BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suara petikan senar dambus perlahan memenuhi ruang. Tidak tergesa-gesa, tidak pula berusaha mencuri perhatian, tetapi cukup untuk membuat percakapan tentang musik tradisional Bangka terasa lebih dekat dengan kenyataan.
Syaputra Hadi Wijaya, orang-orang mengenalnya dengan nama Putra Gonk, seorang musisi berusia 33 tahun ini sebagian waktunya dihabiskan untuk memainkan, mengembangkan, sekaligus mengajarkan musik tradisional Bangka Belitung.
Putra lahir di Pangkalpinang pada 28 November 1992. Kini ia tinggal di kawasan Jalan Fajar Air Itam. Sehari-hari ia sebagai pengajar musik tradisi di beberapa sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Kesibukannya tidak berhenti di ruang kelas. Ia mendirikan Rampai Bunyi, sebuah komunitas yang menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal dambus dan berbagai musik tradisional Bangka lainnya.
Di luar kegiatan komunitas, Putra juga memberikan les privat musik kepada sekitar 30 anak di sekitar Kecamatan Bukit Intan. Anak-anak yang ia ajar berada pada rentang usia sekitar delapan tahun hingga tingkat sekolah menengah pertama.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Putra. Ia tidak tumbuh dari keluarga yang sejak awal menempatkannya di tengah dunia musik tradisional, juga tidak langsung jatuh cinta kepada dambus ketika pertama kali melihatnya.
Dambus justru datang perlahan, hampir seperti suara yang mula-mula hanya terdengar dari kejauhan.
Setelah menamatkan pendidikan di SMK 4 Pangkalpinang pada 2010, Putra sering melihat aktivitas di sanggar milik pamannya, Sanggar Kom Production, yang berada di sekitar Kerabut. Di tempat itu, orang-orang berlatih musik tradisional hampir setiap hari.
Awalnya ia hanya melihat. Musik tradisional belum menjadi sesuatu yang ingin ia tekuni.
Namun, suara latihan yang berulang kali didengarnya akhirnya membuka pintu rasa ingin tahu. Dari sekadar menjadi orang yang melihat, Putra perlahan ikut mencoba.
Tahun 2011 menjadi titik awalnya tampil di depan umum. Dari kegiatan dan lomba yang diikutinya, perjalanan Putra sebagai pelaku seni semakin panjang.
Ia mengikuti berbagai kegiatan, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan tari dan musik tradisional. Langkah itu kemudian membawanya ke berbagai panggung di luar daerah, bahkan hingga Ambon.
Puncaknya datang pada 2018. Putra mendapatkan penghargaan sebagai penata musik terbaik se-Indonesia dalam sebuah kegiatan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Namun, sebelum sampai pada penghargaan itu, ada proses panjang yang ia jalani sendiri. Untuk dambus, Putra belajar secara otodidak.
“Otodidak sebenarnya,” ujarnya.
Saat itu tidak ada orang yang secara khusus mengajarinya bermain dambus di sanggar. Tetapi Putra sudah memiliki dasar bermain gitar sehingga ia merasa lebih mudah menuangkan pengetahuan musik yang dimilikinya ke dalam dambus.
Ketertarikannya pada musik tradisional pun tidak hanya tumbuh karena suara alat musiknya. Ada hal lain yang pada awalnya membuatnya tertarik, kesempatan untuk pergi ke berbagai daerah melalui festival dan kegiatan kesenian.
Ketika sebuah tim kesenian Bangka Belitung membutuhkan pemain musik tradisional, dambus menjadi salah satu bagian yang dibutuhkan. Dari situlah Putra mulai melihat bahwa kemampuan yang sedang dipelajarinya dapat membawanya bertemu dengan tempat-tempat dan pengalaman baru.
“Kalau belajar musik modern udah banyak, jadi belum tentu diikutsertakan apalagi banyak saingan,” katanya.
Seiring waktu, alasan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dambus tidak lagi sekadar alat untuk mendapatkan kesempatan tampil.
Putra mulai mencari tahu dari mana musik tersebut berasal. Ia beberapa kali mendatangi perkampungan untuk belajar dan bertanya tentang sejarah musik tradisional Bangka Belitung.
