TRIBUNTRENDS.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi perhatian setelah mengungkap kekagumannya kepada seorang mahasiswi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang memilih menolak bantuan darinya.
Sikap tersebut rupanya membuat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, merasa terkejut sekaligus kagum.
Alih-alih menerima bantuan untuk dirinya sendiri, mahasiswi itu justru meminta agar kesempatan tersebut diberikan kepada orang lain yang dinilai lebih membutuhkan.
Keberanian mengambil keputusan itu membuat KDM memberikan apresiasi kepada mahasiswi baru Unpad bernama Dinara Alivi Kinesha.
Sosok yang kemudian dikenal dengan sapaan Livi tersebut diketahui merupakan remaja asal Depok.
Livi sebelumnya menempuh pendidikan di SMA Yaspen Tugu Ibu 1 Depok sebelum melanjutkan langkahnya ke perguruan tinggi.
Pertemuan Livi dengan KDM terjadi dalam kuliah umum interaktif yang digelar di Jatinangor, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Livi secara tiba-tiba diminta maju ke depan untuk berbincang langsung dengan sang gubernur.
Baca juga: Jaga Marwah Pemkab Bandung Barat, Dedi Mulyadi Minta ASN Viral Dipecat Jika Terbukti Minta Persenan
Perhatian KDM tertuju kepada Livi setelah mahasiswi tersebut berani menyampaikan pendapatnya dengan lantang ketika mendapat pertanyaan.
Percakapan keduanya pun berkembang hingga Dedi Mulyadi mulai menggali lebih jauh mengenai kehidupan dan latar belakang Livi.
Dari perbincangan tersebut, sosok Livi perlahan terungkap sebagai mahasiswi muda dengan latar keluarga dari dua daerah berbeda.
Livi diketahui memiliki ayah yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat.
Sementara itu, sang ibu berasal dari Purwodadi, Jawa Tengah, sehingga perjalanan hidup Livi memiliki latar belakang keluarga yang cukup beragam.
Keberanian Livi menyampaikan pendapat serta pilihannya untuk tidak menerima bantuan itulah yang kemudian membuat namanya mencuri perhatian KDM.
Bagi Dedi Mulyadi, sikap tersebut menjadi alasan tersendiri untuk mengapresiasi Livi sebagai mahasiswa baru Unpad yang berani mengambil keputusan dengan pertimbangan pribadi.
Diungkap Livi, ayahnya merupakan pegawai swasta yang cukup membiayai kuliahnya.
Livi pun bercerita kalau dia masuk Unpad lewat jalur mandiri dengan biaya tinggi.
Saat ditanya soal kosan, Livi enteng menjawab bahwa biaya tempat tinggalnya sudah dibayarkan orangtuanya.
"Berapa bayar kos?" tanya Dedi Mulyadi.
"Saya? spill enggak ya. Rp13 juta pertahun," ungkap Livi.
"Udah bayar?" tanya Dedi lagi.
"Udah dong," jawab Livi.
"Udah, aku enggak bantu," imbuh Dedi.
Mendengar Dedi tak jadi membantunya karena ia tergolong mampu, Livi tak masalah.
Livi malah menyebut KDM harusnya membantu mahasiswa yang lebih membutuhkan daripada dirinya.
"Mau dibantu ini juga saya anak SMUP pak, saya anak dari mandiri, saya anak jalur mandiri. Kalau bapak mau bantuin, bantulah anak-anak yang memang perlu dibantu," ungkap Livi.
"Oh keren. Tadinya aku mau bayarin kos kamu selama 1 tahun ke depan, kamu tidak bersedia kan?" tanya KDM lagi.
"Tidak. Daripada saya (mending kasih yang lain)," respon Livi santai.
Mengetahui respon Livi yang santai tak diberi bantuan, KDM memujinya.
"Ini orang kaya yang kaya. Kan banyak orang kaya yang miskin. Dia sudah banyak tapi mengambil hak orang lain," imbuh Dedi Mulyadi.
Cecar mahasiswi mampu tapi minta bantuan
Lebih lanjut, Livi pun menawarkan teman-teman maba Unpad yang butuh bantuan biaya agar maju ke depan.
"Teman-teman di sini ada enggak anak KIP atau perlu bantuan?" tanya Livi.
"Yang rumahnya dari kampung banget, yang orangtuanya (tidak mampu)," ungkap Dedi.
Setelahnya, ada seorang mahasiswi yang mengangkat tangan dan maju ke depan.
Semringah, maba tersebut pun langsung mengucapkan terima kasih ke Livi karena memberikannya kesempatan dapat bantuan KDM.
Mendengar ucapan sang maba, KDM terheran-heran dan balik mencecarnya.
Baca juga: Sosok Ratna Rahayu, Camat Bandung Disemprot Dedi Mulyadi: Malu Harusnya Sampai Gubernur yang Urusin
"Makasih ya," kata maba tersebut.
"Iya sama-sama," ujar Livi.
"Kamu langsung bilang makasih, masalahnya apa?" tanya KDM ke maba.
"Terima kasih kak sudah memberikan saya biar biaya kos," ujar maba.
"Kata siapa? nah ini orang yang geer pada bantuan begini. Enggak boleh punya mental geer pada bantuan," timpal KDM.
Diungkap KDM, ia tak sembarangan memberikan bantuan kepada maba.
"Kamu langsung 'makasih sudah dibantu'. Lah yang bantu siapa?" tanya KDM.
"Pak KDM," ujar sang maba.
"Belum," pungkas KDM.
Karenanya, KDM pun mencecar maba tersebut guna menggali latar belakang keluarganya.
Hingga akhirnya sang maba bercerita soal profesi sang ayah yakni seorang karyawan swasta bergaji kecil.
KDM lantas bertanya soal biaya kosan sang maba.
Mendengar biaya kosan sang maba yang cukup tinggi, KDM mengurungkan niatannya untuk membantu.
"Kamu berapa biaya kosnya?" tanya KDM.
"Rp9 juta pertahun," kata maba.
"Mahal. Berarti orangtua yang mampu. Sudah dibayar setahun?" tanya KDM.
"Sudah," ujar Maba.
"Masalahnya apa kalau gitu? kamu tuh cukup ngapain bermental enggak cukup?" imbuh KDM.
Sembari tertawa, sang maba pun mengurai alasannya maju ke depan.
Ia mengaku hanya ingin bertemu tatap muka dengan KDM.
"Biar bisa ketemu pak KDM aja," imbuh Maba.
"Ya udah salaman," ujar KDM.
(TribunTrends/TribunBogor)