SURYA.co.id, GRESIK - Semangat kemerdekaan di Desa Tambak, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, tahun ini tampil dengan warna berbeda.
Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dipadukan dengan tradisi Molotan Jeannah, perayaan Maulid Nabi dengan konsep tempo dulu yang sarat nilai budaya masyarakat Bawean.
Warga tidak hanya menyaksikan panggung hiburan.
Mereka juga berbondong-bondong membawa berkat molod yang dikemas dalam wadah anyaman bambu bernama Ceppo.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari acara bertajuk Parade Molod Bujaannah yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI oleh PHBN Desa Tambak.
Ketua Panitia PHBN Desa Tambak, Yudistiana, mengatakan perpaduan peringatan HUT RI dan Maulid Nabi dilakukan karena kedua momentum tersebut bertepatan pada Agustus 2026.
Menurut dia, masyarakat Desa Tambak memiliki antusiasme tinggi terhadap perayaan Maulid Nabi.
Karena itu, momentum tersebut dimanfaatkan untuk menghadirkan kembali tradisi Maulid tempo dulu yang mulai jarang ditemui.
Baca juga: Gagal Kabur ke Surabaya, Pencuri Motor di Gresik Tertangkap Warga
"Yang membedakan peringatan HUT RI tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah kami memadukannya dengan perayaan Maulid Nabi. Kebetulan tahun ini kedua momentum tersebut berlangsung beriringan," ujar Yudistiana, Kamis (13/8/2026).
Konsep yang diangkat yakni Maulotan Bhebian Jeannah. Kegiatan itu sekaligus menjadi upaya mengenalkan kembali bentuk perayaan Maulid yang dahulu dilakukan masyarakat Bawean kepada generasi muda.
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian dalam kegiatan tersebut adalah berkat molod yang dibawa warga.
Berkat tersebut ditempatkan dalam Ceppo, wadah yang dibuat dari anyaman bambu dan merupakan hasil kerajinan tangan warga Desa Tambak.
Isinya pun bukan sekadar makanan. Warga mengisinya dengan berbagai hasil bumi, mulai buah-buahan, sayuran hingga makanan tradisional khas Bawean.
Beragam jajanan tradisional dan rengginang turut menjadi bagian dari isi berkat yang dibawa warga.
Warga kemudian membawa Ceppo yang telah dihias ke lokasi acara. Ukurannya relatif sederhana, tetapi keberadaannya memiliki makna penting sebagai simbol kebersamaan sekaligus upaya mempertahankan tradisi.
Parade Molod Bujaannah juga menjadi panggung bagi berbagai kesenian tradisional dan bernuansa Islami.
Sejumlah pertunjukan ditampilkan, di antaranya gambus berselawat, zafin mandailing, tarian Islami, korcak, kercengan, zamrah, samman, dhungka dan nasyid.
Bagi panitia, kehadiran beragam kesenian tersebut bukan sekadar hiburan.
Panggung tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali seni budaya Bawean yang mulai jarang dimainkan.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin nguri-nguri budaya dan tradisi masa lampau. Tradisi yang pernah hidup di tengah masyarakat kami coba munculkan dan budayakan kembali," jelas Yudistiana.
Ia menyebut sebagian seni budaya yang ditampilkan saat ini bahkan nyaris punah.
Karena itu, momentum perayaan HUT RI dan Maulid Nabi dinilai menjadi kesempatan untuk memperkenalkannya kembali kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut Yudistiana, konsep Molotan Jeannah juga memiliki keunggulan karena dapat dilakukan dengan cara sederhana dan terjangkau oleh masyarakat.
Tidak diperlukan kemasan mewah untuk menghadirkan tradisi tersebut. Warga cukup memanfaatkan bahan dan hasil bumi yang tersedia di lingkungan sekitar.
"Molod seperti ini sangat terjangkau bagi masyarakat Desa Tambak. Ini sekaligus menjadi upaya untuk menghidupkan kembali tradisi masa lampau yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," katanya.
Konsep sederhana tersebut justru membuat suasana perayaan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak rangkaian acara berlangsung. Warga datang membawa berkat molod yang telah dihias dan kemudian mengikuti berbagai pertunjukan seni budaya.
Di penghujung acara, berkat molod yang telah disiapkan dibagikan kepada warga sekitar.
Bagi masyarakat Desa Tambak, pembagian tersebut bukan sekadar tradisi berbagi makanan. Ada pesan kebersamaan dan gotong royong yang ingin terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Yudistiana berharap kegiatan tersebut dapat menjadi titik awal bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menjaga tradisi yang mulai tergerus zaman.
"Kami sebagai pelaku sejarah hari ini berharap generasi yang akan datang mampu melestarikan budaya yang telah kami hidupkan kembali. Jangan sampai tradisi dan seni budaya yang ada hilang begitu saja," pungkasnya.