SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Di tengah pesatnya modernisasi dan digitalisasi di Sumatera Selatan, tantangan mendasar di dunia pendidikan rupanya belum sepenuhnya usai.
Kasus buta aksara atau buta huruf masih ditemukan di Bumi Sriwijaya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang diperbarui pada April 2026, persentase buta huruf di Sumsel berada di angka 1,11 persen.
Jika dibedah berdasarkan gender, terdapat ketimpangan yang cukup mencolok. Angka buta huruf pada kelompok perempuan jauh lebih tinggi, yakni mencapai 1,59 persen, sementara kelompok laki-laki berada di angka 0,65 persen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelompok perempuan, khususnya di daerah pinggiran dan pedesaan, masih menghadapi hambatan keterjangkauan akses pendidikan dasar di masa lalu.
Baca juga: 7 Daerah dengan Angka Cerai Gugat Terbanyak di Sumsel
Dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, berikut adalah lima daerah dengan persentase buta huruf tertinggi:
Kabupaten Banyuasin mencatatkan angka buta huruf tertinggi di Sumatera Selatan dengan total 2,19 persen.
Kondisi geografis Banyuasin yang didominasi wilayah perairan dan perdesaan ditengarai menjadi salah satu faktor penentu sulitnya jangkauan layanan pendidikan secara merata.
Di daerah ini, persentase perempuan buta huruf mencapai 2,86 persen, sedangkan laki-laki 1,54 persen.
Di posisi kedua, Kabupaten Muratara mengantongi angka buta huruf sebesar 2,06 persen.
Yang memprihatinkan, Muratara mencatatkan persentase buta huruf perempuan tertinggi di antara daerah lainnya, yakni menembus 2,97 persen (mendekati 3 persen), sementara laki-laki berada di angka 1,13 persen.
Dua daerah tetangga, Kabupaten Muara Enim dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), sama-sama bertengger di posisi ketiga dengan angka buta huruf 1,68 persen.
Muara Enim: Kelompok perempuan menyumbang persentase buta huruf sebesar 2,74 persen.
PALI: Kelompok perempuan juga mendominasi angka buta huruf dengan persentase 2,77 persen.
Kabupaten OKI mencatatkan persentase buta huruf sebesar 1,47 persen. Sama seperti wilayah lainnya, kaum perempuan di Bumi Bende Seguguk ini masih menjadi kelompok terbanyak yang belum bebas keaksaraan dengan angka 1,51 persen.
Menutup jajaran lima besar, Kabupaten OKU Timur mengantongi angka buta huruf sebesar 1,41 persen. Meski dikenal sebagai daerah agraris yang maju, ketimpangan keaksaraan gender masih terlihat nyata di mana buta huruf perempuan mencapai 2,18 persen.