TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - "Jadi yang pertama saya cari pada waktu itu orang tua saya, karena ibu saya juga sedang menonton." kalimat itu disampaikan Ari Pratama Umar saat mengenang tragedi drag race di Kotamobagu, yang terjadi pada Minggu (9/8/2026).
Ari bertemu Tribun Manado pada Selasa 11 Agustus 2026, tak jauh dari TKP yang berada di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara.
Ari merupakan salah satu warga yang menyaksikan langsung detik-detik Honda Jazz yang dikendarai Tian Ngantung menabrak belasan penonton.
Tragedi tersebut menyebabkan delapan orang meninggal dunia.
Baca juga: Lolos dari Maut Drag Race Kotamobagu, Bocah 3 Tahun Ditemukan di Selokan Tepat di Bawah Mobil Balap
Sejumlah penonton lainnya mengalami luka-luka, mulai dari patah kaki, cedera rusuk hingga luka pada bagian kepala.
Saat kejadian, Ari mengaku sedang menonton turnamen drag race sambil berjualan di dekat rumahnya.
Ia mengatakan sudah sering menyaksikan turnamen drag race. Namun, ia tidak menyangka perlombaan pada Minggu itu berubah menjadi tragedi.
"Usai kejadian saya belum berani mendekat, karena takutnya mobil tersebut meledak. Karena sempat mengeluarkan asap," ujar Ari saat ditemui Tribun Manado di Kelurahan Upai, Kota Kotamobagu, Selasa (11/8/2026) siang.
Ari kemudian menceritakan detik-detik sebelum mobil tersebut menghantam para penonton.
Menurutnya, Honda Jazz itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga mencapai garis finis.
"Usai Honda Jazz tersebut sampai finis, pihak pengamanan di lokasi sudah memberikan kode agar pengendara menurunkan laju kendaraannya," tuturnya.
Ari menjelaskan, petugas kepolisian memberikan isyarat dengan melambaikan tangan ke arah bawah agar pengemudi segera mengurangi kecepatan.
"Terlihat memang kecepatan agak melambat, tapi tak berapa lama tiba-tiba mobil tersebut ngedrift," katanya.
Mobil tersebut kemudian menghantam kerumunan penonton.
"Kalau saya tidak salah ingat waktu itu ada teman namanya Tono, dia berhasil menghindar karena langsung memeluk tiang listrik," ujar Ari.
Setelah itu, mobil menyambar seorang remaja, tiga ibu dan seorang bapak. Gerobak bakso yang berada di sekitar lokasi juga ikut tersambar.
Suasana seketika berubah menjadi kepanikan. Teriakan histeris terdengar dari para penonton di sepanjang lintasan.
"Teriakan bukan hanya di lokasi, bahkan sampai sepanjang lintasan semua berteriak, terlebih penonton perempuan," kata Ari.
Ia melihat sejumlah korban tergeletak di dalam got. Sebagian korban lainnya berada di bawah pondok.
Di tengah kepanikan tersebut, Ari langsung mencari ibunya yang saat itu juga disebut sedang menonton.
"Ternyata ibu saya sedang di rumah, tidak ada di sana," ungkapnya.
Setelah memastikan ibunya selamat, Ari menyaksikan proses evakuasi para korban.
Menurut Ari, anggota Brimob yang berjaga di lokasi sempat meminta agar ambulans segera dipanggil.
"Saat evakuasi itu, anggota Brimob yang berjaga di lokasi sempat berteriak agar segera dipanggil ambulans," katanya.
Namun, ambulans tidak langsung tiba. Ari menyebut kendaraan tersebut sempat terhambat kerumunan warga dan kemacetan di sekitar lokasi.
Beberapa menit kemudian, ambulans tiba dan langsung digunakan untuk membawa korban ke rumah sakit.
Kendaraan milik Brimob dan satu kendaraan lainnya turut membantu proses evakuasi.
"Jadi total waktu itu ada tiga mobil," ujar Ari.
Menurut ingatannya, ambulans tersebut dua kali bolak-balik mengantarkan para korban ke rumah sakit terdekat.
"Seingat saya ambulans itu dua kali bolak-balik antar para korban ke rumah sakit terdekat," pungkasnya.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini