Mohon Diri Sila Pulungan: 52 Tahun Setelah Kenal Makassar, Hanya 3 Bulan Kembali Jadi Kajati Sulsel
AS Kambie August 11, 2026 07:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM -  Pukul 20.34 Wita, Senin malam, 10 Agustus 2026, sebuah pesan masuk ke WhatsApp.

Pengirimnya Dr Sila H Pulungan.

Tidak banyak kalimat dalam pesan itu. Hanya sebuah flyer dengan judul yang sederhana, tetapi terasa sangat personal: “Mohon Diri.”

Di bagian atas flyer itu terdapat foto Sila bersama istrinya, Ny Oyes Pulungan. Sila H Pulungan mengenakan seragam dinas kejaksaan lengkap dengan topi, sementara sang istri berdiri di sampingnya dengan seragam Ikatan Adhyaksa Dharmakarini. Keduanya berdiri menghadap kamera, seperti sedang menyampaikan salam terakhir dari sebuah perjalanan tugas.

Di bawah foto itu, Sila H Pulungan menuliskan kalimat yang menjelaskan maksud pengirimannya. Masa penugasannya sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan bersama Ny Oyes Pulungan sebagai Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Sulawesi Selatan telah berakhir.

Ia menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh jajaran Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan atas perhatian, bantuan, dan kerja sama yang telah diberikan selama mereka bertugas di Makassar.

Tetapi ada satu bagian dari pesan itu yang membuat kata “Mohon Diri” terasa lebih dari sekadar judul sebuah kartu perpisahan.

“Selama menjalankan amanah di Bumi Anging Mammiri, kami memperoleh begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang sangat berharga.”

Kalimat itu seperti membuka kembali sebuah perjalanan yang sebenarnya sangat singkat jika dibandingkan dengan sejarah hubungan Sila dengan Makassar.

Sila H Pulungan pernah mengenal Makassar jauh sebelum ia mengenal kota ini sebagai seorang jaksa.

Tahun 1974, ketika ayahnya bertugas di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan sebagai Asisten Tindak Pidana Umum, Sila masih seorang anak. Ia bersekolah di SD Tello Baru dan menghabiskan lebih dari tiga tahun masa kecilnya di kota ini.

Di masa itu, Sila H Pulungan mengenal sekolah, rumah dinas, lingkungan tempat tinggal, dan tentu saja makanan yang kemudian menjadi bagian kecil tetapi kuat dari ingatannya tentang Makassar: jalangkote pagi hari dengan lombok yang disimpan dalam botol.

Lima puluh dua tahun kemudian, Sila H Pulungan kembali ke kota itu.

Kali ini ia tidak datang sebagai anak seorang jaksa yang mengikuti ayahnya bertugas. Ia datang sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Kajati Sulsel.

Pada 29 April 2026, Sila H Pulungan dilantik untuk memimpin institusi yang dahulu hanya dikenalnya dari cerita dan pekerjaan ayahnya.

Ada semacam lingkaran yang kembali bertemu.

Anak yang pernah mengikuti ayahnya bertugas di Makassar kembali ke kota yang sama untuk menjalankan amanahnya sendiri.

Namun waktu ternyata tidak memberinya kesempatan panjang untuk tinggal.

Pada 22 Juli 2026, Kejaksaan Agung memutuskan menarik Sila H Pulungan ke Jakarta untuk mengemban amanah baru sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Dengan demikian, kepulangannya ke Makassar setelah 52 tahun hanya berlangsung sekitar tiga bulan sebagai Kajati Sulsel.

Tiga bulan untuk sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.

Tiga bulan untuk kembali melihat SD Tello Baru.

Tiga bulan untuk menyentuh kembali ingatan tentang rumah dinas.

Tiga bulan untuk bertemu sahabat-sahabat lama dan baru.

Baca juga: 2 Bulan Jabat Kajati Sulsel, Sila H Pulungan Promosi Jadi Sesjamdatun

Dan tiga bulan untuk meninggalkan jejak baru di kota yang sudah dikenalnya sejak masih kanak-kanak.

Beberapa hari setelah keputusan itu, Sila H Pulungan datang ke Kedai Tujuh Belas. Ia menemui Djusman AR dan beberapa aktivis lainnya. Di meja itu ada pula jurnalis senior Iwan Taruna dan sejumlah sahabat. 

