BPBD Catat Tren Penurunan Kasus Karhutla di Wilayah DIY pada Awal Agustus 2026
Muhammad Fatoni August 13, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau awal Agustus 2026 menunjukkan eskalasi yang beragam di berbagai daerah.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tren karhutla secara umum mengalami penurunan drastis hingga 64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski demikian, khusus wilayah Kabupaten Sleman justru mencatatkan anomali peningkatan kasus. 

Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, R Tito Asung Kumoro Wicaksono, memaparkan bahwa berdasarkan rekapitulasi data awal bulan, terjadi penurunan kasus secara signifikan di hampir seluruh kabupaten di DIY, kecuali Sleman.

Penurunan ini juga diikuti oleh menyusutnya luasan lahan yang terbakar, dari sedikitnya 12,16 hektare pada Juli menjadi 1,35 hektare pada 1–12 Agustus 2026.

"Berdasarkan data yang tercatat hingga 12 Agustus 2026, jumlah kejadian turun 16 kejadian atau 64 persen, dari 25 kejadian pada Juli menjadi 9 kejadian. Kulon Progo belum mencatat kejadian pada Agustus, sementara Sleman justru meningkat dari 2 kasus pada Juli menjadi 3 kasus pada 1–12 Agustus. Gunungkidul masih menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 5 kejadian, turun 50 persen dari 10 kejadian pada bulan lalu. Untuk Bantul, turun 75 persen dari 4 kejadian menjadi 1 kejadian," ujar Tito.

Berdasarkan rincian harian, 4 Agustus 2026 menjadi hari dengan tingkat kejadian tertinggi di DIY.

Mencakup empat insiden sekaligus di Gunungkidul (Patuk, Semanu, dan Playen) serta Bantul (Kretek).

Baca juga: Waspada, Daftar Insiden Kebakaran saat Kemarau di Sleman Makin Panjang

Faktor Pemicu

Terkait faktor pemicu kebakaran, Tito menegaskan bahwa pola penyebab dominan belum berubah. 

Sebagian besar kejadian yang teridentifikasi secara eksplisit masih dipicu oleh kelalaian manusia.

Seperti pembakaran sampah daun, ranting, sisa pakan, serta pembakaran rumput liar, yang kemudian menjalar tak terkendali akibat faktor angin kencang di musim kemarau. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.