Sakit Mulai Hari Jumat? Begini Maknanya dalam Primbon Jawa
Muhammad Fatoni August 11, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Pernah merasa tubuh tiba-tiba tidak enak badan?

Kadang keluhan muncul tanpa terasa sebelumnya.

Hari ini masih beraktivitas seperti biasa.

Besoknya, tubuh justru mulai terasa berbeda.

Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, waktu pertama kali sakit bukan hal sepele.

Hari ketika seseorang mulai merasakan penyakit ikut diperhatikan.

Setiap hari dipercaya memiliki kaitan dengan bagian tubuh tertentu.

Salah satunya adalah hari Jumat yang dikaitkan dengan mata.

Menariknya, Primbon juga memiliki tafsir mengenai penyebabnya.

Dilansir dari jurnal ilmiah Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa karya Bani Sudardi, masyarakat Jawa memiliki cara khusus memahami penyakit.

Cara tersebut tidak hanya melihat bagian tubuh yang sakit.

Masyarakat juga berusaha mencari tahu bagaimana dan mengapa seseorang bisa sakit.

Hari Jumat Dikaitkan dengan Mata

Dalam kajian Bani Sudardi, Primbon mengenal konsep lenggahipun dinten.

Konsep tersebut menghubungkan hari mulai sakit dengan bagian tubuh.

Dalam perhitungan tersebut, Jumat dikaitkan dengan mata.

Artinya, jika penyakit mulai terasa pada Jumat, mata menjadi bagian tubuh.

Tafsir tersebut merupakan bagian dari pengetahuan tradisional Jawa.

Bukan hasil pemeriksaan kesehatan seperti yang dikenal sekarang.

Masyarakat tempo dulu belum memiliki teknologi medis modern.

Mereka mengandalkan pengamatan dan pengalaman yang diwariskan.

Hari, pasaran, gejala, hingga waktu sakit menjadi bahan pertimbangan.

Dari berbagai pengamatan tersebut, lahirlah berbagai tafsir dalam Primbon.

Lalu, Apa Penyebab Sakit Hari Jumat?

Bagian ini yang membuat tafsir Primbon semakin menarik.

Bani Sudardi mencatat beberapa kemungkinan asal penyakit.

Ada penyakit yang dipercaya berasal dari Tuhan.

Ada pula penyakit yang dikaitkan dengan ujar.

Ujar berkaitan dengan perkataan atau janji yang belum dipenuhi.

Selain itu, penyakit juga dipercaya dapat berasal dari jin atau setan.

Ada pula penyakit yang dikaitkan dengan perbuatan jahat orang lain.

Salah satunya dikenal dengan istilah teluh.

Untuk kasus hari Jumat, kajian Bani Sudardi mencatat gangguan makhluk halus.

Gangguan tersebut dipercaya berasal dari makhluk yang berada di kolong rumah.

Sekali lagi, tafsir ini berada dalam kepercayaan masyarakat masa lalu.

Tidak bisa digunakan sebagai penjelasan medis mengenai penyakit.

Baca juga: Sakit Hari Kamis Berhubungan dengan Tulah? Begini Menurut Primbon Jawa

Mengapa Makhluk Halus Bisa Dikaitkan dengan Penyakit?

Pertanyaan ini penting agar tafsir tersebut tidak dipahami secara terpisah.

Masyarakat Jawa memiliki pandangan bahwa manusia merupakan bagian alam.

Manusia tidak berdiri sendiri dalam menjalani kehidupan.

Hubungan dengan lingkungan dianggap dapat memengaruhi kehidupan seseorang.

Karena itu, ketika seseorang sakit, penyebabnya tidak selalu dicari.

Tidak hanya tubuh yang diperiksa secara pemikiran.

Lingkungan sekitar juga ikut diperhatikan.

Termasuk berbagai hal yang dipercaya berkaitan dengan dunia spiritual.

Pandangan tersebut disebut sebagai bagian dari cara pandang kosmologis.

Dilansir dari kajian Bani Sudardi, manusia dianggap bagian tatanan kosmis.

Karena itu, sakit dapat dipahami sebagai gangguan keseimbangan.

Inilah yang membedakan cara pandang tradisional dengan medis modern.

Sakit Tidak Hanya Dianggap Masalah Tubuh

Dilansir dari jurnal Humaniora karya Atik Triratnawati, berjudul Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa.

