Liputan6.com, Bogota - Di tengah puing-puing dan bangunan yang rusak akibat gempa dahsyat di Kolombia, seorang musisi memilih memberikan bantuan dengan cara yang sederhana: menawarkan pelukan gratis kepada siapa pun yang membutuhkannya.
Dikutip dari France24, Jumat (14/8/2026), Andres Solomon, 46 tahun, menghabiskan hari-harinya di kawasan Capri, Kota Cali, salah satu wilayah yang terdampak parah gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang Kolombia pada Senin.
Kawasan Capri yang sebelumnya ramai kini berubah drastis. Puing-puing bangunan dan logam yang bengkok terlihat di berbagai tempat. Di tengah situasi tersebut, Solomon berdiri di bawah rindangnya pepohonan dengan sebuah papan kardus bertuliskan “HUGS HERE” atau “Pelukan di Sini”.
Solomon mengatakan dirinya ingin membantu warga yang tengah menghadapi trauma akibat bencana tersebut.
“Kami sedang mengalami trauma kolektif, dan saya pikir cara terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu adalah memberikan energi yang saya miliki dan vitalitas yang masih tersisa,” ujar Solomon kepada AFP.
Menurut Solomon, bantuan kepada korban gempa tidak cukup hanya berupa kebutuhan material seperti makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis. Dukungan emosional juga diperlukan untuk membantu mereka menghadapi rasa kehilangan dan kesedihan.
Ia meyakini mendengarkan cerita para korban, memeluk mereka, merasakan kesedihan yang mereka alami, serta mengajak mereka melepaskan rasa sakit merupakan bagian penting dari proses tersebut.
Gagasan Solomon mendapat respons dari sejumlah relawan yang turut memberikan dukungan emosional kepada para penyintas ketika batas kritis 72 jam pencarian korban yang masih hidup berakhir pada Kamis pagi.
Tak hanya warga yang terdampak, layanan pelukan gratis itu juga dimanfaatkan oleh para penyelamat, relawan, petugas logistik, tenaga kesehatan, dan pejabat setempat yang selama beberapa hari menghadapi situasi penuh tekanan.
“Ini adalah sebuah pelepasan,” kata Solomon.
Menurutnya, banyak orang berusaha menyimpan emosinya karena merasa harus tetap kuat agar bisa membantu orang lain.
“Penting untuk melepaskan semua rasa sakit yang kita rasakan saat ini,” tambahnya.
Lyda Arias, 72 tahun, yang merupakan Presiden Konfederasi Evangelikal Kolombia, juga merasakan beratnya situasi tersebut.
“Melihat rasa sakit ini menyentuh saya hingga ke lubuk hati, membayangkan bahwa masih ada orang yang terkubur hidup-hidup,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa hukum berusia 21 tahun, Oriana Ordonez, mengatakan teman-temannya mengalami masa yang sangat berat.
“Banyak dari mereka kehilangan rumah,” katanya.
Menurut Ordonez, sebagian orang berusaha terlihat kuat di hadapan orang lain, tetapi sebenarnya mereka sangat sedih.
Gempa dahsyat tersebut menewaskan sedikitnya 273 orang dan melukai ribuan lainnya. Hingga kini, ratusan orang masih dinyatakan hilang.