TRIBUNNEWSMAKER.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap alasan dirinya terus mendorong pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.
Menurut Dedi, pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan perbaikan jalan maupun peningkatan akses dan konektivitas antarwilayah.
Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk membuka lapangan pekerjaan sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menanggapi kondisi Jawa Barat yang dinilai telah mengalami perkembangan dari sisi infrastruktur.
Meski demikian, Dedi menyoroti masih tingginya angka pengangguran di Jawa Barat.
Ia menilai peningkatan pembangunan infrastruktur seharusnya dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat, termasuk dalam menciptakan kesempatan kerja.
Baca juga: Demi Sambung Hidup Sarwendah Kembali Live Jualan, Sidang Melawan Ruben Onsu Terus Alami Penundaan
"Banyak yang menyampaikan bahwa di Jawa Barat pembangunan infrastrukturnya sudah lebih baik dibanding dulu. Tetapi angka penganggurannya masih tinggi," ujar Dedi dikutip dari Instagram pribadinya.
Mantan Bupati Purwakarta itu kemudian menjelaskan bahwa proyek pembangunan infrastruktur dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat dari berbagai bidang.
Menurut Dedi, pekerjaan yang muncul dari pembangunan tidak hanya terbatas pada tenaga konstruksi yang berada langsung di lokasi proyek.
Berbagai profesi dan sektor pendukung juga ikut terlibat dalam proses pembangunan tersebut.
Mulai dari pengemudi kendaraan pengangkut material, pekerja proyek, tukang, arsitek, hingga tenaga perencana, semuanya dinilai dapat merasakan dampak dari pembangunan infrastruktur.
"Ini juga melahirkan perputaran ekonomi. Ada sopir, ada kuli, ada tukang, ada arsitek, ada perencana, dan sejenisnya. Kemudian yang kedua, dengan dibangunnya infrastruktur maka investasi akan mudah," kata Dedi.
Bagi Dedi, pembangunan infrastruktur memiliki efek berantai terhadap perekonomian.
Ketika sebuah proyek pembangunan berjalan, kebutuhan terhadap tenaga kerja dan berbagai material ikut meningkat.
Baca juga: Artis Sali Irsalina Diduga Dihajar dan Diinjak-injak hingga Berdarah, Awalnya Hanya Cekcok di Mobil
Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pembangunan.
Tak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, Dedi juga menilai infrastruktur yang memadai dapat menjadi faktor penting dalam menarik investasi ke Jawa Barat.
Menurutnya, investor akan lebih mudah mempertimbangkan suatu wilayah apabila didukung fasilitas dan akses yang memadai.
Jalan yang baik, konektivitas antarwilayah, serta infrastruktur pendukung lainnya dinilai dapat membuat distribusi barang dan mobilitas menjadi lebih mudah.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik.
Dedi berharap pembangunan tersebut dapat memberikan dampak lanjutan berupa terbukanya kesempatan kerja, meningkatnya aktivitas ekonomi, hingga masuknya investasi baru ke Jawa Barat.
Persoalan pengangguran pun menjadi salah satu hal yang ingin dijawab melalui pembangunan yang lebih masif dan terarah.
Dedi menegaskan, pembangunan infrastruktur harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bukan sekadar mengubah kondisi jalan atau mempercantik fasilitas publik.
Dengan adanya pembangunan yang terus berjalan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan perekonomian di Jawa Barat semakin bergerak.
Baca juga: Respons Mengejutkan Dedi Mulyadi Usai Disindir soal Jabar Belum Masuk 10 Besar IPM: Perlu Waktu
Ia menjelaskan, sebelum memutuskan mendirikan usaha, investor biasanya mempertimbangkan sejumlah fasilitas pendukung, seperti akses jalan, pasokan listrik, jaringan telekomunikasi, gas, serta ketersediaan air bersih.
"Karena investasi itu akan datang manakala jalan tolnya baik, listriknya terkoneksi, jaringan telekomunikasinya terkoneksi, jaringan pipa gasnya terkoneksi, jaringan air bersihnya terkoneksi. Nah ini akan menumbuhkan investasi. Dengan adanya investasi maka orang akan bekerja," tutur Dedi.
Meski begitu, peningkatan investasi perlu dibarengi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mengembangkan lembaga pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia industri, sehingga masyarakat di sekitar kawasan investasi memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan.
"Agar industri itu memiliki keberpihakan pada lingkungan karena lingkungannya, para pekerjanya berasal dari lingkungan."
"Dan caranya bersekolah dengan baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, pemerintah menyiapkan sekolah-sekolah yang beradaptasi dengan kebutuhan industri," ucap Dedi.
Di sisi lain, Dedi menyebut kenaikan upah menjadi tantangan bagi industri padat karya. Sebagian industri bisa pindah ke daerah atau negara lain ketika biaya tenaga kerja meningkat.
"Sehingga kenaikan kesejahteraan melalui peningkatan upah seringkali berdampak pada apa? Beberapa industri padat karya pindah."
"Ada yang pindah ke Jawa Tengah, ada yang pindah ke luar negeri, ke Vietnam. Ini juga problem, sehingga kita harus membangun keseimbangan," ujarnya.
Dedi juga menilai tingkat kesejahteraan pekerja tidak semestinya hanya dilihat dari nominal gaji yang diterima.
Menurutnya, pemerintah perlu berupaya mengurangi beban pengeluaran masyarakat dengan memastikan tersedianya pendidikan, air bersih, listrik, serta transportasi umum yang mudah diakses.
Ia menilai, biaya hidup yang lebih terjangkau dapat turut meningkatkan taraf hidup masyarakat, sehingga kesejahteraan tidak semata-mata bergantung pada peningkatan penghasilan.
"Yang menjadi problem adalah meningkatnya pendapatan tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pengeluaran. Ini yang menjadi problem hari ini. Ini juga PR kita bersama yang harus diselesaikan secara bijak dan berpikirnya," pungkas Dedi.
(Tribunnewsmaker.com/Grid.id/Fidiah Nuzul Aini)