Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stabil pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Rupiah bertahan di level 17.877 per dolar AS, sama seperti posisi penutupan sehari sebelumnya.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia menunjukkan pelemahan tipis. JISDOR tercatat berada di 17.882 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya 17.876 per dolar AS.
Meski tidak mengalami perubahan, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dipengaruhi sentimen domestik dan global yang masih beragam.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai stabilnya rupiah terjadi setelah euforia pasar terhadap hasil evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda.
“Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI,” ucapnya dikutip dari Antara.
MSCI sendiri mengumumkan hasil MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review pada 12 Agustus 2026 waktu Central European Summer Time (CEST). Perubahan tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Dalam pengumuman itu, MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan tidak memasukkan saham Indonesia baru ke dalam indeks tersebut.
Selain itu, MSCI juga menyesuaikan komposisi MSCI Global Small Cap Index untuk saham Indonesia dengan memasukkan satu saham dan mengeluarkan sembilan saham dari indeks tersebut.
Perubahan komposisi indeks global tersebut sempat memengaruhi sentimen investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk pergerakan rupiah dan pasar saham domestik.

Selain faktor MSCI, pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Bank Indonesia terkait pengisian jabatan Deputi Gubernur Senior BI.
Pemerintah telah mengirim Surat Presiden (Surpres) untuk mengisi posisi tersebut dengan mengusulkan Aida S Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI.
Untuk posisi Deputi Gubernur BI, pemerintah mengajukan dua nama, yaitu Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori.
Menurut Rully, perhatian pasar terhadap susunan pimpinan Bank Indonesia cukup penting karena berkaitan dengan arah kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Dari sisi eksternal, pasar juga masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan berarti dalam proses negosiasi.
“Dari global, masih terkait perkembangan konflik Timur Tengah, dimana tidak ada terobosan negosiasi Amerika dan Iran walaupun index sudah stabil di bawah 100 serta harga minyak yang mulai menjinak,” ungkap Rully.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar keuangan, termasuk terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Dengan kombinasi sentimen domestik dari Bank Indonesia dan sentimen global dari geopolitik Timur Tengah, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan bergerak terbatas sambil menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan ekonomi global berikutnya.