TRIBUNWOW.COM - Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin memuji Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai kompak dan saling melengkapi dalam menjalankan pemerintahan.
Pujian tersebut disampaikan Sultan dalam pidato sambutannya pada Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Sultan, kekompakan Prabowo dan Gibran terlihat dari upaya keduanya sebagai pemimpin dalam menjaga martabat bangsa.
"Pada kesempatan ini, DPD RI menyampaikan apresiasi yang tulus kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang secara kompak dan saling melengkapi dalam menegakkan martabat bangsa," kata Sultan.
Selain memuji kepemimpinan Prabowo-Gibran, Sultan juga mengapresiasi berbagai program pemerintah yang berorientasi pada kemandirian ekonomi nasional.
Baca juga: Detik-detik Prabowo Tiba di DPR, Kenakan Peci Hitam dan Dasi Biru Muda
Menurutnya, program-program tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian dinamika geopolitik global.
"Apresiasi atas berbagai program yang berorientasi pada kemandirian ekonomi nasional di tengah ketidakpastian dinamika geopolitik dunia," ujar Sultan.
Sultan juga menilai pemerintah telah mengambil sejumlah langkah strategis yang sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 mengenai pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.
"Presiden Prabowo telah membuat langkah strategis untuk mengembalikan penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat, sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," jelas Sultan.
Sultan kemudian mengibaratkan transformasi ekonomi yang diusung Prabowo seperti mencabut duri dalam daging.
Baca juga: Momen Prabowo dan Jokowi di Sidang MPR, Saling Hormat hingga Beri Jempol
Menurutnya, proses transformasi tersebut mungkin menimbulkan ketidaknyamanan dalam jangka pendek. Namun, langkah tersebut diperlukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi hambatan.
"Transformasi ekonomi yang diusung Presiden Prabowo ibarat mencabut duri dalam daging. Mencabut duri tentu tidak nyaman, ada rasa perih, bahkan sedikit pendarahan. Namun, selama duri itu tetap tertancap, luka tidak akan pernah benar-benar sembuh," kata Sultan.