Alumnus Politeknik Pariwisata Makassar Junaedi Ceritakan Sulitnya Cari Kerja Meski Sudah Sarjana
Muh Hasim Arfah August 13, 2026 05:09 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Kemerdekaan Indonesia akan memasuki usia ke-81 pada 17 Agustus 2026.

Namun, bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan belum sepenuhnya terasa dalam bentuk pekerjaan yang layak dan sesuai pendidikan.

Junaedi (46) menjadi salah satu gambaran persoalan tersebut.

Pria asal Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu merupakan lulusan D3 Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar, yang kini menjadi Politeknik Pariwisata Makassar.

Ia mengambil jurusan Kepariwisataan dan menyelesaikan pendidikan pada 2002.

Junaedi kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Pelita Buana dan lulus pada 2011.

Baca juga: Ashari Fakhsirie Radjamilo dan Junaedi Mundur, Kini Ada 15 Jabatan Lowong di Pemprov Sulsel

Namun, ijazah dan gelar yang dimilikinya belum membuat perjalanan kariernya berjalan mulus.

Kini, Junaedi justru mengais rezeki sebagai pengemudi ojek online di Kota Belopa.

Setiap pagi, ia meninggalkan rumah untuk mencari penumpang hingga pesanan makanan.

Rutinitas itu dijalaninya sejak pukul 07.00 Wita hingga sekitar pukul 22.00 Wita malam.

Lebih dari 12 jam waktunya dihabiskan di atas kendaraan.

Wilayah operasionalnya berada di sekitar Kota Belopa.

Sesekali ia mengantar penumpang hingga Kecamatan Larompong.

Bukan pekerjaan yang sejak awal ia cita-citakan.

Saat memilih jurusan pariwisata, Junaedi mengaku melihat peluang kerja terbuka lebar.

Kala itu, ia berharap setelah menyelesaikan pendidikan dapat langsung bekerja di hotel atau perusahaan yang membutuhkan tenaga di bidang pariwisata.

"Saya pilih pariwisata karena waktu tahun itu pekerjaannya terbuka lebar. Jadi setelah lulus harapannya bisa langsung masuk hotel atau perusahaan," kata Junaedi yang ditemui di pelataran Masjid Agung Belopa, Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 13.00 Wita siang.

Harapan itu ternyata tidak langsung terwujud.

Setelah lulus, ia sempat menjalankan usaha sendiri.

Lima tahun kemudian, barulah ia mendapat kesempatan bekerja di industri perhotelan.

Junaedi pernah bekerja sekitar dua tahun di Hotel Sedona Makassar, yang kini menjadi Hotel Aryaduta Makassar.

Namun, pekerjaan itu tidak bertahan lama.

Ia kembali harus mencari pekerjaan.

Belasan lamaran pernah dikirimkannya.

Tidak hanya menyasar hotel, tetapi juga pekerjaan yang masih memiliki keterkaitan dengan latar belakang pendidikannya.

Upaya itu kembali dilakukan hingga tahun 2025.

Junaedi terakhir kali memasukkan lamaran ke PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Bua, Kabupaten Luwu.

Namun, hingga akhir 2025, tidak ada panggilan kerja yang diterimanya.

"Banyak lamaran yang saya kirim, mungkin belasan lamaran yang saya coba masukkan. Bukan cuma di hotel, bahkan ada kaitannya dengan pendidikan," ujarnya pasrah.

Tidak kunjung mendapatkan pekerjaan membuat Junaedi memilih pekerjaan yang menurutnya paling memungkinkan untuk dimasuki.

Ojek online menjadi pilihan.

"Jadi alternatif ya ojek online. Pekerjaan susah. Tidak ada. Apalagi usia," katanya.

Menurutnya, pekerjaan sebagai pengemudi ojek online memiliki persyaratan yang relatif mudah dibandingkan pekerjaan formal.

Selama memiliki kendaraan, ia bisa bekerja dan memperoleh penghasilan.

"Yang paling wellcome (terbuka) ini driver. Cukup punya kendaraan. Seleksinya tidak ketat," ucapnya.

Namun, penghasilan yang diperoleh juga harus dibayar dengan waktu kerja panjang.

Dalam sehari, Junaedi memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Angka tersebut masih berupa pendapatan kotor.

Ia harus mengeluarkan sekitar Rp40 ribu untuk bensin.

Belum termasuk kebutuhan makan selama bekerja.

Jika dihitung, penghasilan yang tersisa harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

"Ya pas-pasan. Tapi mau mi di apa. Karena sisa ini (ojol) yang bisa dikerja. Saya juga tidak punya pekerjaan lain selain jadi driver," tuturnya.

Beban Junaedi semakin besar karena ia memiliki lima orang anak.

Anak pertamanya telah bekerja di Makassar.

Sementara empat anak lainnya masih menjadi tanggungannya.

Anak kedua sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) Rp1 juta per semester.

Anak ketiganya duduk di bangku SMA.

Anak keempat masih SMP dan tinggal di pondok pesantren.

Sementara anak kelima masih duduk di bangku SD.

"Yang banyak sebenarnya kebutuhan sehari-harinya," kata Junaedi.

Di tengah rutinitas mencari penumpang, Junaedi tidak menutup harapan agar suatu saat pemerintah mampu menghadirkan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Ia berharap kesempatan kerja tidak hanya tersedia bagi mereka yang memiliki usia tertentu atau pengalaman tertentu.

Tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan kompetensi pencari kerja.

Menurutnya, pemerintah perlu memperluas lapangan pekerjaan sekaligus membuat proses rekrutmen lebih efektif dan tidak terlalu rumit.

"Harapannya lapangan pekerjaan pemerintah bisa membuka lapangan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing orang. Termasuk seleksi pekerjaan agar lebih efektif dan tidak rumit," harapnya.

Kisah Junaedi menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum selalu berujung pada pekerjaan sesuai bidang ilmu.

Di tengah perayaan HUT ke-81 RI, persoalan lapangan kerja menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

LAPANGAN KERJA - Junaedi (46) pria asal Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Kamis (13/8/2026) siang. Junaedi merasakan sulitnya merasakan kerja walau mendapat gelar sarjana. (Sumber: muh sauki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.