Pasukan sukarelawan Basij Iran turut disiagakan di garis depan pertempuran.
Keterlibatan milisi Basij menandai bahwa Iran kini mensiagakan kekuatan rakyatnya secara masif guna menghadapi pertempuran terbuka.
Mengutip Tribunnews pada (11/8), Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi memerintahkan mobilisasi dan peningkatan kesiapan seluruh komponen pertahanan nasional.
Instruksi tegas ini disampaikan langsung kepada Kepala Staf Umum yang baru, Ali Abdollahi, di tengah eskalasi konflik yang makin memanas.
Satu poin paling krusial dalam dekrit tersebut adalah pengerahan penuh pasukan sukarelawan Basij untuk bersiap di garis depan.
Langkah ini memperlihatkan sinyal bahaya bagi Amerika Serikat dan Israel atas potensi kehancuran total yang mengintai militer mereka.
Seluruh elemen militer Iran diinstruksikan untuk merespons segala bentuk ancaman dengan cara yang sangat cepat, tepat, dan efektif.
Strategi pertahanan baru Iran tidak hanya mengantisipasi serangan fisik melalui kekuatan militer konvensional semata.
Iran kini turut memasang mode siaga penuh untuk menangkal serangan perang kognitif yang diluncurkan musuh-musuhnya.
Langkah ini ditujukan untuk mematahkan perang informasi, disinformasi, serta propaganda Barat yang berusaha merusak persepsi publik.
Selain itu, pengerahan pasukan disiapkan guna melumpuhkan ancaman hibrida yang mengombinasikan berbagai taktik tekanan.
Bentuk ancaman hibrida tersebut mencakup gempuran siber, boikot ekonomi, hingga operasi psikologis yang dilancarkan pihak asing.
Melalui restrukturisasi ini, Iran berhasil membangun sistem komando tunggal yang jauh lebih solid, cepat, dan terintegrasi.
Dengan pengerahan Basij dan benteng pertahanan hibrida ini, bayangan kiamat militer bagi AS-Israel diakui makin nyata di depan mata.