Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 yang diinisiasi oleh Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) resmi digelar untuk memperkuat peran ilmu kemanusiaan di tanah air.
Melalui forum bersejarah ini, para akademisi sepakat membentuk wadah perjuangan baru bernama Guru Besar Humaniora Indonesia (GBHI) agar suara disiplin keilmuan ini terdengar lebih lantang.
Guru Besar FIB UI, Prof Cecep Eka Permana, menegaskan pentingnya konsolidasi ini karena selama ini para pakar humaniora cenderung bersuara secara terpisah di kampusnya masing-masing.
Baca juga: Temu Akbar GBUI 2026, Ratusan Guru Besar UI Bersatu Kawal Kebijakan Nasional dari MBG hingga URI
"Satu yang kami usulkan dari hasil rumusannya adalah karena selama ini Guru Besar Humaniora berdiri sendiri-sendiri, jadi gaungnya kurang kuat di tengah prioritas kebijakan pemerintah pada STEM," ujar Cecep, Rabu (12/8/2026) malam.
Forum strategis ini melahirkan tiga rekomendasi utama, termasuk naskah strategi kebudayaan yang ditujukan langsung kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Selain merumuskan arah kebijakan kebudayaan nasional, simposium ini juga menegaskan kembali posisi tawar humaniora di tengah derasnya arus pengembangan keilmuan berbasis sains dan teknologi.
Para pakar menilai bahwa kajian humaniora memiliki keunggulan fundamental yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kemajuan Artificial Intelligence (AI) maupun STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)
"Humaniora berkaitan jelas dengan manusia dalam berbagai aspek seperti perasaan, harapan, dan akal budi yang tidak bisa terekam di bidang STEM," tegas Cecep.
Meskipun menekankan batas eksplisit antara mesin dan akal budi manusia, para akademisi menegaskan bahwa disiplin ilmu budaya sama sekali tidak menolak keberadaan teknologi modern.
FIB UI bahkan telah mengantisipasi lompatan zaman ini secara konkret melalui pengembangan kurikulum berbasis Humaniora Digital.
Guru Besar FIB UI, Prof Tuty Nur Mutia, menjelaskan bahwa esensi utama dari pertemuan nasional ini adalah mendorong pemanfaatan teknologi tanpa mereduksi nilai-nilai luhur kemanusiaan.
"Maksud kegiatan ini pada intinya adalah ingin mendorong agar humaniora bisa memanfaatkan teknologi itu tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan," kata Tuty.
Pemanfaatan teknologi dalam riset humaniora kini telah diwujudkan secara nyata, seperti digitalisasi naskah kuno, aplikasi alih aksara, hingga kompilasi kamus digital yang interaktif.
Melalui pendekatan inovatif tersebut, disiplin humaniora dibuktikan sanggup terus beradaptasi sekaligus melatih daya pikir kritis dan kreativitas manusia di era kecerdasan buatan.
"Kami tidak ada kekhawatiran terhadap perkembangan AI karena kemampuan adaptasi adalah bagian utama yang diajarkan oleh ilmu humaniora," tutup Tuty. (m38)