Sosok Tim Manggala Agni Menembus Terjalnya Bromo, Sempat Tersesat, Berjuang Memadamkan Kebakaran
Adrianus Adhi August 13, 2026 05:32 PM

SURYA.co.id, PROBOLINGGO — Ratusan personel gabungan terus berjibaku menaklukkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah melahap lebih dari 520 hektare kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Di tengah medan terjal dan cuaca ekstrem, tim Manggala Agni dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) membagikan kisah perjuangan mereka di lapangan, termasuk momen saat tersesat di lereng Bromo usai memadamkan api hingga larut malam.

Anggota Tim Manggala Agni Jabalnusra, Heriyadi, mengungkapkan bahwa proses pemadaman di kawasan Bromo menghadapi berbagai kendala teknis dan alam yang sangat berat. Kemiringan lereng yang curam, hembusan angin yang tidak menentu, serta minimnya sumber air menjadi hambatan utama dalam melokalisasi kobaran api.

"Terkait dengan kondisi di lapangan, kami melakukan pemadaman itu banyak kendala. Satu, kemiringan, pasti kita akan kesulitan di situ. Kemudian angin yang berubah-ubah akan mempengaruhi pergerakan kita," ujar Heriyadi kepada SURYA.co.id

Heriyadi menambahkan, kendala terbesar lainnya adalah pasokan air untuk pompa mekanis. Jarak pengambilan air yang jauh membuat tim kerap harus menunggu pengiriman tangki ulang. Jika pasokan air habis, tim terpaksa mengandalkan peralatan manual seperti gebyok (pemukul api) dan jet shooter, serta melakukan mop-up atau penyisiran bara api agar api tidak menyala kembali.

"Tatkala tangki sudah habis, kita harus menunggu lagi. Padahal paling efektif menggunakan air. Tetapi tatkala tidak ada air, kami melakukan pemadaman menggunakan peralatan manual seperti gebyok, jet shooter, sekaligus kita melakukan mop-up atau penyapuan bara api supaya tatkala kita tinggalkan, bara api benar-benar sudah padam," jelasnya.

Baca juga: Wisata Bromo Ditutup, Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Kebanjiran Turis Asing

Tak hanya menghadapi kobaran api dan asap pekat, tim Manggala Agni juga sempat mengalami situasi mencekam tatkala tersesat di area lereng Bromo usai merampungkan tugas pemadaman hingga malam hari.

"Sempat kami semalam juga tersesat karena kita tidak mengetahui medannya, lokasinya juga kondisi malam hari. Kami kesulitan untuk menuju ke lokasi aspal sehingga harus mencari-cari. Medan berdebu sangat mempengaruhi pandangan dan pernapasan kita," ungkap Heriyadi.

Heriyadi menceritakan bahwa peristiwa tersesat tersebut terjadi ketika tim hendak kembali dari titik pemadaman di area lembah usai bekerja hingga sekitar pukul 21.30 WIB. Faktor ketidakpahaman medan serta pekatnya debu dan kegelapan malam membuat tim salah mengambil jalur kepulangan.

"Kami di Lembah Parengan sempat tersesat karena kami melakukan pemadaman sampai jam setengah 10 malam. Karena kami juga awam terkait dengan lokasi di Bromo sendiri, akhirnya kepulangan kami salah jalur. Sehingga kami dibantu sama teman-teman dari pemangku kawasan untuk penjemputan kami kembali ke lokasi sini," tutur Heriyadi.

Baca juga: Kebakaran Gunung Bromo, Puncak Seruni Point Probolinggo Ditutup Sementara

Meskipun harus menaklukkan medan ekstrem yang baru pertama kali mereka tangani, Heriyadi menegaskan bahwa mental dan kekompakan regu Manggala Agni tetap terjaga. Tim yang telah diterjunkan sejak awal Agustus ini berkomitmen untuk terus menyisir titik-titik api bersama unsur BB-TNBTS, TNI-Polri, BPBD, Damkar, relawan, dan masyarakat setempat hingga situasi dinyatakan aman sepenuhnya.

"Kalau untuk kesannya luar biasa. Kami berada di tempat medan yang terjal, miring, kemudian angin luar biasa, panas luar biasa, debu luar biasa. Sehingga kami mau tidak mau harus menyesuaikan kondisi di lapangan. Kepulangan kami menunggu perintah pimpinan seperti apa, kondisi seperti apa, nanti kita menyesuaikan," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.