TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Puluhan jemaah umrah asal Jambi yang menggunakan jasa Travel Gema Talbia atau PT Gema Suara Talbia dilaporkan telantar di Arab Saudi.
Sebanyak 21 jemaah dan dua pembimbing umrah menghadapi sejumlah kendala selama berada di Tanah Suci.
Mereka bahkan harus menggunakan uang pribadi untuk memenuhi kebutuhan penginapan, makanan hingga transportasi.
Usut punya usut, Gema Talbia menerapkan skema ponzi dalam mengelola biro perjalanan umrah yang terungkap setelah pemeriksaan terhadap Direktur PT Gema Suara Talbia, Oman Abdul Aziz.
Kasus dugaan penundaan keberangkatan dan penelantaran jemaah umrah asal Jambi tersebut juga mendapat perhatian Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Jambi.
Mengutip laman jambi.haji.go.id, Kemenhaj Kota Jambi telah melakukan pemeriksaan terhadap Direktur PT Gema Suara Talbia, Oman Abdul Aziz.
Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah muncul sejumlah laporan masyarakat mengenai calon jemaah yang gagal berangkat serta persoalan pelayanan selama berada di Arab Saudi.
Pemeriksaan dipimpin Kepala Kantor Kemenhaj Kota Jambi, M Kholis, bersama tim klarifikasi.
Kholis mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk mengusut dugaan pelanggaran dalam penyelenggaraan ibadah umrah, termasuk penetapan harga di bawah standar referensi pemerintah serta dugaan transaksi keuangan yang tidak wajar.
Pengakuan Direktur Gema Talbia saat Pemeriksaan
Dalam pemeriksaan tersebut, Oman Abdul Aziz mengungkapkan sebanyak 28 calon jemaah gagal diberangkatkan ke Arab Saudi dan hanya sampai di Jakarta.
Para jemaah sempat diinapkan di Hotel Zest by Swiss-Belhotel yang berada di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Mereka kemudian dipulangkan ke daerah masing-masing.
Rinciannya, sebanyak 18 orang dipulangkan ke Jambi, delapan orang ke Pekanbaru dan dua orang ke Jakarta.
Sementara itu, persoalan juga dialami jemaah yang berhasil berangkat ke Arab Saudi.
Sebanyak 23 jemaah yang berangkat pada 4 Agustus 2026 sempat telantar karena tidak mendapatkan kunci kamar di Hotel Snood Ajyad, Makkah.
Para jemaah kemudian dipindahkan sementara ke hotel lain selama dua malam.
Setelah itu, mereka hanya mendapatkan lima kamar dari total 15 kamar yang seharusnya dipesan.
Agenda ziarah ke Madinah juga batal akibat adanya persoalan tunggakan pembayaran hotel.
Dari total 103 pendaftar, berikut rinciannya:
- 23 jemaah (termasuk pembimbing) berhasil berangkat ke Makkah pada 4 Agustus 2026.
- 28 jemaah gagal berangkat dan hanya sampai di Jakarta.
- 52 jemaah belum diberangkatkan.
Akui Gunakan Skema Ponzi
Dalam pemeriksaan Kemenhaj Kota Jambi, terungkap pula persoalan pengelolaan keuangan PT Gema Suara Talbia.
Oman Abdul Aziz disebut mengakui perusahaan menggunakan skema Ponzi dalam pengelolaan dana jemaah.
Sebagai informasi, Skema Ponzi dikenal dari nama dari Charles Ponzi, seorang penipu asal Italia pada tahun 1920-an. Ini merupakan modus penipuan investasi di mana keuntungan investor lama dibayarkan dari uang setoran investor baru, bukan dari hasil keuntungan bisnis atau perdagangan yang nyata.
Dalam hal ini, dana pendaftaran dari jemaah baru digunakan untuk menutupi biaya operasional, pemulangan hingga pemberangkatan jemaah pada periode sebelumnya.
Hal tersebut dilakukan setelah perusahaan mengalami kerugian dalam pemberangkatan jemaah umrah pada periode 2022 hingga 2024.
"Akibat kerugian pemberangkatan jemaah umrah pada periode sebelumnya, Direktur menggunakan uang jemaah baru untuk memberangkatkan jemaah lama," kata Kholis, mengutip dokumen BAPK.
Kondisi keuangan perusahaan semakin sulit setelah menerapkan program "Paket Milad" dengan harga subsidi yang berada di bawah harga referensi pemerintah.
Harga paket promosi tersebut berkisar Rp20 juta hingga Rp29,7 juta per jemaah.
Ketidakseimbangan jumlah pendaftar paket subsidi dan reguler kemudian membuat operasional travel mengalami defisit.
Sementara itu, sekitar 60 persen jemaah disebut telah mengajukan pembatalan dan meminta pengembalian dana atau refund.
Oman mengaku perusahaan belum memiliki dana tunai maupun aset yang cukup untuk mengembalikan seluruh dana tersebut.
Ia meminta waktu untuk melakukan pengembalian secara bertahap dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan.
Proses pengembalian dana itu disebut baru akan dimulai pada 11 Februari 2027.
Jemaah Terkatung-katung di Tanah Suci
Satu di antara pembimbing umrah, Ahmad Abdul Malik, mengatakan hingga Kamis (13/8/2026) belum ada kepastian terkait pelunasan tiket dari pihak travel.
