Miris! UMR Indonesia Terendah se-Asia, Raymond Chin Ungkap Cara Lolos dari Jebakan Gaji
Budi Sam Law Malau August 14, 2026 03:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Fenomena rendahnya Upah Minimum Regional (UMR) di Indonesia kembali menjadi sorotan hangat.

Pengusaha milenial sekaligus kreator konten, Raymond Surya Chin, secara gamblang membongkar benang kusut struktur pengupahan di Tanah Air melalui unggahan terbaru di kanal YouTube-nya, Kamis (13/8/2026).

Dengan nada prihatin namun lugas, Raymond menyebutkan bahwa pekerja Indonesia dihadapkan pada kenyataan pahit: jam kerja panjang dan tenaga terkuras, namun kompensasi yang diterima jauh dari kata seimbang.

"Kerja keras doang enggak mungkin bisa ngejar harga aset rumah dan teman-temannya. Bahasa simpelnya, mayoritas warga Indonesia hidup di bawah keterbatasan layak," tegas Raymond.

Satu Dolar per Jam

Dalam analisisnya, Raymond membeberkan data yang cukup menyentak.

Untuk pekerja full-time, rata-rata upah pekerja di Indonesia hanya berkisar US$ 1 per jam (sekitar Rp195 per bulan secara akumulatif harian).

Angka ini menempatkan Indonesia di bawah negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Kamboja (US$ 1,1/jam), Malaysia (US$ 3,7/jam), bahkan Singapura (US$ 24/jam).

Laporan dari Velocity Global bahkan memasukkan Indonesia ke dalam daftar 10 negara dengan upah minimum terendah di dunia, bersanding dengan Nigeria dan Uzbekistan.

Tak hanya nominal gaji yang kecil, daya beli lokal (local purchasing power) Indonesia juga tergolong lemah, yakni hanya berada di skor 28,5, jauh tertinggal dari Malaysia yang mencapai 76,3.

Perbandingan Upah Per Jam di Asia Tenggara (Estimasi Data):

Singapura  : US$ 24,0 / jam
Malaysia   : US$  3,7 / jam
Kamboja    : US$  1,1 / jam
Indonesia  : US$  1,0 / jam

Mengapa Kenaikan UMR Selalu Tertinggal dari Biaya Hidup?

Banyak pihak mempertanyakan mengapa kenaikan UMR tahunan—seperti UMP Jakarta yang mencapai sekitar Rp5,7 juta—tetap terasa kurang.

Menurut data Numbeo, biaya hidup lajang di Jakarta bisa menyentuh Rp7 juta per bulan di luar biaya sewa tempat tinggal.

Raymond menjelaskan bahwa masalah utamanya terletak pada falsafah rumus penentuan UMP itu sendiri (sebagaimana diatur dalam regulasi seperti PP No. 49 Tahun 2025):

 * Bukan untuk Hidup Layak: Rumus yang menggunakan variabel inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks alfa (0,5–0,9) didesain sebagai jalan tengah agar ekonomi tidak goyang dan pengusaha tidak keberatan—bukan dihitung dari angka murni kebutuhan hidup layak.

* Penurunan Upah Riil: Data Bank Dunia (2018–2024) mencatat upah riil di Indonesia justru tergerus rata-rata 1,1 persen per tahun. Artinya, meski nominal UMR naik, daya beli masyarakat riilnya justru makin merosot.

 * Pekerjaan Nilai Tambah Rendah: Mayoritas lapangan kerja baru yang tercipta berada di sektor dengan nilai tambah rendah (low value-added) yang tidak sanggup membayar upah kelas menengah.

Baca juga: Ini Perbudakan! Kata Said Iqbal Soroti Upah Rp500 Ribu Korban Penyekapan di Senen

Jebakan Sektor Informal dan Dilema UMKM

Masalah struktural ini kian kompleks karena 60 % tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal (freelancer, pekerja sampingan, buruh lepas) yang sama sekali tidak tersentuh oleh regulasi UMR.

Di sisi lain, 90 % dunia usaha di Indonesia didominasi oleh UMKM.

Meski terdapat aturan batas bawah gaji UMKM (seperti pada PP No. 36 Tahun 2021), pengawasannya sangat minim di lapangan.

Peneliti LPEM FEB UI bahkan menemukan sekitar 14 juta pekerja Indonesia—termasuk lulusan sarjana dan pekerja kantoran (white-collar)—masih digaji di bawah UMP karena tingginya tingkat persaingan pencari kerja.

Solusi: Dari Kebijakan Negara Hingga Langkah Mandiri

Untuk memutus rantai masalah ini, Raymond membagikan pandangannya baik dari kacamata makro maupun mikro.

1. Langkah Kebijakan (Pemerintah & Industri)
 * Pengawasan Batas Bawah UMKM + Insentif: Meniru langkah Malaysia yang menerapkan upah minimum secara menyeluruh, pemerintah Indonesia disarankan memberi insentif seperti PPh 21 yang ditanggung negara bagi sektor padat karya agar pengusaha tidak terbebani.

 * Peningkatan Kualitas SDM: Memperbaiki pendidikan vokasional dan menarik investasi asing di sektor bernilai tinggi (high-value industries).

2. Langkah Mandiri (Rute Keluar dari Jebakan UMR)
Bagi individu yang ingin lepas dari keterbatasan gaji lokal, Raymond memberikan dua rute paling rasional saat ini:

* Membangun Usaha (Wirausaha): Meskipun berisiko dan membutuhkan modal, opsi ini tetap menjadi jalur paling ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan finansial secara signifikan.

* Menjangkau Pasar Kerja Global (Remote Work & Talent Hijack): Memanfaatkan era digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Saat ini banyak perusahaan asing yang merekrut developer, engineer, hingga talenta digital Indonesia secara remote dengan standar gaji ribuan Dolar AS.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.