Jelang Muktamar ke-35 NU, PWNU Lampung Harap Pelaksanaan Tetap Pakai AD/ART Lama
Noval Andriansyah August 12, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Baca juga: GP Ansor Lampung Siapkan 100 Personel Banser untuk Amankan Muktamar NU

Keputusan tersebut ditetapkan melalui Rapat Gabungan Syuriyah-Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Gedung PBNU. 

Muktamar merupakan forum musyawarah lima tahunan tertinggi NU. 

Forum ini menjadi momentum penting bagi nahdliyin untuk menentukan arah organisasi sekaligus membahas berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan kehidupan umat dan bangsa.

Selain agenda organisasi, Muktamar tahun ini diperkirakan membahas sejumlah isu strategis yang relevan dengan perkembangan zaman. 

Di antaranya, penguatan fikih ekologi dalam menghadapi krisis iklim, etika digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan peran Islam Nusantara dalam percaturan global.

Isu lingkungan menjadi satu di antara perhatian, karena perubahan iklim memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Muktamar ke-35 NU juga akan menjadi panggung penting dalam bursa kepemimpinan PBNU. 

Sejumlah nama dan aspirasi mulai muncul dari berbagai kalangan internal nahdliyin menjelang forum lima tahunan tersebut.

Adapun tema resmi Muktamar ke-35 NU tahun 2026 adalah "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa"

Untuk mengetahui kesiapan jelang Muktamar ke-35 NU, Tribunlampung.co.id membahasnya bersama Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung Puji Rahardjo, yang dipandu Editor in Chief Tribun Lampung, Ridwan Hardiansyah, di studio Tribun Lampung, Senin (10/8/2026).

Pertanyaan: Bagaimana persiapan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung menuju Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung di Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026?

Puji Rahardjo: Kalau dari sisi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, untuk persiapan Muktamar 2026 yang akan dilaksanakan akhir Agustus ini, kami tentu mempersiapkan terkait siapa pesertanya.

Alhamdulillah, Lampung menjadi satu di antara provinsi yang seluruh cabangnya aktif, kemudian pengurus wilayahnya juga aktif. Sehingga dari Lampung nanti akan memberangkatkan 15 pengurus cabang dan satu pengurus wilayah. Ini merupakan formasi lengkap dari Lampung dan alhamdulillah sudah selesai kami persiapkan.

Tentu kami juga mempersiapkan bahan-bahan muktamar, utamanya terkait dengan arah organisasi ke depan memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.

Pertanyaan: Muktamar ke-35 mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa". Apa makna yang terkandung dalam tema tersebut?

Puji Rahardjo: Karena hari ini memang Nahdlatul Ulama sedang diuji. Dinamika di Nahdlatul Ulama dalam satu tahun terakhir tentu sudah menjadi konsumsi publik yang luar biasa.

Oleh karena itu, melalui Muktamar ini kami ingin memperkuat kembali marwah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keulamaan yang menjadi panutan umat Islam di Indonesia.

Secara historis, NU sudah sangat banyak menghadapi tantangan perubahan, mulai zaman praproklamasi kemerdekaan, masa perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai Reformasi. NU terus menjadi garda terdepan untuk mendorong kemaslahatan dan mewujudkan cita-cita negara bangsa Republik Indonesia.

Marwah inilah yang akan kami bawa. Sehingga Muktamar diharapkan dapat mengakhiri hiruk-pikuk di Nahdlatul Ulama selama satu tahun terakhir dan menuju tatanan baru, di mana NU ke depan akan fokus mempersiapkan diri memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.

Pertanyaan: Apa saja tantangan yang dihadapi NU dalam memasuki abad kedua, mengingat setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda?

Puji Rahardjo: Abad kedua ini adalah era ketika dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Yang paling penting dalam menghadapi perubahan tersebut adalah bagaimana mempersiapkan generasi NU.

Jangan sampai generasi muda NU tercabut dari akar peradaban dan akar budayanya. Oleh karena itu, pembinaan karakter dan penguatan Aswaja kepada generasi muda harus dilakukan secara kuat.

