Mengenal Tugu Golong Gilig, Cikal Bakal Tugu Pal Putih Jogja
Joko Widiyarso August 14, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Jika Anda melihat ke arah tenggara dari Tugu Pal Putih Yogyakarta, mungkin akan menemukan tulisan "Tugu Golong Gilig" yang menjadi pengingat bahwa bangunan yang berdiri saat ini memiliki sejarah panjang.

Tugu Jogja yang sekarang ternyata tidak memiliki bentuk yang sama dengan tugu yang pertama kali dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sebelum dikenal sebagai Tugu Pal Putih, bangunan tersebut merupakan Tugu Golong Gilig.

Tugu ini dibangun pada masa awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan menjadi salah satu bagian penting dari tata ruang kota Yogyakarta.

Bentuknya pun sangat berbeda dengan Tugu Jogja yang dapat dilihat saat ini.

Dahulu, Tugu Golong Gilig memiliki tinggi sekitar 25 meter dengan bagian atas berbentuk bulat. Bentuk tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tugu ini disebut Golong Gilig.

Lantas, seperti apa sebenarnya bentuk Tugu Golong Gilig dan mengapa akhirnya berubah menjadi Tugu Pal Putih?

Kapan Tugu Golong Gilig Dibangun?

Tugu Golong Gilig dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta.

Pembangunannya dilakukan setelah berdirinya Keraton Yogyakarta pada pertengahan abad ke-18.

Tugu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah atau penunjuk arah. Keberadaannya juga berkaitan erat dengan konsep tata ruang dan filosofi yang digunakan dalam pembangunan Yogyakarta.

Tugu Golong Gilig berada pada salah satu titik penting Sumbu Filosofis Yogyakarta, yang membentang dari Panggung Krapyak di bagian selatan, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu di bagian utara.

Sumbu tersebut kemudian berlanjut secara imajiner menuju Gunung Merapi.

Karena itu, keberadaan tugu sejak awal memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bangunan penanda jalan.

Mengapa Disebut Tugu Golong Gilig?

Nama Golong Gilig berasal dari istilah dalam bahasa Jawa yang menggambarkan bentuk bangunan tersebut.

"Golong" dapat dimaknai sebagai sesuatu yang berbentuk bulat atau tidak memiliki sudut, sedangkan gilig berkaitan dengan bentuk yang bulat memanjang atau silinder.

Jika dilihat dari bentuk aslinya, bagian atas Tugu Golong Gilig memang berbentuk bulat, sementara bagian tubuhnya berbentuk silinder.

Bentuk tersebut kemudian memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan.

Dalam pemaknaan budaya Yogyakarta, Golong Gilig juga sering dikaitkan dengan konsep "Manunggaling Kawula Gusti", yaitu hubungan antara manusia dan Tuhan.

Makna tersebut kemudian berkembang dalam konteks hubungan antara pemimpin dan rakyat.

Dengan demikian, Tugu Golong Gilig tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol hubungan antara manusia, pemimpin, rakyat, dan Tuhan dalam pandangan filosofis masyarakat Jawa.

Seperti Apa Bentuk Tugu Golong Gilig?

Sejarah Tugu Golong Gilig sebelum menjadi Tugu Pal Putih
Sejarah Tugu Golong Gilig sebelum menjadi Tugu Pal Putih (ullensentalu)

Bentuk Tugu Golong Gilig pada masa lalu sangat berbeda dengan Tugu Jogja yang sekarang.

Tugu lama diperkirakan memiliki tinggi sekitar 25 meter.

Bagian tubuhnya berbentuk silinder atau bulat memanjang. Sementara itu, bagian puncaknya memiliki bentuk bulat.

Bentuk tersebut memberikan kesan bahwa bagian badan dan puncak tugu menyatu menjadi satu kesatuan.

Karena bentuknya tersebut, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Tugu Golong Gilig.

Tugu ini juga berwarna putih, yang kemudian menjadi salah satu unsur yang masih dipertahankan pada Tugu Pal Putih hingga sekarang.

Mengapa Tugu Golong Gilig Runtuh?

Perjalanan Tugu Golong Gilig mengalami perubahan besar pada 10 Juni 1867.

Pada hari tersebut terjadi gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta dan wilayah sekitarnya.

Gempa tersebut menyebabkan Tugu Golong Gilig mengalami kerusakan parah hingga akhirnya runtuh.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Tugu Yogyakarta.

Setelah mengalami kerusakan, tugu tidak langsung dibangun kembali dalam bentuk semula.

Selama kurang lebih dua dekade, kondisi tugu mengalami perubahan sebelum akhirnya dilakukan pembangunan kembali pada akhir abad ke-19.

Kapan Tugu Yogyakarta Dibangun Kembali?

Tugu kemudian dibangun kembali pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Pembangunan kembali selesai pada 3 Oktober 1889.

Namun, bentuk bangunan yang baru tidak lagi sama dengan Tugu Golong Gilig.

Bentuknya dibuat lebih pendek dengan bagian atas yang lebih meruncing. Bangunan baru inilah yang kemudian dikenal sebagai Tugu Pal Putih atau De Witte Paal pada masa kolonial.

Perubahan tersebut membuat Tugu Yogyakarta yang sekarang terlihat sangat berbeda dengan bentuk aslinya.

Mengapa Bentuk Tugu Diubah?

Perubahan bentuk Tugu Golong Gilig menjadi Tugu Pal Putih menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah bangunan tersebut.

Secara fisik, tugu baru dibuat lebih pendek dan memiliki bentuk yang lebih geometris serta meruncing.

Perubahan ini terjadi dalam konteks Yogyakarta pada masa kolonial Belanda.

Sejumlah kajian sejarah dan budaya juga menghubungkan perubahan bentuk tersebut dengan perubahan hubungan politik antara Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah kolonial.

Namun, anggapan bahwa perubahan tersebut semata-mata bertujuan menghilangkan simbol persatuan antara Sultan dan rakyat sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta tunggal. Interpretasi mengenai makna perubahan bentuk tugu masih menjadi bagian dari pembahasan sejarah dan kajian budaya Yogyakarta.

Yang jelas, perubahan tersebut membuat bentuk Tugu Yogyakarta tidak lagi sama dengan Tugu Golong Gilig yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Apa Hubungan Tugu dengan Sumbu Filosofis Yogyakarta?

Tugu merupakan salah satu bagian penting dari Sumbu Filosofis Yogyakarta.

Sumbu tersebut membentuk garis imajiner yang menghubungkan beberapa tempat penting, mulai dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu dan berlanjut menuju Gunung Merapi.

Rangkaian tersebut tidak dibuat secara sembarangan.

Tata ruang tersebut mengandung pandangan filosofis mengenai perjalanan kehidupan manusia, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Tuhan.

Karena berada di salah satu ujung utara sumbu tersebut, Tugu memiliki kedudukan penting dalam tata ruang filosofis Yogyakarta.

Apa Makna Tugu Golong Gilig bagi Yogyakarta?

Tugu Golong Gilig menjadi pengingat bahwa Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam membangun ruang kota yang tidak hanya mempertimbangkan fungsi, tetapi juga nilai filosofis.

Bentuk bulat dan silinder yang menyatu menjadi simbol persatuan.

Makna tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan hubungan antara Sultan dan rakyat, sekaligus hubungan manusia dengan Tuhan.

Meski bentuk Tugu Golong Gilig sudah tidak dapat disaksikan secara langsung seperti dahulu, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan dalam berbagai kajian mengenai Keraton Yogyakarta dan Sumbu Filosofis.

(MG ABIL PRAMUDYA)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.