Pandangan tradisional Jawa menempatkan jasmani dan rohani sebagai kesatuan.

Keduanya dianggap perlu berada dalam kondisi seimbang.

Ketika keseimbangan terganggu, tubuh dipercaya ikut terdampak.

Emosi juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan.

Marah, jengkel, iri, dan pikiran berat dianggap menguras energi.

Kondisi tersebut dipercaya dapat membuat seseorang mudah sakit.

Jadi, kesehatan dalam pandangan tradisional tidak hanya soal tubuh.

Kondisi batin juga dianggap memiliki peran.

Cara pandang tersebut kemudian memengaruhi cara masyarakat memahami penyakit.

Karena Itu, Pengobatannya Juga Beragam

Kalau sakit hanya dianggap persoalan fisik, pengobatan mungkin cukup satu cara.

Ada pengobatan berupa ramuan.

Contohnya adalah jamu dan cekok yang diminum.

Ada pula pengobatan luar seperti boreh, parem, pilis, dan tapel.

Boreh digunakan dengan cara dioleskan pada bagian tubuh.

Parem juga digunakan sebagai ramuan luar.

Pilis biasanya ditempelkan pada bagian dahi.

Sementara tapel digunakan pada bagian tubuh tertentu.

Selain ramuan, ada pula metode yang memiliki unsur ritual.

Salah satunya adalah suwuk.

Metode tersebut dilakukan dengan doa atau bacaan tertentu.

Ada juga tebusan dan kenduri pada kondisi tertentu.

Bentuk pengobatan tersebut menunjukkan cara pandang yang menyeluruh.

Tubuh bukan satu-satunya bagian yang dianggap perlu diperhatikan.

Ketenangan batin dan keseimbangan kehidupan juga ikut dipertimbangkan.

Primbon Mengajarkan Mawas Diri

Di balik berbagai tafsir tersebut, ada satu nilai yang menarik.

Masyarakat Jawa mengenal konsep mawas diri.

Sederhananya, seseorang diajak mengenali dirinya sendiri.

Termasuk mengenali perubahan tubuh dan kondisi pikirannya.

Jika tubuh mulai menunjukkan tanda tertentu, jangan langsung diabaikan.

Begitu pula ketika pikiran terasa terlalu berat.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan agar tidak semakin mengganggu.

Nilai ini sebenarnya masih relevan sampai sekarang.

Hanya saja, cara memahaminya tentu sudah berbeda.

Masyarakat modern memiliki pengetahuan kesehatan yang lebih berkembang.

Karena itu, keluhan kesehatan tetap perlu diperiksa secara medis.

Jadi, Apa Arti Sakit Hari Jumat?

Jika dirangkum, Primbon menghubungkan Jumat dengan mata.

Sementara penyebabnya dikaitkan dengan gangguan makhluk halus.

Dalam catatan yang dikaji Bani Sudardi, gangguan tersebut berasal dari kolong rumah.

Tafsir itu lahir dari cara masyarakat Jawa memahami hubungan manusia.

Manusia dipandang sebagai bagian dari lingkungan dan tatanan kosmis.

Karena itu, sakit tidak selalu dipahami hanya melalui kondisi tubuh.

Ada pula unsur lingkungan dan spiritual yang ikut diperhatikan.

Namun, Tribunners tidak perlu menganggap tafsir tersebut sebagai kepastian.

Sakit mata pada Jumat tidak otomatis berarti gangguan makhluk halus.

Keluhan mata bisa memiliki banyak penyebab secara medis.

Misalnya kelelahan, iritasi, infeksi, atau gangguan penglihatan.

Jika keluhan menetap, pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan.

Primbon cukup ditempatkan sebagai bagian dari warisan pengetahuan Jawa.

Dari sana, Tribunners dapat melihat cara leluhur memahami kesehatan.

Mereka berusaha mencari hubungan antara tubuh dan kehidupan sekitar.

Ada pula pesan untuk menjaga keseimbangan diri.

Tribunners, percaya atau tidak adalah pilihan masing-masing.

Yang jelas, jangan abaikan ketika tubuh mulai memberi tanda.

Semoga Tribunners selalu diberi kesehatan dan ketenangan.

Pernah mendengar orang tua mengaitkan hari sakit dengan penyebab tertentu?

Ceritakan pengalaman atau tradisi keluarga Tribunners di kolom komentar ya!

(MG Natasya Aulia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.