Ukraina Digempur Rudal dan 120 Drone, Zelensky Tuding Rusia Pakai Senjata Korut
TRIBUNNEWS.COM — Sedikitnya 12 orang tewas dalam serangkaian serangan Rusia ke sejumlah wilayah Ukraina pada Selasa (11/8/2026).
Serangan tersebut menyasar antara lain Kota Zaporizhzhia, Kyiv, Dnipropetrovsk, dan Donetsk.
Selain rudal, Rusia juga dilaporkan mengerahkan lebih dari 120 drone dalam serangan malam hingga pagi hari.
Baca juga: Zelenskyy: Korea Utara akan Kirim 50.000 Tentara ke Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeklaim Rusia menggunakan rudal balistik buatan Korea Utara dalam serangan terhadap Zaporizhzhia.
Ia juga menyebut sebagian besar drone yang digunakan merupakan jenis Shahed bermesin jet.
Di Zaporizhzhia, serangan terjadi pada Selasa pagi dan menyebabkan sedikitnya enam orang tewas serta sekitar 20 lainnya terluka, menurut pejabat Ukraina.
Gubernur wilayah Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengatakan kota tersebut diserang menggunakan rudal dan bom udara berpemandu.
Foto yang dibagikannya memperlihatkan sejumlah bangunan dan kendaraan terbakar setelah serangan.
Zelensky mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang menurutnya sengaja diarahkan untuk menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur sipil.
"Ini adalah serangan kejam yang dirancang untuk menimbulkan kerusakan maksimum, khususnya terhadap infrastruktur sipil," kata Zelensky.
Serangan Rusia juga terjadi di Kyiv pada malam sebelumnya. Menurut administrasi militer Kyiv, sejumlah gudang di salah satu distrik kota terbakar akibat serangan tersebut.
Satu orang dilaporkan terluka.
Zelensky mengatakan sebuah rumah sakit penyakit menular turut terdampak, bersama sejumlah tempat usaha dan bangunan lainnya.
Serangan tersebut menjadi bagian dari gelombang serangan udara yang lebih luas. Menurut Zelensky, Rusia meluncurkan lebih dari 120 drone, yang sebagian besar disebutnya sebagai Shahed bermesin jet.
Drone Shahed merupakan salah satu senjata yang banyak digunakan Rusia dalam serangan terhadap Ukraina.
Drone jenis ini relatif murah dibandingkan rudal dan dapat digunakan dalam jumlah besar untuk menyerang sasaran maupun membebani sistem pertahanan udara.
Selain Zaporizhzhia dan Kyiv, serangan juga dilaporkan terjadi di Dnipropetrovsk dan Donetsk.
Pejabat setempat mengatakan sedikitnya enam orang tewas dan 16 lainnya terluka akibat serangan sepanjang malam.
Dengan demikian, korban tewas dari serangkaian serangan terbaru tersebut sedikitnya mencapai 12 orang, berdasarkan laporan pejabat Ukraina.
Pernyataan Zelensky mengenai penggunaan rudal Korea Utara menjadi salah satu aspek penting dari serangan terbaru ini.
Ukraina dan negara-negara Barat sebelumnya telah berulang kali menuduh Korea Utara memasok amunisi dan persenjataan kepada Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina.
Pyongyang dan Moskow telah memperkuat hubungan militer dalam beberapa tahun terakhir.
Jika penggunaan rudal Korea Utara dalam serangan terbaru ini kembali terkonfirmasi melalui analisis serpihan atau sumber intelijen independen, hal tersebut akan menunjukkan semakin eratnya dukungan militer antara Moskow dan Pyongyang.
Namun, klaim mengenai jenis rudal yang digunakan dalam serangan terbaru perlu dibedakan dari informasi yang telah terverifikasi secara independen.
Zelensky menggunakan serangan terbaru tersebut untuk menegaskan bahwa Rusia, menurutnya, belum menunjukkan tanda-tanda menuju perdamaian.
Ia menyoroti peningkatan produksi rudal balistik Rusia, dugaan penggunaan peralatan dari Korea Utara, serta persiapan mobilisasi sebagai indikasi bahwa Moskow masih memperkuat kapasitas militernya.
"Setiap langkah yang diambil Rusia—meningkatkan produksi rudal balistik, mendatangkan peralatan Korea Utara, dan mempersiapkan mobilisasi—semuanya menunjukkan bahwa Moskow sedang bersiap bukan untuk perdamaian, melainkan untuk eskalasi," kata Zelensky.
Perang Rusia-Ukraina telah memasuki fase yang semakin bergantung pada serangan jarak jauh.
Rudal balistik, rudal jelajah, bom berpemandu, serta drone menjadi bagian penting dari strategi kedua pihak untuk menyerang infrastruktur militer, energi, industri, dan logistik lawan.
Bagi Ukraina, serangan dalam jumlah besar juga menjadi tantangan bagi sistem pertahanan udara.
Peluncuran puluhan hingga ratusan drone secara bersamaan dapat digunakan untuk menguras persediaan rudal pencegat sekaligus membuka celah bagi senjata berkecepatan tinggi seperti rudal balistik.
Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus dibicarakan, intensitas serangan udara masih menjadi salah satu indikator utama bahwa konflik Rusia-Ukraina belum memasuki tahap de-eskalasi yang nyata.