Baca juga: Cerita Sesjam Datun Kejagung Sila Pulungan Suka Jalangkote Sejak 1974 di Makassar: Pamit Sahabat!

Pertemuan yang awalnya diniatkan sekadar untuk ngopi dan pamitan berlangsung hampir lima jam, dari sore hingga malam.

Di atas meja ada kopi, air mineral, makanan ringan, dan jalangkote. Tidak ada suasana protokoler. Tidak ada jarak antara seorang pejabat tinggi kejaksaan dan sahabat-sahabatnya. Yang ada adalah percakapan, tawa, kenangan, dan cerita tentang Makassar.

Malam itu Sila juga menyampaikan sebuah pesan yang barangkali menjadi semacam bekal untuk perjalanan tugas berikutnya.

“Hadirkan kelembutan di mana pun dalam setiap tugas yang diemban.”

Sebelumnya Sila H Pulungan silaturahmi sekaligus pamit dengan seratusan tokoh Sulsel di Cafe Red Corned, Makassar.

Baca juga: Di Depan Akademisi, Sila Haholongan Pamit dan Minta Dukungan Doa untuk Kejaksaan


Kini, pesan “Mohon Diri” datang dengan cara yang berbeda.

Bukan lagi di sebuah meja kedai.

Bukan melalui percakapan panjang bersama sahabat.

Melainkan melalui layar telepon genggam, pada pukul 20.34 Wita, Senin malam.

Sila dan istrinya seolah sedang berdiri di hadapan orang-orang yang pernah membersamai mereka di Sulawesi Selatan. Mereka mengucapkan terima kasih, mengenang kebersamaan, lalu meminta izin untuk melanjutkan perjalanan.

Ada sesuatu yang menarik dari pilihan kata itu.

Mohon diri.

Bukan sekadar pergi.

Bukan pula sekadar berpindah jabatan.

Di dalamnya ada kesadaran bahwa sebuah perjalanan pengabdian selalu melibatkan orang lain. Ada teman yang membantu, bawahan yang bekerja, masyarakat yang dilayani, dan sahabat yang menemani. Karena itu, ketika amanah berakhir, yang ditinggalkan bukan hanya kantor dan meja kerja, tetapi juga hubungan antarmanusia yang telah terbangun selama berada di sana.

Makassar pernah menyimpan masa kecil Sila selama bertahun-tahun.

Lima puluh dua tahun kemudian, kota itu menerimanya kembali sebagai Kajati.

Hanya tiga bulan.

Tetapi mungkin waktu tidak selalu diukur dari panjangnya masa tinggal. Ada kenangan yang dibentuk dalam hitungan tahun, ada pula yang menetap hanya dalam beberapa bulan.

SD Tello Baru adalah bagian dari masa kecilnya.

Jalangkote adalah rasa yang melekat dalam ingatannya.

Kedai Tujuh Belas menjadi tempat ia menghabiskan hampir lima jam bersama sahabat sebelum berangkat.

Dan malam 10 Agustus 2026 menjadi saat ketika sebuah flyer sederhana sampai ke WhatsApp: Mohon Diri.

Dari Makassar, Sila kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini ke Jakarta.

Membawa amanah baru sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

Dan mungkin juga membawa sedikit rasa Makassar yang pernah tinggal di dalam dirinya sejak 1974.

Jalangkote pagi hari. SD Tello Baru. Rumah dinas. Sahabat-sahabat di Kedai Tujuh Belas.

Semua itu tidak ikut masuk ke dalam surat keputusan.

Tetapi semuanya ikut dalam perjalanan seorang manusia ketika ia meninggalkan sebuah kota.

Makassar pernah menjadi bagian dari masa kecil Sila H Pulungan. Lima puluh dua tahun kemudian, kota itu menerimanya kembali sebagai Kajati. Hanya tiga bulan. Tetapi ada hal-hal yang tidak dihitung dengan kalender: sebuah sekolah di Tello, rasa jalangkote pada pagi hari, sahabat di Kedai Tujuh Belas, dan sebuah pesan yang dikirim pada pukul 20.34 Wita: “Mohon Diri.”(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.