Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam Faisal Parlindungan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menjelaskan tanda-tanda heat exhaustion dan heat stroke, gangguan yang bisa terjadi ketika beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama semasa cuaca panas.
Saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Kamis, dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD menjelaskan bahwa heat exhaustion atau kelelahan akibat panas terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan garam dalam jumlah besar akibat paparan panas dan aktivitas fisik.
Dalam kondisi yang demikian, dia mengatakan, seseorang bisa mengeluarkan banyak keringat, merasa haus, lemas, pusing, sakit kepala, mual atau muntah, serta mengalami kram otot.
Sedangkan heat stroke atau serangan panas, menurut dia, merupakan kondisi yang lebih berat dari kelelahan akibat panas.
Serangan panas, ia melanjutkan, terjadi ketika tubuh gagal mengatur suhu sehingga suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan berpeluang menyebabkan gangguan fungsi organ.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, tanda heat stroke antara lain peningkatan suhu tubuh sehingga menjadi lebih dari 40 derajat Celsius.
"Pada heat stroke, mulai muncul gangguan fungsi otak. Penderitanya dapat mengalami kebingungan, sulit berkomunikasi, perilaku tidak normal, bicara tidak jelas, kejang, hingga penurunan kesadaran," kata dr. Faisal.
Ia menambahkan, penurunan kesadaran merupakan gejala utama yang membedakan heat stroke dengan heat exhaustion.
Menurut dia, heat stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah gangguan organ.
Dia menyampaikan bahwa serangan panas bisa memicu gangguan organ seperti otak, ginjal, hati, dan otot serta masalah pembekuan darah jika tidak segera ditangani.
Dokter Faisal menekankan pentingnya segera menghentikan aktivitas dan berpindah ke tempat yang lebih sejuk apabila mulai mengalami gejala gangguan akibat paparan panas seperti pusing, lemas, mual, sakit kepala, atau kram otot.
Penanganan dampak paparan panas, menurut informasi di laman resmi Kementerian kesehatan, juga dapat dilakukan dengan melakukan kompres dingin di area leher, ketiak, dan selangkangan untuk menurunkan suhu tubuh.
Selain itu, penting pula untuk memperbanyak minum air putih guna menghindari terjadinya dehidrasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat, terutama yang harus beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan, untuk mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas selama musim kemarau.