Kita melihat misalnya di tingkat TK, sekolah dasar, maupun madrasah, pemahaman mereka tentang sejarah bangsa, apalagi sejarah Nahdlatul Ulama, sekarang cukup jauh.

Oleh karena itu, perjuangan NU ke depan adalah bagaimana mengembalikan karakter tersebut. Karena keunggulan kita dibanding bangsa-bangsa lain, termasuk cara kita bertahan di era global dan era disrupsi, adalah dengan kembali kepada jati diri bangsa kita.

Pertanyaan: Berarti karakter anak muda saat ini menjadi satu di antara isu besar yang dihadapi NU. Kemudian, satu di antara agenda Muktamar adalah pemilihan Ketua Umum. Sejumlah nama kandidat juga sudah bermunculan. Bagaimana NU melihat dinamika tersebut?

Puji Rahardjo: Sebenarnya pemilihan Ketua Umum itu hanya satu dari sekian banyak agenda Muktamar, bukan satu-satunya. Fokus utamanya adalah bagaimana merumuskan arah NU ke depan.

Soal Ketua Umum, di NU ada dua struktur atau dua kamar, yaitu Syuriyah dan Tanfidziyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berada di struktur Tanfidziyah. Di atasnya ada Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Jadi, sosok Rais 'Aam dan Ketua Umum memang sekarang sedang menjadi perdebatan. Tetapi sebelum membicarakan Ketua Umum, kita juga harus membicarakan Rais 'Aam.

Pertanyaan: Bagaimana mekanisme pemilihan Rais 'Aam dan kemudian Ketua Umum?

Puji Rahardjo: Rais 'Aam itu domainnya berada di Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA. Saat ini kami bersama pengurus cabang dan pengurus wilayah sedang mendiskusikan siapa kira-kira ulama yang ada di Indonesia, khususnya ulama NU, yang akan diajukan.

Masing-masing berhak mengajukan sembilan nama calon AHWA. Nanti sembilan orang dengan suara terbanyak itulah yang akan menentukan siapa Rais 'Aam.

Setelah Rais 'Aam terpilih, kemudian dilakukan pemilihan Ketua Umum. Masing-masing cabang dan wilayah akan memiliki hak suara untuk menentukan Ketua Umum.

Memang sekarang yang ramai adalah calon Ketua Umum. Tentu semua Ketua Umum yang sedang mencalonkan diri mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Pertanyaan: Saat ini muncul isu mengenai petahana yang ingin kembali maju dan Menteri Agama yang disebut ingin maju tetapi terkendala AD/ART. Sebenarnya bagaimana aturan untuk menjadi Ketua Umum PBNU?

Puji Rahardjo: Saat ini mekanisme pemilihan Ketua Umum dalam Muktamar Tambakberas yang akan berlangsung akhir Agustus masih menggunakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dari Muktamar NU Lampung 2021.

Sekarang yang menjadi perdebatan adalah apakah tata cara Muktamar akan diubah atau tetap menggunakan aturan yang dipakai pada Muktamar Lampung.

Namun, secara tradisional di Nahdlatul Ulama, keputusan yang diputuskan dalam satu Muktamar biasanya berlaku pada Muktamar berikutnya, terutama terkait mekanisme pemilihan.

Menurut kami di Lampung, mekanisme pemilihan tetap menggunakan AD/ART yang lama.

Dalam aturan tersebut memang ada beberapa calon yang terhambat. Misalnya Menteri Agama terhambat masalah rangkap jabatan politik. Kemudian ada Kiai Yusuf Chudlori yang masih dalam masa iddah politik. Artinya, beliau pernah aktif di partai dan sekarang belum satu tahun mundur dari partai.

Ada juga kandidat lain yang terhambat karena pernah diberhentikan dari Nahdlatul Ulama. Sementara ada calon yang tidak terikat dengan persoalan tersebut, seperti Kiai Zulfa Mustofa dan Kiai Abdul Hakim Mahfudz.

Pertanyaan: Kalau AD/ART bisa diubah sebelum pemilihan, berarti masih ada kemungkinan aturan tersebut berubah?

Puji Rahardjo: Ya, itu bisa terjadi. Tetapi menurut hemat kami, ketika perubahan AD/ART dilakukan sebelum Muktamar untuk kemudian digunakan pada saat Muktamar itu juga, akan terlihat seolah-olah perubahan tersebut dilakukan untuk melancarkan calon-calon tertentu, bukan untuk kemaslahatan organisasi.

