TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Fenomena membongkar tabungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dirasakan warga di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
Hal itu lantaran uang gaji yang terbilang minim, sementara kebutuhan mulai bertambah banyak.
Salah satunya dirasakan oleh Yuliani (25), warga Cilacap, Jawa Tengah, yang kini tengah bekerja di salah satu perusahaan di Kabupaten Bantul.
Kepada Tribunjogja.com, Yuliani mengaku akhir-akhir ini kerap membongkar tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Iya, akhir-akhir ini saya sering terpaksa harus membongkar uang tabungan karena kepepet. Karena, akhir-akhir ini kendaraan sepeda motor saya sering rusak dan harus masuk bengkel," katanya, Kamis (13/8/2026).
Tahun ini, ia mengaku sudah dua kali mengambil uang tabungan untuk memperbaiki sepeda motornya.
Pertama pada bulan Januari 2026, Yuliani mengalami musibah sepeda motor turun mesin.
Maka dari itu, mau tidak mau, dia harus mengambil uang tabungan untuk menutup kebutuhan.
Kemudian, pada Agustus 2026, kendaraan sepeda motor Yuliani kembali rusak.
Untuk memperbaiki kendaraan itu ia harus merogoh uang tabungan dengan nilai besar.
Sebab, sepeda motor tersebut berhubungan dengan pekerjaan.
Baca juga: Tanggapan OJK DIY soal Fenomena Makan Tabungan: Bangun Dana Darurat untuk Jaga-jaga
Di sisi lain, gaji yang diterima Yuliani terbilang tidak terlalu banyak, yakni Rp3 juta per bulan.
Padahal, selama ini, Yuliani tinggal di tempat kos.
Gaji yang didapatnya pun harus dibagi dengan keperluan sehari-hari serta biaya kos.
"Jika tidak ada tabungan tentu kalau mau mengandalkan gaji saja tidak cukup, karena gaji saya hanya Rp3 juta per bulan. Makanya, selain untuk memperbaiki sepeda motor, terkadang saya mengambil uang tabungan untuk mengajak orang tua dan adik berlibur seperti saat libur sekolah kemarin," ujarnya.
Kendati demikian, Yuliani sendiri sempat memiliki keinginan untuk membeli rumah melalui mekanisme kredit pemilikan rumah (KPR) di daerah Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah.
Menurutnya, KPR rumah lebih baik daripada harus terus menerus ngontrak atau sewa kos.
"Kalau KPR kan membayar rumah hasilnya buat diri sendiri, kalau ngontrak uangnya buat orang lain. Jadi, ya mending KPR. Saya milih KPR di Solo karena kebetulan calon saya kerja di Solo. Tapi ya balik lagi. Kalau mau KPR dalam kondisi ekonomi seperti ini sepertinya tidak mudah," tuturnya.
Mengutip dari KOMPAS.com, Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menunjukkan bahwa rata-rata nominal simpanan terus mengalami penurunan.
Pada 2018, rata-rata simpanan dengan saldo di bawah Rp 100 juta tercatat sekitar Rp3,1 juta per rekening. Angka tersebut kemudian turun menjadi Rp1,8 juta per rekening pada 2024.
Penurunan berlanjut hingga Mei 2026, ketika rata-rata nominal simpanan tercatat hanya sekitar Rp1,7 juta per rekening.(*)