TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Satreskrim Polresta Padang sudah melakukan sejumlah pemeriksaan terhadap pihak, terkait dugaan kasus perundungan di SMA 2 Pertiwi Padang.
Hal ini disampaikan oleh Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Rabu (12/8/2026).
Kata dia, pihaknya sudah melakukan upaya intervensi terhadap pihak-pihak terkait, hingga pemeriksaan psikologis forensik korban.
"Kita sudah melakukan intervensi ke pihak terkait dan pemeriksaan psikologis forensik, jadi kita tunggu hasilnya," ucapnya.
Baca juga: Siswi SMA di Padang Ngaku Ditampar Oknum Guru dan Dibully, Sekolah Langsung Beri Bantahan Tegas
Saat ditanya apakah ada pendampingan terhadap korban, Kompol Muhammad Yasin menyebut sudah ditangani oleh tim perlindungan anak Satreskrim Polresta Padang.
Terkait berapa lama waktu yang digunakan saat melakukan pemeriksaan psikologis forensik, ia menyebut bahwa tergantung intervensi antara psikiater dengan korban.
"Sampai saat ini masih kita lakukan pemeriksaan secara psikologis. Kita masih tunggu hasilnya," pungkas Kasat Reskrim Polresta Padang.
Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, mengatakan pihaknya saat ini masih dalam tahap awal penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak.
“Laporan sudah kami terima. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari beberapa pihak,” ujarnya, Kamis (9/6/2026).
Menurutnya, kepolisian akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk dari lingkungan sekolah, guna mendalami dugaan peristiwa tersebut.
Baca juga: Polres Lima Puluh Kota Sita 620 Liter Solar di Mobil Xpander, Polisi: Modusnya Melansir dari SPBU
“Kami akan lakukan pemanggilan terhadap pihak sekolah maupun pihak lain yang berkaitan untuk memastikan kronologi kejadian,” katanya.
Yasin menambahkan, proses penyelidikan masih berjalan sehingga pihaknya belum dapat merinci jumlah saksi yang telah diperiksa. Ia memastikan perkembangan kasus akan disampaikan secara berkala.
Selain itu, polisi juga memperhatikan kondisi korban yang saat ini dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan.
“Dari informasi yang kami terima, korban sedang dalam penanganan dan pemeriksaan, termasuk secara kesehatan,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan perkara ini akan mengacu pada sistem peradilan anak, mengingat pihak-pihak yang terlibat masih berusia di bawah umur.
“Baik korban maupun terduga pelaku yang masih anak-anak akan ditangani sesuai dengan ketentuan sistem peradilan anak,” tegasnya.
Sementara itu, keluarga korban sebelumnya telah mendatangi Polresta Padang untuk menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sebagai bagian dari proses penyelidikan yang tengah berlangsung.
Pantauan TribunPadang.com, Kamis (9/6/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, ibu korban, Muswan Tiara (37), datang ke Polresta Padang bersama dua orang kerabatnya. Mereka tampak menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Proses pemeriksaan berlangsung hingga siang hari dan sempat dihentikan sementara sekitar pukul 13.00 WIB untuk istirahat. Informasi yang dihimpun menyebutkan, laporan sebenarnya telah dilayangkan beberapa hari sebelumnya, namun pemeriksaan baru dilakukan pada hari tersebut.
Baca juga: Siswa SMP Pembangunan Laboratorium UNP Ubah Sampah Jadi Cuan lewat Green School Entrepreneurship
Tiara menegaskan, keputusan melaporkan kasus ini ke polisi telah melalui pertimbangan matang, bukan didasari emosi semata.
“Saya sudah dimintai keterangan terkait apa yang menimpa anak saya. Pertanyaan yang diajukan seputar kondisi anak dan interaksinya dengan teman-temannya,” ujarnya.
Ia menyebut, sebelum melapor, pihak keluarga telah mengumpulkan berbagai bukti dan berdiskusi dengan keluarga besar.
“Bukti yang kami bawa di antaranya percakapan anak saya dengan para pelaku yang sudah disimpan dalam bentuk tangkapan layar di ponsel,” tambahnya.
Tiara juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak sekolah yang sebelumnya menawarkan penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh keluarga.
“Saya tidak menerima jika diselesaikan secara kekeluargaan. Saat anak saya mengalami hal itu, pihak sekolah sempat menyatakan tidak ada masalah. Tapi ketika kami datang meminta penjelasan, justru diminta berdamai,” katanya.
Baca juga: DPRD Padang Soroti Dugaan Bullying di Balik Kasus Ledakan di MAN 3, Minta Peran Guru BK Diperkuat
Menurutnya, dugaan perundungan yang dialami anaknya tidak hanya berupa tekanan verbal, tetapi juga disertai ancaman menggunakan senjata tajam.
“Anak saya bahkan diancam dengan kapak. Kejadian itu membuat mentalnya terganggu hingga ketakutan saat bertemu orang baru,” ungkap Tiara.
