Gubernur Pramono Anung Kecam Promosi Miras Berhadiah Hafalan Al-Qur’an di The Sounds Project
Hironimus Rama August 11, 2026 06:35 PM

Laporan Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengecam keras aksi promosi minuman beralkohol merek Newport dalam festival musik The Sounds Project di Jakarta Utara.

Promosi tersebut menuai sorotan tajam lantaran dikaitkan dengan tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha dengan hadiah sebotol minuman keras.

Pramono menilai aksi tersebut tidak semestinya terjadi di Jakarta, terlebih karena membawa unsur kegiatan keagamaan dalam promosi minuman beralkohol.

Baca juga: Shin Tae-yong Datang, Pramono Anung Berharap Persija Angkat Trofi Liga Jadi Kado 500 Tahun Jakarta

“Yang pertama, yang berkaitan dengan promosi apa, minuman keras yang viral, apalagi dikaitkan dengan kegiatan keagamaan, ini sungguh-sungguh menodai kehidupan keagamaan yang sangat, yang kita jaga bersama di Jakarta,” kata Pramono saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Atas kejadian tersebut, Pramono meminta jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengambil tindakan tegas. Ia menginstruksikan Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah DKI Jakarta, Ali, untuk mengoordinasikan penanganan persoalan tersebut.

“Untuk itu saya akan minta kepada Pak Asisten Kesejahteraan, Pak Ali, untuk segera mengoordinasikan, mengambil tindakan tegas terhadap hal yang tidak boleh terjadi di Jakarta,” ujarnya.

Pramono menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta sangat menyesalkan adanya kegiatan promosi minuman keras yang dicampuradukkan dengan hafalan ayat Al-Qur’an.

“Sehingga sekali lagi, Pemerintah DKI Jakarta menyesalkan hal itu terjadi di Jakarta,” kata Pramono.

Sebelumnya, video peluncuran produk alkohol dari Newport yang viral pada Minggu (9/8/2026) memperlihatkan seorang pengunjung di sebuah booth acara yang menawarkan tantangan melafalkan surat Ad-Dhuha ditukar dengan satu botol minuman.

Aksi tersebut mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Kawendra Lukistian.

Ia menilai tindakan tersebut menyentuh wilayah sensitivitas agama dan etika bisnis yang harus disikapi secara serius.

“Kalau benar ayat Al-Qur’an digunakan untuk mempromosikan minuman keras, ini bukan sekadar salah strategi marketing. Ini sudah menyentuh wilayah sensitivitas agama dan etika bisnis yang harus kita sikapi secara serius,” ujar Kawendra.

Kawendra mendesak Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) melakukan investigasi menyeluruh serta meminta Kementerian Perdagangan mengevaluasi perizinan dan distribusi produk terkait jika terbukti melanggar aturan.

“Saya mendorong BPKN untuk menginvestigasi secara menyeluruh. Kalau ditemukan pelanggaran, jangan berhenti pada permintaan maaf atau klarifikasi. Harus ada tindakan dan sanksi yang tegas sesuai aturan,” tegasnya.

Sementara itu, pria yang mengaku sebagai MC booth Newport berinisial Ega telah menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kejadian tersebut. Ia berdalih situasi tersebut terjadi di luar rencana akibat audiens merebut mikrofon yang dipegangnya.

“Pada saat jeda acara, saya melakukan interaksi dengan pengunjung. Lalu, ada audiens yang memakai atasan putih tiba-tiba mengambil alih mic saya. Audiens tersebut langsung memberikan sayembara melafalkan salah satu surat kepada pengunjung lain dengan imbalan yang ditawarkan oleh audience tersebut,” jelas Ega.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.