Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd. - Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
ADA empat orang duduk mengelilingi meja makan: ayah, ibu, dan dua anak. Makanan masih hangat. Semuanya lengkap. Hanya percakapan yang tidak ada. Ayah sesekali menggeser layar telepon genggamnya. Ibu membalas pesan WhatsApp. Anak pertama menonton video pendek. Si bungsu beberapa kali mencoba bercerita, tetapi tidak mendapat jawaban selain, “Sebentar, ya.”
Mereka duduk kurang dari satu meter satu sama lain, tetapi perhatian mereka berada di tempat yang berbeda. Pemandangan semacam itu makin mudah kita temukan. Di restoran, ruang tunggu, kendaraan, bahkan di meja makan rumah sendiri.
Kita sering mencemaskan anak yang terlalu lama bermain gawai. Kita menegur mereka karena tidak fokus belajar. Kita meminta sekolah membatasi telepon genggam. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diarahkan kepada orang dewasa: jika anak diminta meletakkan gawainya, kapan orang tua bersedia meletakkan gawainya juga?
Pertanyaan itu menjadi makin relevan setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan tersebut berangkat dari kekhawatiran bahwa penggunaan gawai yang tidak terkelola dapat mengurangi konsentrasi belajar, menurunkan kualitas interaksi sosial, membuka risiko penyalahgunaan teknologi dan perundungan siber, serta berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak.
Kebijakan itu patut diapresiasi. Namun, ada kekeliruan jika kita menganggap persoalan selesai begitu telepon genggam disimpan selama jam pelajaran. Sebab, sekolah hanya memiliki anak beberapa jam sehari. Selebihnya, anak kembali kepada keluarga.
Kita sering memperlakukan persoalan gawai sebagai persoalan kedisiplinan anak. Padahal, ia juga merupakan persoalan keteladanan orang dewasa. Seorang ayah dapat memberi ceramah panjang tentang bahaya kecanduan gawai. Namun, jika sejak pulang bekerja hingga menjelang tidur tangannya tidak pernah jauh dari telepon, pesan manakah yang lebih kuat ditangkap anak: nasihat atau perilaku?
Seorang ibu dapat meminta anak berhenti menonton YouTube ketika makan. Namun, bagaimana anak memahami aturan itu jika orang tuanya sendiri membalas pesan, melihat media sosial, atau menerima panggilan selama makan bersama?
Anak, terutama pada usia sekolah dasar, adalah pengamat yang luar biasa. Mereka tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari apa yang berulang kali kita lakukan. Di sinilah larangan terhadap anak bisa kehilangan legitimasi moral. Kita meminta mereka mengendalikan sesuatu yang bahkan orang dewasa kesulitan mengendalikannya.
Fenomena ketika seseorang mengabaikan orang lain karena perhatian terserap oleh telepon genggam dikenal dengan istilah phubbing. Ketika dilakukan orang tua dalam interaksi dengan anak, literatur menyebutnya parental phubbing.
Persoalannya ternyata tidak sesederhana etika menggunakan telepon. Studi yang dipublikasikan dalam Children and Youth Services Review pada 2025 menemukan hubungan antara parental phubbing, rendahnya kohesi keluarga, dan depresi pada remaja. Penelitian lain pada 2024 menemukan bahwa parental phubbing berkaitan dengan keterlibatan remaja dalam cyberbullying maupun menjadi korban cyberbullying, dengan kecemasan sosial sebagai salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut.
Temuan longitudinal lain yang dipublikasikan dalam Technology in Society pada 2024 bahkan menunjukkan hubungan timbal balik antara parental phubbing dan kecanduan media sosial pada remaja, termasuk melalui fear of missing out atau FoMO.
Tentu penelitian-penelitian tersebut tidak berarti setiap orang tua yang sesekali melihat telepon akan menyebabkan anak mengalami masalah psikologis. Namun, pesannya penting: kualitas perhatian orang tua di era digital bukan perkara sepele.
Indonesia telah menjadi masyarakat digital. Data Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Sebanyak 68,65 persen penduduk telah memiliki telepon seluler.
Teknologi tentu bukan musuh. Gawai memungkinkan orang tua bekerja, berkomunikasi, bertransaksi, mencari informasi, bahkan mendampingi pendidikan anak. Anak pun membutuhkan literasi digital untuk hidup pada zamannya.
Mengeluarkan teknologi sepenuhnya dari kehidupan keluarga bukan hanya sulit, melainkan juga tidak bijaksana. Yang menjadi persoalan adalah ketika alat komunikasi justru mengurangi komunikasi dengan orang yang berada tepat di hadapan kita.