Kami ingin organisasi diarahkan pada tata kelola yang berorientasi pada pertimbangan yang matang. Bukan karena ada seseorang yang ingin mencalonkan diri, kemudian dicarikan aturan yang cocok supaya orang tersebut bisa masuk.

Perubahan aturan seharusnya untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, bukan untuk kepentingan calon tertentu. Itu yang kami hindari.

Pertanyaan: PBNU sudah merilis daftar peserta sementara Muktamar, sekitar 500 peserta. Dari Lampung ada 15 pengurus cabang dan satu pengurus wilayah. Apakah dinamika perubahan AD/ART akan berpengaruh terhadap jumlah peserta atau mekanisme pemungutan suara?

Puji Rahardjo: Tidak. Jumlah peserta yang sudah dirilis PBNU itu sudah final, dalam arti daftar sementaranya sudah ditetapkan.

Selanjutnya tinggal mekanisme permusyawaratan melalui pleno dan komisi, termasuk jika ada pembahasan mengenai perubahan AD/ART dan kapan perubahan tersebut berlaku.

Menurut kami, PWNU Lampung dan PCNU di Lampung ingin Muktamar berlangsung damai, tenang dan anteng. Oleh karena itu, untuk mengatasi kegaduhan, lebih baik kita menggunakan aturan lama untuk Muktamar sekarang.

Kalau memang ada perubahan, sebaiknya perubahan tersebut diberlakukan untuk Muktamar berikutnya.

Pertanyaan: Kalau berkaca pada Muktamar 2021 di Lampung yang berlangsung cukup sengit hingga tengah malam bahkan sampai pagi, apakah kondisi seperti itu memang biasa terjadi dalam Muktamar NU?

Puji Rahardjo: Ya, itulah Nahdlatul Ulama. Musyawarah seperti itu memang biasa terjadi. Kalau kita bermusyawarah bisa sampai tengah malam, bahkan seperti di Lampung kemarin sampai pagi.

Di Muktamar Jombang juga tidak mustahil hal seperti itu terjadi.

Namun, terkait dinamika yang ada, saya kira tergantung nanti kepada para muktamirin. Kami ingin sebelum Muktamar, sampai 27 Agustus, semuanya semakin mengkristal sehingga permusyawaratan nanti berlangsung damai dan mulus.

Sekarang kami mencoba menjajaki dan mencari titik temu. Kami berdiskusi di antara PCNU dan PWNU, termasuk melalui ruang media sosial, untuk mencari kesepakatan. Sehingga ketika semuanya sudah datang di arena Muktamar, tingkat perbedaannya tidak terlalu besar.

Pertanyaan: Berarti saat ini sudah ada semacam persiapan atau "pemanasan" sebelum Muktamar?

Puji Rahardjo: Ya, sekarang memang pemanasan sebelum Muktamar. Tujuannya agar pelaksanaan Muktamar lebih soft.

Karena ini tentu akan menjadi etalase umat Islam Indonesia dan etalase Nahdlatul Ulama. Apalagi sekarang berada di era digital. Kami ingin Muktamar ini menjadi uswah hasanah atau contoh yang baik di ruang publik.

Karena ini menyangkut marwah Nahdlatul Ulama.

Pertanyaan: Dari Lampung sendiri, apakah ada persiapan khusus dan harapan untuk pelaksanaan Muktamar?

Puji Rahardjo: Persiapan kami alhamdulillah berjalan. Kami bersama PWNU dan PCNU setiap saat berkoordinasi, bertemu dan melakukan rapat, baik secara offline maupun online, untuk menyamakan langkah dan memberikan masukan bahan Muktamar.

Bahkan dalam persoalan keagamaan, misalnya Bahtsul Masail, NU Lampung sangat kontributif. Kami memiliki banyak ulama dan ahli yang memang khusus menangani berbagai problem keagamaan yang perlu dibawa ke Muktamar, yang nantinya diharapkan menjadi solusi bagi kehidupan beragama di Tanah Air.