"Belum ada kabar pelunasan tiket dari Gema Talbia ke Muassasah," ungkapnya.
Meski menghadapi kendala, Malik menyebut kondisi para jemaah saat ini masih baik dan tetap menjalankan ibadah.
"Kondisi jemaah alhamdulillah baik-baik saja. Tetap fokus ibadah. Penginapan sempat hampir terlantar hari kedua. Hingga akhirnya mengeluarkan uang 1.000 riyal untuk extend hotel," jelasnya.
Selain persoalan penginapan, para jemaah juga sempat kesulitan mendapatkan sarapan dan makan siang.
Kondisi tersebut membuat pembimbing harus menggunakan dana pribadi untuk membeli makanan.
"Lalu, telantar sarapan dan makan siang sebelum akhirnya saya kembali dari dana pribadi membeli makan siang satu boks untuk berdua, karena memang porsi di sini besar semua," jelas Malik lagi.
Persoalan juga terjadi ketika para jemaah tiba di Makkah.
Mereka kembali harus mengeluarkan dana pribadi agar bisa mendapatkan transportasi menuju tempat tujuan.
"Hampir telantar di Makkah, sebelum akhirnya kami urunan masing-masing Rp750 ribu, terkumpul Rp15,6 juta baru datang bus menjemput kami. Mengenai total uang pribadi yang keluar, (nanti) saya hitung lagi," ungkapnya.
Malik mengatakan rombongan tersebut terdiri dari 21 jemaah dan dua pembimbing.
Ia juga menyebut para pembimbing tidak mendapatkan uang saku sebagaimana biasanya diberikan oleh pihak travel.
"(Kami) 21 jemaah, dua pembimbing yang bahkan tidak diberikan saku sebagaimana umumnya dilakukan travel pada pembimbing," akunya.
Jemaah Desak Travel Bertanggung Jawab
Atas kondisi tersebut, para jemaah mendesak pihak Travel Gema Talbia memberikan pertanggungjawaban.
Untuk perjalanan pulang ke Jambi, sejumlah jemaah bahkan harus membeli tiket menggunakan uang pribadi.
"Karena beli tiket mandiri, jadi tidak bisa bareng," ujarnya.
Kepulangan para jemaah nantinya terbagi dalam dua kelompok penerbangan.
"Saya mengambil penerbangan kedua, karena ada jamaah lansia di penerbangan kedua yang mustahil ditinggal," jelasnya.
Hingga kini, belum ada pertanggungjawaban dari pihak travel terkait persoalan yang dialami jemaah selama berada di Tanah Suci.
Ancaman Cabut Izin hingga Pidana
Kepala Kanwil Kemenhaj Provinsi Jambi, Wahyudi Abdul Wahab melalui Kabid Bina Haji dan Umrah, Majdi mengatakan, hasil pemeriksaan terhadap PT Gema Suara Talbia telah diteruskan kepada Direktur Jenderal Pengendalian Kemenhaj RI.
Majdi menegaskan, travel tersebut kini menghadapi sejumlah ancaman sanksi atas persoalan yang terjadi.
"PT Gema Suara Talbia kini terancam sanksi administratif berupa pencabutan izin resmi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), denda miliaran rupiah, hingga tuntutan hukum pidana," tegas Majdi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan tawaran paket perjalanan umrah berharga murah yang tidak masuk akal.
"Saat ini harga avtur naik dan nilai tukar rupiah melemah. Masyarakat harus realistis dan waspada jika ada tawaran murah di bawah standar. Pastikan selalu memilih travel yang berizin resmi," pungkasnya.
Tertunda Beberapa Kali
Keberangkatan 21 jemaah umrah Travel Gema Talbia sempat mengalami beberapa kali penundaan sebelum akhirnya mereka berangkat ke Tanah Suci.
Awalnya, para jemaah dijadwalkan berangkat pada 22 Juli 2026. Namun, keberangkatan kemudian ditunda hingga 30 Juli 2026.
Menjelang jadwal tersebut, pihak travel kembali menunda keberangkatan menjadi 3 Agustus 2026. Namun, jadwal kembali berubah hingga akhirnya ditetapkan pada 4 Agustus 2026.
Pada Selasa (4/8), para jemaah akhirnya diberangkatkan menuju Arab Saudi. Keberangkatan dibagi menjadi dua kloter, yakni pagi dan sore sekitar pukul 16.00 WIB.
Sebanyak 21 jemaah dan dua pembimbing umrah berangkat pada kloter pagi. Setelah transit di Bandara Soekarno-Hatta, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jeddah.
Sementara itu, sebanyak 17 jemaah dan satu pembimbing umrah yang masuk dalam kloter sore justru telantar di Jakarta selama dua hari.
Para jemaah awalnya direncanakan segera melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi. Namun, setibanya di Jakarta, mereka terlebih dahulu diinapkan di sebuah hotel di Tangerang.
Karena tidak mendapatkan kepastian mengenai keberangkatan, para jemaah akhirnya memutuskan untuk pulang pada Kamis (6/8).
Baca juga: Polresta Jambi Ungkap 34 Kasus Narkoba Selama Operasi Antik 2026
Baca juga: Permintaan Pria sebelum Tengkurap tanpa Nyawa di Kamar 208 Hotel Tanjabbar
Baca juga: 21 Jemaah Umrah Jambi Telantar di Tanah Suci Terpaksa Keluarkan Dana Pribadi