Modal Nekat, BUMDes Tanjung Labu Kini Panen Puluhan Juta Rupiah dari Ayam Broiler
Ardhina Trisila Sakti August 12, 2026 11:41 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Bersama Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai menunjukkan hasil dari usaha peternakan ayam broiler yang dirintis sejak awal April 2026. 

Usaha yang berawal dari program ketahanan pangan desa tersebut kini telah memasuki siklus kedua dengan jumlah ternak lebih dari 800 ekor. Produksi ayam BUMDes bahkan telah dipesan masyarakat dari empat desa di Kecamatan Lepar.

Aroma pakan ayam bercampur dengan bau kotoran langsung menyeruak begitu memasuki kandang yang lokasinya berada di tengah perkebunan.

Suara ratusan ayam broiler bersahutan, sesekali diselingi kepakan sayap dan gerakan ayam yang berdesakan mencari pakan. Di tengah riuh itu, beberapa petugas tampak sibuk mengisi kembali wadah-wadah pakan yang mulai kosong. 

Tangan mereka bergerak cekatan memastikan setiap tempat pakan kembali terisi, sementara ayam-ayam bergerombol mendekat, berebut menyambut pakan yang baru dituangkan.

20260812 Lewat peternakan ayam
AYAM BROILER – Ayam broiler yang ada di peternakan milik BUMDes Maju Bersama Desa Tanjung Labu, Rabu (12/8/2026). Lewat peternakan ayam kini BUMDes bisa memenuhi kebutuhan daging ayam di Kecamatan Lepar.

Ketua BUMDes Maju Bersama Desa Tanjung Labu, Gusmanto, masih mengingat bagaimana usaha itu pertama kali dimulai.

Tidak ada pengalaman khusus dalam beternak ayam broiler, sementara di Kecamatan Lepar ketika itu belum ada peternakan ayam broiler yang dikembangkan masyarakat.

Pengurus BUMDes hanya melakukan studi satu kali ke Desa Gadung, Kecamatan Toboali, sebelum memberanikan diri mencoba sendiri.

“Awalnya peternakan ayam broiler ini kami lakukan secara otodidak dan modal nekat,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026).

Awalnya, ayam-ayam tersebut juga diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, program tersebut belum berjalan di Kepulauan Lepar sehingga hasil peternakan untuk sementara dipasarkan langsung kepada masyarakat.

Bagi BUMDes, kondisi itu tidak menghentikan langkah mereka untuk terus memutar usaha dan memasarkan hasil ternak terserap pasar.

Keberanian itu perlahan membuahkan hasil. Pada siklus pertama, lebih dari 800 ekor ayam berhasil dipanen dengan hasil sekitar 1,3 ton bersih atau senilai Rp39 juta.

Setelah sebagian produksi diperuntukkan bagi bantuan sosial masyarakat. Hasil panen tersebut membuat BUMDes percaya diri melanjutkan peternakan ke siklus kedua.

Kini, kandang kembali dipenuhi ayam-ayam yang masih dalam masa pertumbuhan. Memasuki umur 10 hari, bobot ayam telah mencapai sekitar 3,5 ons per ekor dan ditargetkan siap panen dalam waktu 32 hingga 35 hari. Saat dewasa, setiap ekor diperkirakan memiliki bobot rata-rata 2,3 kilogram.

“Alhamdulillah produksi yang pertama hasilnya memuaskan. Untuk siklus kedua sekarang itu sama, 800 lebih ekor,” jelas Gusmanto.

Ayam-ayam tersebut tidak perlu dibawa jauh untuk mencari pembeli. Masyarakat dari empat desa di Kecamatan Lepar menjadi pasar utama BUMDes Tanjung Labu. Bahkan, ketika ayam masih berada di dalam kandang dan belum mencapai usia panen, seluruh produksinya pada siklus kedua telah dipesan warga.

Kondisi menjadi angin segar bagi BUMDes dengan usaha kecil di tengah wilayah kepulauan mulai menjawab kebutuhan pangan dari lingkungannya sendiri.

Warga yang sebelumnya harus membeli ayam dari luar pulau kini memiliki pilihan untuk mendapatkan ayam dari BUMDes desa. Harga yang ditawarkan juga diupayakan tetap terjangkau dibandingkan harga di pasaran.

“Harapan terbesar kami, masyarakat tidak perlu lagi beli ayam di luar, langsung datang ke BUMDes dengan harga terjangkau,” tuturnya.

Harga ayam memang menjadi perhatian BUMDes dalam menjalankan usaha tersebut. Pada panen pertama, ayam dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram, sedangkan saat ini harga mengikuti perkembangan harga ayam di Kota Toboali yang dapat mencapai Rp48 ribu per kilogram.

Kenaikan harga menjadi tantangan tersendiri bagi BUMDes untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus tetap memberikan harga yang terjangkau kepada masyarakat.

Di balik ayam-ayam yang terus tumbuh, terdapat kebutuhan biaya yang tidak sedikit. Pakan menjadi pengeluaran terbesar karena harga satu karung mencapai lebih dari Rp500 ribu.

Sementara satu siklus peternakan membutuhkan sekitar 2,5 ton pakan. Kendati demikian hal tersebut tak menyurutkan pengurus BUMDes karena masih terpenuhi dengan hasil produksi.

Kedepan, BUMDes Maju Bersama Tanjung Labu tidak hanya akan mengembangkan peternakan ayam broiler. Setelah usaha ayam berjalan, BUMDes menargetkan pengembangan budidaya ikan bandeng sebagai usaha berikutnya.

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat memperluas kegiatan ekonomi BUMDes sekaligus memperkuat ketersediaan pangan masyarakat di wilayah kepulauan.

“Setelah ayam broiler, kami ini ada target untuk budidaya ikan bandeng,” kata Gusmanto.

Dapat Pendampingan

Di balik keberhasilan BUMDes Maju Bersama Tanjung Labu memutar usaha ayam broiler, terdapat dukungan program ketahanan pangan yang menjadi modal awal peternakan.

Pendamping Desa Tanjung Labu Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Sahrian mengatakan pemerintah desa mengalokasikan total anggaran Rp178 juta yang digunakan untuk pembangunan kandang, peralatan, bibit, pakan dan kebutuhan pendukung lainnya.

“Dari anggaran tersebut, sekitar Rp37 juta digunakan untuk kebutuhan awal berupa bibit ayam, pakan dan perlengkapan peternakan,” ujar Sahrian.

Menurutnya, pendampingan tersebut diarahkan agar program ketahanan pangan tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi mampu menghasilkan usaha yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Peternakan ayam broiler diharapkan dapat membantu menyediakan kebutuhan pangan sekaligus memberikan pilihan harga yang lebih murah bagi warga. Dengan begitu, perputaran usaha BUMDes dapat terus berjalan dan manfaatnya kembali dirasakan masyarakat desa.

Bagi masyarakat, kehadiran peternakan itu menjadi alternatif untuk memperoleh ayam dari usaha yang tumbuh di lingkungan mereka.

Sementara bagi BUMDes, setiap siklus panen menjadi pengalaman baru untuk memperbaiki pengelolaan usaha, terutama dalam mengendalikan biaya operasional yang cukup tinggi. Pakan menjadi kebutuhan terbesar karena satu siklus peternakan.

“Jadi di sini istilah masyarakat seharusnya dengan harga yang mahal karena di kepulauan, tapi mendapatkan harga yang lebih murah,” pungkasnya.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.