Pertanyaan: Bagaimana persiapan dukungan untuk Pengurus Syuriyah, khususnya dalam proses AHWA?

Puji Rahardjo: Ini masih dalam tahap proses dan diskusi. Untuk AHWA atau Rais 'Aam, setiap cabang memiliki kesempatan untuk mengajukan sembilan nama.

Saat ini kami sedang menjaring nama dari masing-masing cabang. Mungkin seluruh cabang di Lampung akan memiliki beberapa nama yang sama, tetapi kemungkinan ada satu atau dua nama yang berbeda. Itu karena kami ingin mengakomodasi preferensi dari masing-masing cabang.

Pertanyaan: Apakah ada tokoh dari Lampung yang dicalonkan untuk AHWA atau Rais 'Aam?

Puji Rahardjo: Kalau dari Lampung, secara sosiologis kita lebih dekat dengan Pulau Jawa. Kiai-kiai dan tokoh-tokoh NU di Lampung memiliki afiliasi dengan pesantren-pesantren besar di Jawa.

Jadi, Lampung ini seperti miniatur Pulau Jawa yang ada di sini. Ketika pesantren-pesantren besar di Jawa sudah mencalonkan tokoh tertentu, biasanya tidak mungkin Lampung akan mengajukan calon yang berbeda.

Karena itu, pergerakan Lampung lebih banyak mengikuti dinamika yang berkembang di Pulau Jawa.

Pertanyaan: Bagaimana perkembangan NU Lampung di bawah kepemimpinan Mas Puji sampai saat ini?

Puji Rahardjo: Saya tentu bersyukur NU Lampung belakangan ini cukup aktif, terutama terkait kegiatan pengkaderan.

PDPKPNU, PKPNU dan PMKNU secara berkala diadakan sebagai bagian dari pengkaderan. Ini menjadi modal dasar bagi organisasi untuk bergerak.

Di samping itu, badan otonom dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama juga aktif. Misalnya LAZISNU, salah satu lembaga amil zakat di lingkungan NU yang cukup maju di Indonesia. LAZISNU di Kabupaten Pringsewu dan Kota Metro menjadi percontohan di tingkat nasional. Itu menjadi salah satu keunggulan kita.

Kemudian di bidang pendidikan, NU Lampung saat ini sudah memiliki tiga perguruan tinggi NU yang pertumbuhannya cukup bagus. Ada Universitas Ma'arif NU Lampung di Metro, Universitas Nahdlatul Ulama di Lampung Timur, dan Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama di Bandar Lampung.

Ketiga institusi perguruan tinggi tersebut menurut kami tumbuh dan berkembang di era kepengurusan NU sekarang.

Bahkan Universitas Ma'arif NU Lampung sekarang sudah membuka program studi S3 Studi Islam. Itu mungkin salah satu keunggulan yang kita miliki di Lampung.

Di samping itu, kami juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan ekonomi di lingkungan Nahdlatul Ulama yang bergerak dari pesantren-pesantren. Itu yang sekarang terus kami proses di Provinsi Lampung.

Pertanyaan: Menjelang Muktamar ke-35, bagaimana harapan warga NU Lampung terhadap pelaksanaan Muktamar?

Puji Rahardjo: Tentu masyarakat dan warga NU Lampung menunggu hasil Muktamar ke-35 di Tambakberas.

Kita sudah cukup lama berada dalam fase di mana kita seperti terombang-ambing. Muktamar ke-35 ini diharapkan menjadi pintu masuk yang baik dan menjadi awal bagaimana NU di 100 tahun kedua bergerak, bertumbuh dan berkontribusi bagi pemberdayaan masyarakat, pembangunan dan kesejahteraan.

Satu di antara misi didirikannya Nahdlatul Ulama adalah untuk kesejahteraan. Kaum fuqara, masakin, orang yang tidak mampu, kemudian para pedagang, semuanya diajak oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari untuk bergabung dan bersama-sama bangkit.

Karena kemaslahatan umat menjadi bagian dari tujuan besar Nahdlatul Ulama.

Demikian, wawancara khusus dengan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung, Puji Rahardjo, terkait persiapan jelang Muktamar ke-35 NU di Jawa Timur.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.