksi,” ujar Tia.

Menurut Tia, pola tersebut menunjukkan Iran sedang menggunakan Selat Hormuz sebagai titik tekan atau attack point terhadap Washington.

“Jadi saya pikir ini seolah paksaan dari Iran karena Iran tahu bahwa faktor eksternal dan internal AS mau tidak mau harus segera menyelesaikan perang ini,” katanya.

AS Disebut Tertekan dari Dalam dan Luar

Tia melihat tekanan terhadap Amerika Serikat datang dari dua arah.

Tekanan pertama berasal dari kondisi domestik AS yang sedang menghadapi pemilu sela.

Sementara tekanan kedua berasal dari negara-negara Timur Tengah yang terdampak langsung jika konflik kembali meningkat.

“Internal adalah kondisi domestik Amerika Serikat saat ini itu sedang menghadapi pemilu sela, yang kedua eksternal itu ada tekanan dari pihak negara Timur Tengah harus segera mengakhiri,” ujar Tia.

Menurutnya, negara-negara di kawasan akan ikut merasakan dampak jika Washington kembali meningkatkan serangan terhadap Iran.

“Karena kalau AS menyerang, yang kena efek itu adalah mereka, negara-negara Timur Tengah,” lanjutnya.

Dua tekanan tersebut dinilai membuat ruang gerak Washington semakin terbatas.

Iran kemudian disebut memanfaatkan kondisi itu untuk mendorong AS segera mengakhiri perang.

Oman Jadi Jalur Penyelesaian

Di tengah tarik-ulur tersebut, Tia memperkirakan Oman tetap akan memainkan peran penting dalam proses menuju penghentian konflik.

Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Iran Dekat, Teheran Bantah, Pengamat: Produksi Drone Digenjot 3 Kali Lipat

Ia tidak melihat penyelesaian kali ini harus berlangsung melalui perundingan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

“Saya melihat untuk kali ini nanti itu hanya melalui mediator, dalam hal ini adalah Oman, jadi hanya melalui Oman saja itu kesepakatan akan terjadi dan perang akan dihentikan,” kata Tia.

Menurutnya, posisi Amerika Serikat yang menghadapi tekanan internal dan eksternal membuat penyelesaian konflik menjadi semakin mendesak.

Namun, masih ada satu persoalan besar jika tuntutan Iran benar-benar dipenuhi.

Israel Bisa Jadi Penghambat

Tia mempertanyakan respons Israel jika Washington akhirnya menerima sejumlah tuntutan Iran.

Pasalnya, sejumlah tuntutan tersebut dinilai lebih menguntungkan posisi Teheran.

“Masalahnya, kalau direalisasikan, Israel akan diam tidak? Karena enam poin itu tadi semuanya menguntungkan Iran,” ujar Tia.

Dengan demikian, perubahan strategi Trump belum otomatis membuka jalan menuju akhir perang.

Washington memang mengklaim tekanan ekonomi membuat Iran semakin terdesak.

Namun, Teheran masih memiliki kartu tawar melalui Selat Hormuz dan berusaha memanfaatkan tekanan yang dihadapi Amerika Serikat.

Baca juga: Iran Minta AS Bayar Ganti Rugi Jika Ingin Selat Hormuz Dibuka

Tarik-ulur tersebut membuat perang AS-Iran belum sepenuhnya keluar dari kebuntuan, meski jalur diplomasi melalui Oman masih terus bergerak.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.