Kita mungkin sedang membesarkan generasi yang sangat terkoneksi dengan dunia, tetapi perlahan kehilangan percakapan di rumah. Anak bisa mengirim puluhan pesan dalam sehari, tetapi kesulitan menceritakan kegelisahannya kepada ayah. Anak dapat mengetahui apa yang sedang viral di belahan dunia lain, tetapi tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan ibunya.
Lebih ironis lagi, orang tua kemudian mengeluh, “Anak sekarang kalau ditanya hanya menjawab iya atau tidak.” Mungkin pertanyaannya perlu dibalik.
Ketika dahulu mereka ingin bercerita, apakah kita benar-benar mendengarkan? Jangan sampai anak berhenti bercerita bukan karena tidak mempunyai cerita, melainkan karena berkali-kali mendapati wajah orang tuanya lebih tertarik pada layar.
Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 sebenarnya membawa gagasan penting. Pemerintah tidak memilih pendekatan pelarangan total, melainkan pembatasan agar teknologi digunakan secara bijak dan untuk kepentingan edukatif. Bahkan, orang tua didorong menerapkan prinsip 3S: screen time, screen zone, dan screen break sesuai usia, perkembangan, dan kebutuhan anak. Inilah bagian yang tidak boleh tenggelam.
Pembatasan gawai tidak boleh menjadi pekerjaan rumah sekolah saja. Tidak adil jika guru harus berjuang membuat murid fokus selama enam jam di sekolah, sementara sesampainya di rumah anak dibiarkan berjam-jam tenggelam dalam layar tanpa batas. Sebaliknya, tidak masuk akal pula meminta anak menjalani disiplin digital apabila orang dewasa di sekitarnya tidak memberikan contoh.
Sekolah dan rumah membutuhkan aturan yang saling menguatkan. Guru dapat mengajarkan literasi digital. Sekolah dapat menentukan kapan gawai boleh digunakan untuk pembelajaran. Orang tua kemudian melanjutkannya di rumah dengan membangun kebiasaan digital yang sehat. Tetapi ada syaratnya: aturan tersebut juga berlaku bagi orang dewasa.
Kita tidak membutuhkan gerakan yang rumit untuk memulainya. Mulailah dari meja makan. Tetapkan satu ruang di rumah sebagai zona tanpa gawai. Meja makan adalah kandidat terbaik. Tiga puluh menit tanpa layar mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sanalah percakapan keluarga dapat dikembalikan.
Kedua, buat screen break bersama. Jangan hanya berkata, “Sudah, HP-nya disimpan!” kepada anak. Orang tua juga meletakkan teleponnya.
Ketiga, bedakan penggunaan gawai yang produktif dan konsumtif. Mengerjakan tugas sekolah, membaca buku digital, berkomunikasi dengan keluarga, dan membuat karya tentu berbeda dengan menggulir video tanpa tujuan selama berjam-jam.
Keempat, kembalikan kebiasaan bertanya. “Bagaimana sekolahmu hari ini?” “Ada sesuatu yang membuatmu senang?” “Ada yang membuatmu kesal?”
Kemudian lakukan sesuatu yang makin mahal di zaman digital: dengarkan jawabannya tanpa melihat layar. Tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga. Tidak semua notifikasi membutuhkan perhatian kita.
Tetapi masa kecil anak mempunyai batas waktu. Suatu hari anak yang sekarang terus memanggil, “Ayah, lihat!” mungkin tidak lagi memanggil. Anak yang hari ini berkali-kali berkata, “Bu, aku mau cerita,” suatu saat dapat memilih menceritakan semuanya kepada orang lain atau kepada layar yang selalu bersedia memberikan respons.
Kebijakan pembatasan gawai di sekolah adalah momentum yang baik. Tetapi keberhasilannya tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak sekolah yang melarang telepon genggam selama pelajaran. Ukuran keberhasilan yang jauh lebih penting adalah apakah kita berhasil membentuk generasi yang mampu menguasai teknologi tanpa dikuasai teknologi.
Dan pendidikan semacam itu tidak dimulai dari peraturan sekolah. Ia dimulai dari teladan. Karena itu, sebelum bertanya mengapa anak sulit dilepaskan dari telepon genggam, mungkin orang dewasa perlu berani mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman kepada dirinya sendiri: Berapa kali hari ini anak kita berbicara, sementara mata kita tetap menatap layar?
Sekolah boleh membatasi gawai. Guru boleh meminta murid menyimpannya. Pemerintah boleh menerbitkan regulasi. Namun, pendidikan digital yang paling kuat tetap berlangsung di rumah ketika seorang ayah mematikan layar untuk mendengar cerita anaknya, ketika seorang ibu meletakkan telepon saat anak memanggil, dan ketika sebuah keluarga kembali menemukan satu sama lain di meja makan.
Barangkali anak-anak kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak nasihat tentang bahaya gawai. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang bersedia meletakkan gawainya terlebih dahulu. (*)