Ia berharap proses hukum dapat memberikan keadilan serta memulihkan kondisi anaknya.
“Saya ingin anak saya kembali seperti dulu,” tuturnya.
Video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat (Sumbar) viral di media sosial dan memicu perhatian publik. Dalam video tersebut, terlihat pihak sekolah, orang tua korban, serta empat siswa yang diduga terlibat.
Keluarga korban tampak emosional saat menyampaikan kondisi anaknya yang disebut mengalami gangguan psikis akibat dugaan perundungan.
Informasi yang beredar menyebutkan korban saat ini tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang.
Menanggapi hal itu, Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, menyatakan pihak sekolah belum dapat membenarkan tudingan perundungan tersebut dan masih melakukan penelusuran.
“Kami tidak serta-merta menerima tuduhan itu. Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Melihat Batu Busuk Padang 8 Bulan Pascabanjir Bandang: Denyut Kehidupan di Antara Puing Bencana
Ia menjelaskan, peristiwa dalam video bermula saat pihak keluarga datang ke sekolah dalam kondisi emosi, sehingga terjadi perdebatan yang kemudian direkam dan beredar di media sosial.
“Kami sempat menyarankan agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan, namun belum ada kesepakatan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Pertiwi 2 Padang, Desi Nofita Sari, mengatakan pihak sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak.
“Kami memiliki empati besar, baik kepada siswa yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Saat ini kami masih dalam tahap penelusuran fakta secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah telah mengambil sejumlah langkah, di antaranya menghubungi keluarga korban, mendatangi siswa terkait, serta berdiskusi dengan orang tua dari siswa yang disebut terlibat.
Baca juga: Viral Warga Protes Soal Bantuan Banjir di Gunung Sarik Padang, Camat: Akan Ada Bantuan Lanjutan
“Kami tidak diam. Semua pihak kami hubungi dan kami lakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian ini,” katanya.
Terkait dugaan perundungan, Desi menyebut pihak sekolah belum dapat memastikan kebenarannya karena proses penelusuran masih berlangsung.
“Informasi yang ada saat ini belum lengkap. Kami tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu sisi saja. Semua pihak harus menyampaikan fakta secara adil,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan pihak sekolah, korban dikenal sebagai siswa yang cenderung pendiam dan kurang berinteraksi dengan teman-temannya.
“Korban ini anaknya pendiam. Sementara teman-temannya lebih periang. Bisa jadi ada perbedaan cara menerima candaan,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan hal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya perundungan.
Pihak sekolah juga telah meminta keterangan dari empat siswa yang disebut sebagai pelaku.
Menurut Desi, para siswa tersebut mengaku tidak memahami tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.
“Mereka mengaku hanya bercanda seperti biasa dan tidak merasa melakukan perundungan,” ujarnya.
Baca juga: FKIP UT dan Tiga Fakultas UNP Tandatangani MoA, Perkuat Kolaborasi Pendidikan
Saat ini, kondisi korban masih dalam tahap observasi di rumah sakit dan belum dapat ditemui.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan penelusuran mendalam guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menegaskan komitmen untuk menangani kasus ini secara adil.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.
Pernyataan itu disampaikan menyusul viralnya video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang dan menjadi perhatian publik.
“Tidak ada toleransi untuk perundungan di sekolah. Kami akan memantau kasus ini melalui mekanisme yang ada,” ujar Habibul Fuadi saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari pihak sekolah, kemudian dilanjutkan oleh pengawas satuan pendidikan guna memastikan penyelesaian berjalan objektif dan kejadian serupa tidak terulang.
“Ada mekanisme berjenjang. Sekolah terlebih dahulu melakukan penanganan, lalu diawasi oleh pengawas satuan pendidikan. Ini penting agar pembinaan berjalan maksimal,” katanya.
Menurutnya, peran guru dalam mendidik siswa sangat kompleks, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan.
“Namanya mendidik tidak bisa sekali jadi. Orang dewasa saja masih banyak yang melakukan kesalahan, apalagi anak-anak. Di sinilah peran guru sangat berat,” ujarnya.
Baca juga: Apa Itu Fenomena Haze? Pemicu Udara Berasap dan Kabur di Kota Padang
Habibul menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan di seluruh sekolah di Sumbar agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Kami minta seluruh kepala sekolah meningkatkan pembinaan kepada siswa. Perundungan tidak boleh terjadi di mana pun karena dampaknya merugikan semua pihak,” tegasnya.
Sementara itu, terkait video yang beredar, pihak SMA Pertiwi 2 Padang menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran dugaan perundungan tersebut.
Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya perundungan dan masih mengumpulkan fakta dari berbagai pihak.
“Kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah, Desi Nofita Sari. Ia menegaskan sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak, baik yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku.
Saat ini, korban dikabarkan tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang dan belum dapat ditemui.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menangani persoalan tersebut secara adil.(*)