TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peringatan tersebut menyusul hasil pemantauan Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang menunjukkan tingkat kemudahan terbakar bahan bakar halus di lapisan atas permukaan tanah berada pada kategori tinggi hingga sangat mudah terbakar dalam beberapa hari ke depan.
Kepala BMKG Kota Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan kondisi tersebut terlihat dalam pemetaan tingkat kemudahan terbakar di Kalimantan Utara.
Pada 13 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Kalimantan Utara masih didominasi warna merah yang menunjukkan kategori sangat mudah terbakar.
Baca juga: Banjir Rob Mengintai Tarakan 13-14 Agustus 2026, Ini Jam Pasang Tertinggi Menurut BMKG
"Bisa dilihat ya di Kalimantan Utara mulai hari ini berwarna merah ya. Artinya, level kemudian kebakarannya berada pada kategori sangat mudah terbakar ya, very high atau sangat mudah terbakar," ungkap M. Sulam Khilmi.
Tarakan Kembali Merah
Kondisi tingkat kemudahan terbakar tersebut diperkirakan berubah secara dinamis dari hari ke hari.
Pada 14 Agustus, tingkat kemudahan terbakar masih berada pada kategori tinggi.
Namun, sejumlah wilayah termasuk Tarakan mengalami sedikit penurunan.
"Kemudian di tanggal 14 ya. Ini sudah tetap tinggi ya. Namun ada beberapa daerah termasuk Tarakan ini sedikit menurun ya. Level kemudian kebakarannya. Tapi di daerah lain ya. Ini Nunukan, Malinau. Ini sebagian Tanjung Alas Timur," jelasnya.
Baca juga: Kualitas Udara Tarakan Masih Kategori Biru, DLH Minta Warga Tetap Waspada ISPA
Memasuki 15 Agustus, kondisi di Tarakan kembali meningkat dan masuk kategori sangat mudah terbakar.
Sehari berikutnya, pada 16 Agustus, hampir seluruh wilayah Kalimantan Utara kembali berada dalam kategori tinggi.
"Kemudian di tanggal 16 ya. Hampir semua wilayah Kalimantan Utara ya. Tinggi lagi berwarna merah. Artinya, sangat mudah terjadi kebakaran di level permukaan," jelasnya.
Pada 17 Agustus 2026, Tarakan juga masih diprediksi berada dalam level merah atau sangat mudah terbakar.
Namun, kondisi mulai menunjukkan penurunan pada 18 Agustus.
Baca juga: Kabut Terlihat di Tarakan, BMKG Pastikan Bukan Asap Kiriman Karhutla dari Kalbar dan Kalteng
Sebagian wilayah Tarakan diprediksi masuk kategori kuning atau mudah terbakar.
"Sebagian wilayah Pulau Tarakan mudah ya. Kategori mudah kebakaran ya di permukaan. Kemudian sebagian pulau yang lainnya sudah tidak mudah terbakar. Itu di tanggal 18," sebutnya.
Kondisi kembali meningkat pada 19 Agustus dengan status sangat mudah terbakar.
Sementara pada 20 Agustus, Tarakan diprediksi masuk kategori aman yang ditandai warna biru.
Dipengaruhi Kemarau dan El Nino
Sulam Khilmi menegaskan, tingkat kemudahan terbakar tidak dapat disebut secara sederhana akan terus membaik atau memburuk.
Kondisinya bersifat dinamis dan dapat berubah setiap hari.
Baca juga: Kaltara Diprediksi Cerah 7 Hari ke Depan, BMKG Tegaskan Belum Masuk Musim Kemarau
"Namun dia fluktuatif ya, dinamis. Ada beberapa hari sangat mudah terbakar. Kemudian ada beberapa hari yang aman," jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan faktor meteorologi, termasuk periode kemarau yang berlangsung bersamaan dengan dampak tidak langsung fenomena El Nino.
"Jadi beberapa tempat sudah mengalami kemarau. Namun ketika kemarau dibaringin dengan El Nino ya. Ini akan meningkatkan dampak dari kemarau itu sendiri," jelasnya.
Ia menekankan kemarau dan El Nino merupakan dua kondisi yang berbeda sehingga perlu dipahami secara terpisah.
Di Indonesia, fenomena El Nino muncul bersamaan dengan periode kemarau sehingga dapat memperkuat dampak kekeringan.
"Ini makin menambah dampak ya yang makin signifikan terhadap kemarau itu sendiri," jelasnya.
Baca juga: Karhutla Kembali Terjadi di Kutai Barat, 1 Hektare Lahan Warga di Muhur Terbakar
153 Hotspot Terdeteksi
Selain FFMC, BMKG juga memantau titik panas atau hotspot sebagai salah satu indikator untuk membantu mendeteksi potensi kebakaran.
Berdasarkan pemantauan dalam 24 jam terakhir, tercatat 153 titik hotspot di wilayah Kalimantan Utara.
Salah satunya terpantau di Kota Tarakan, tepatnya di kawasan Tarakan Tengah, wilayah Kampung Satu Skip.
Sulam Khilmi menjelaskan, titik hotspot memiliki tingkat kepercayaan atau confidence level yang berbeda-beda.
"Jadi pantauan terakhir, 24 jam terakhir di WL Kaltara ya, 153 ya. Di antaranya sembilannya itu, yang sembilan masuk kategori low ya," bebernya.
Baca juga: Hadapi Potensi Karhutla, Polda Kaltim Siagakan Sepertiga Kekuatan
Dari jumlah tersebut, sembilan titik masuk kategori low dengan tingkat kepercayaan di bawah 20 persen.
Sementara 143 titik berada pada kategori medium dengan tingkat kepercayaan antara 20 hingga 80 persen. Satu titik lainnya memiliki tingkat kepercayaan di atas 80 persen.
Hotspot Tak Selalu Berarti Kebakaran
Sulam Khilmi mengingatkan masyarakat bahwa keberadaan hotspot dari pantauan satelit tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran di lokasi tersebut.
Satelit mendeteksi titik dengan suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi lingkungan di sekitarnya.
"Tapi ketika satelit melintas, titik tersebut lebih panas dari kondisi lingkungan sekitarnya. Makanya dia terdeteksi sebagai titik panas. Tapi belum tentu itu ada kebakaran," urainya.
Namun, apabila tingkat confidence berada di atas 80 persen, kemungkinan adanya kebakaran di lokasi tersebut menjadi lebih besar.
Baca juga: Pemkab PPU Tetapkan Status Siaga Darurat, Waspadai Kekeringan dan Karhutla
"Itu besar kemungkinan disana sudah terjadi kebakaran. Probabilitasnya makin tinggi," ungkapnya.
Meski demikian, data hotspot tetap perlu diverifikasi langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
"Jadi karena kita pemodelan kan, tentu harus diverifikasi di lapangan."
Menurutnya, informasi hotspot dapat membantu petugas menentukan lokasi yang perlu ditindaklanjuti.
Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, hotspot dengan tingkat confidence di atas 80 persen memang ditemukan berkaitan dengan kebakaran setelah dilakukan pengecekan di lapangan.
"Memang beberapa kejadian ketika dia sudah level konfidensinya di atas 80 persen selama ini, itu di lapangan ada kejadian realnya kebakaran tanda-tandaan," pungkasnya. (*)