Karena agak gerah, dia buka jaketnya. Dia pakai kaos pendek begitu. Ternyata pak, sepanjang tangannya itu penuh sayatan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan pendidikan psikologi harus bisa menjadi instrumen yang berdampak dalam menekankan masalah kejiwaan yang terdapat pada remaja Indonesia.
Mendiktisaintek mengungkapkan pengalamannya saat menjadi Direktur Kemahasiswaan di Institut Teknologi Bandung, di mana banyak mahasiswanya yang stres akibat berbagai macam tekanan.
"Jadi memang bapak/ibu sekalian ini perlu kita membangun psikologi yang berakar di banyak pendidik terutama. Sehingga mereka bisa merespons ya hal-hal ini," kata dia dalam kegiatan seminar psikologi yang digelar di Jakarta, Selasa.
Menteri Brian mengisahkan bahwa suatu ketika ia harus mencari tahu keberadaan seorang mahasiswa bimbingannya yang dikenal cerdas, namun tiba-tiba sering menghilang pada tahun kedua perkuliahan.
Saat dipanggil untuk berdiskusi, mahasiswa yang selalu mengenakan jaket tebal tersebut mengaku tengah sibuk mengerjakan pesanan gambar animasi lepas untuk klien dari Rusia, sebagai pelarian dari masalah konflik keluarga di rumah.
Di balik kesuksesan finansial dari proyek internasionalnya tersebut, Brian mendapati kenyataan traumatis yang sangat mengejutkan saat mahasiswa itu melepas jaketnya.
"Kemudian karena agak gerah, dia buka jaketnya. Dia pakai kaos pendek begitu. Ternyata pak, sepanjang tangannya itu penuh sayatan," ujarnya dengan nada kaget.
Saat itu, jelas Brian, sang mahasiswa mengaku kepadanya bahwa menyayat tangan adalah satu-satunya jalan keluar yang ia ketahui untuk mengalihkan pikiran dari trauma dan stres akibat kondisi keluarganya.
"Jadi dia, katanya kalau stres pak, itu pemikiran saya butuh konsentrasi yang lain. Nah, konsentrasi yang lain itu adalah dengan lukanya dia. Jadi kalau dia ada luka, dia konsentrasi ke luka nih, dia tenang, dia bilang gitu," katanya menirukan pengakuan mantan anak didiknya.
Mengutip data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Menteri Brian menyebut sepuluh persen remaja di Indonesia memiliki masalah kejiwaan, di mana kelompok usia muda dan mahasiswa menjadi rentan, terlebih dengan rincian 4,4 persen mengalami kecemasan dan 4,8 persen menderita depresi.
Menurut dia, situasi ini bisa membahayakan, sebab kelompok pemuda adalah motor utama penggerak negara pada masa puncak bonus demografi nanti.
"Makanya, Bapak/Ibu para psikolog atau dosen di psikologi ini (harus) bisa terus-menerus membangun satu terobosan-terobosan baru untuk edukasi atau untuk menambah kapasitas, menambah wawasan pada teman-teman atau pada masyarakat luas. Sehingga ya muatan-muatan psikologi itu bisa difahami lebih banyak masyarakat," tutur Mendiktisaintek Brian Yuliarto.





