KUTILIK sekelilingku, dan aku melihat penderitaan manusia.
Kata kata pujangga Rusia Leo Tolstoy ini, segera menjadi lukisan berdarah di benakku.
Bukan saat membaca novel.
Tapi saat meliput peristiwa Drag Race berdarah di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, provinsi Sulut, Senin hingga Rabu.
Disana ada darah dan air mata.
Delapan nyawa tumbang, belasan lainnya tengah dirawat di rumah sakit.
Ada suami yang kehilangan istri, anak kehilangan orang tua, kakak kehilangan adik, orang tua kehilangan anak, dan serangkaian kehilangan lainnya.
Bahkan ada yang kehilangan istri sekaligus adik.
Ada pula yang ibunya meninggal, sedang anaknya dirawat di rumah sakit.
Saya dan wartawan Tribunmanado Rizali Posumah berangkat ke Kotamobagu dari Manado dengan sepeda motor pada Senin siang.
Sebuah perjalanan melelahkan, melawan panas yang dari matahari yang serasa ada dua.
Kami bergantian membawa sepeda motor.
Saat giliran saya yakni memasuki Bolmong, jalan itu rasanya seperti tak berujung. Batinku, kapan kami akan sampai ?.
Namun kami sampai juga.
Pukul 9 malam.
Langsung ke TKP.
Sebuah pemandangan menyayat hati menanti kami.
Ada belasan keluarga korban yang memasang lilin, simbol kenangan dan pengharapan.
Lilin ditaruh tepat pada posisi keluarga mereka tewas.
Doa, ratapan, kenangan, semuanya tumpah di sana.
Letih tenggelam, adrenalin terbit.
Segera kami memotret, mondar mandir mencari nara sumber, tanya sana sini, mencoba menggali fakta sebanyak banyaknya.
Tiga wanita muda berhasil kami wawancarai.
Kesemuanya adalah cucu salah satu korban.
Seorang diantaranya bercerita tentang sang nenek yang berusaha menyelamatkan cucunya saat tabrakan itu.
Pengorbanan itu tak sia sia. Sang cucu selamat kendati harus alami luka serius dan dirawat di rumah sakit.
Setelah itu kami ke rumah teman saya, susun strategi hari esok dan tidur yang puji Tuhan sangat nyenyak.
Ada delapan orang tewas. Jika Jurnalisme itu hanya data, maka keterangan humas cukup.
Tapi bila bicara Jurnalisme makna, tentu belum cukup.
Delapan itu bukan hanya angka statistik, tapi jiwa manusia, gambar dan rupa Allah.
Ada kisah tentang kehilangan, sakit hati, jiwa yang patah, hati yang terkoyak, pilu, tragedi, kepahlawanan dan lainnya.
Kami ingin menulis tentang manusia.
Caranya ke rumah duka dan melakukan wawancara.
Inilah persoalannya. Mewawancarai orang yang berduka adalah liputan dengan tingkat kesulitan tinggi.
Bagaimana mewawancarai orang yang kehilangan keluarga dalam suasana duka dan emosional, dengan video pula.
Salah tutur atau tindak tanduk, bisa memicu salah paham.
Ujungnya liputan gagal dan kemungkinan terburuk adalah kami jadi sasaran kemarahan.
Namun kami yakin akan Jurnalisme cinta kasih.
Kami datang dengan empati, hati yang tulus, niat baik, bukan untuk mengungkit tragedi atau membuka luka lama, tapi membuka pada publik apa yang terjadi, untuk
menerbitkan iman, harap dan kasih.
Puji Tuhan, energi cinta dapat menarik cinta.
Empati bersambut pengertian dan penerimaan yang baik.
Bahkan kami beroleh banyak kisah yang melampaui ekspektasi.
Minarti Jojang, kakak dari salah satu korban dalam keadaan yang penuh duka, dengan mata yang sembab karena keseringan menangis bercerita tentang sosok sang adik.
Panjang lebar ia bercerita, lengkap, meski kadang kata katanya kerap terhenti oleh tangis.
Kisahnya sungguh menyayat hati. Begitupun cerita dari seorang bapak yang kehilangan istri sekaligus adik.
"Saya sulit melalui ini, sakit rasanya," kata dia.
Ia mengatakan itu sambil menunjuk ke hatinya.
Tak terasa hati saya pun bergetar, seolah tangan itu tengah menunjuk dada saya.
Saya tak tahan meneteskan air mata.
Tangis mereka adalah tangis saya juga, mungkin tangis kita semua.
Sebab di balik setiap angka, selalu ada kehidupan.
Dan di hadapan penderitaan, tugas kita bukan sekadar melihat, melainkan tetap menjadi manusia. (Arthur Rompis)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini