Bukan Tandingi STEM, Para Pakar Bersatu Gaungkan Humaniora Digital dan Bentuk GBHI
Hironimus Rama August 13, 2026 12:15 PM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - ​Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 yang diinisiasi oleh Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) resmi digelar untuk memperkuat peran ilmu kemanusiaan di tanah air.

​Melalui forum bersejarah ini, para akademisi sepakat membentuk wadah perjuangan baru bernama Guru Besar Humaniora Indonesia (GBHI) agar suara disiplin keilmuan ini terdengar lebih lantang.

​Guru Besar FIB UI, Prof Cecep Eka Permana, menegaskan pentingnya konsolidasi ini karena selama ini para pakar humaniora cenderung bersuara secara terpisah di kampusnya masing-masing.

Baca juga: Temu Akbar GBUI 2026, Ratusan Guru Besar UI Bersatu Kawal Kebijakan Nasional dari MBG hingga URI 

​"Satu yang kami usulkan dari hasil rumusannya adalah karena selama ini Guru Besar Humaniora berdiri sendiri-sendiri, jadi gaungnya kurang kuat di tengah prioritas kebijakan pemerintah pada STEM," ujar Cecep, Rabu (12/8/2026) malam.

​Forum strategis ini melahirkan tiga rekomendasi utama, termasuk naskah strategi kebudayaan yang ditujukan langsung kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

​Selain merumuskan arah kebijakan kebudayaan nasional, simposium ini juga menegaskan kembali posisi tawar humaniora di tengah derasnya arus pengembangan keilmuan berbasis sains dan teknologi.

​Para pakar menilai bahwa kajian humaniora memiliki keunggulan fundamental yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kemajuan Artificial Intelligence (AI) maupun STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)

​"Humaniora berkaitan jelas dengan manusia dalam berbagai aspek seperti perasaan, harapan, dan akal budi yang tidak bisa terekam di bidang STEM," tegas Cecep.

​Meskipun menekankan batas eksplisit antara mesin dan akal budi manusia, para akademisi menegaskan bahwa disiplin ilmu budaya sama sekali tidak menolak keberadaan teknologi modern.

​FIB UI bahkan telah mengantisipasi lompatan zaman ini secara konkret melalui pengembangan kurikulum berbasis Humaniora Digital.

​Guru Besar FIB UI, Prof Tuty Nur Mutia, menjelaskan bahwa esensi utama dari pertemuan nasional ini adalah mendorong pemanfaatan teknologi tanpa mereduksi nilai-nilai luhur kemanusiaan.

​"Maksud kegiatan ini pada intinya adalah ingin mendorong agar humaniora bisa memanfaatkan teknologi itu tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan," kata Tuty.

​Pemanfaatan teknologi dalam riset humaniora kini telah diwujudkan secara nyata, seperti digitalisasi naskah kuno, aplikasi alih aksara, hingga kompilasi kamus digital yang interaktif.

​Melalui pendekatan inovatif tersebut, disiplin humaniora dibuktikan sanggup terus beradaptasi sekaligus melatih daya pikir kritis dan kreativitas manusia di era kecerdasan buatan.

​"Kami tidak ada kekhawatiran terhadap perkembangan AI karena kemampuan adaptasi adalah bagian utama yang diajarkan oleh ilmu humaniora," tutup Tuty. (m38)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.