Salah satunya adalah Kampung Namang. Di sana, ia bertemu dengan salah seorang pembuat alat musik dambus dan banyak menggali pengetahuan mengenai alat musik tersebut serta musik tradisional Bangka Belitung lainnya.
Bagi Putra, mengenal dambus tidak cukup hanya dengan mengetahui cara memetik senarnya. Ada cerita yang harus diketahui, ada tradisi yang perlu dipahami, dan ada jejak budaya yang tidak boleh hilang begitu saja.
Dari pemahaman itu pula, Putra kemudian memilih jalan pengembangan.
Ia tidak selalu memainkan dambus dalam bentuk tradisional yang sepenuhnya otentik. Untuk kebutuhan tari, film, dan pertunjukan, ia mengambil warna musik tradisional dambus kemudian mengolahnya dengan sentuhan yang lebih modern.
“Saya lebih ke pengembangan,” katanya.
Baginya, pengembangan tersebut merupakan salah satu cara agar musik tradisional dapat diterima oleh pendengar masa kini tanpa kehilangan warna asalnya.
Nama Putra kemudian hadir dalam sejumlah karya. Ada Urang Laut, Urang Bubung yang bercerita tentang Suku Mapur, Relung, Tuah Pesisir, Renjana Kala, Syair Laut, hingga Kandung Kelebu.
Sekitar sepuluh karya telah dirilis. Karya-karya tersebut kemudian menemukan rumahnya masing-masing di berbagai ruang digital, mulai dari TikTok, Instagram, YouTube, hingga Spotify.
YouTube lebih banyak ia gunakan sebagai portofolio. Sementara media sosial lainnya menjadi salah satu tempat karya-karyanya berseliweran dan bertemu dengan pendengar.
Dari layar-layar kecil itulah musik yang lahir dari Bangka mulai berjalan lebih jauh. Grafik pada insight media sosialnya, kata Putra, terus menunjukkan perkembangan.
Namun ada satu karya yang kisahnya terasa lebih dekat dengan masyarakat yang menjadi sumber ceritanya.
Kandung Kelebu lahir dari keterlibatan Putra dengan masyarakat Suku Mapur di Gebong Memarong, Belinyu. Lagu itu bercerita tentang perjalanan hidup.
Putra tidak sekadar mengambil cerita dari kejauhan. Ia mengikuti kegiatan masyarakat, menulis lirik, kemudian meminta izin untuk mempublikasikan karya tersebut.
Jawaban itu tidak datang segera. Ia harus menunggu sekitar satu tahun hingga akhirnya karya tersebut dapat dirilis.
Kini, lagu itu telah kembali kepada masyarakat yang menjadi bagian dari ceritanya. Kandung Kelebu kerap dinyanyikan oleh masyarakat Suku Mapur dan digunakan dalam pertunjukan ketika wisatawan berkunjung ke Gebong Memarong.
Putra juga beberapa kali diminta tampil dalam pesta adat mereka.
Setelah percakapan mengenai perjalanan karya itu selesai, Putra mengambil dambusnya.
Suasana berubah. Percakapan yang sejak tadi berjalan dari satu cerita ke cerita lain sejenak berhenti, digantikan oleh petikan senar.
Kandung Kelebu.
Nada demi nada keluar dari dambus yang berada di tangannya. Tidak ada lagi cerita tentang bagaimana lagu itu dibuat, karena untuk beberapa saat lagu itu sendiri yang bercerita.
Kandung Kelebu mengalir sebagai sebuah karya tentang perjalanan hidup. Lagu yang sebelumnya didengarkan sebagai bagian dari cerita Putra, kini terdengar dalam bentuk yang lebih nyata dengan senar, suara, dan petikan yang dimainkan langsung.
Setelah lagu selesai, percakapan kembali berjalan.
Putra kemudian berbicara tentang hal yang menurutnya jauh lebih besar daripada sebuah karya atau pertunjukan, yaitu regenerasi.
Baginya, tantangan terbesar dalam menjaga dambus bukan hanya persoalan bagaimana membuat musik itu tetap dimainkan, tetapi bagaimana memastikan ada orang-orang yang mau mengenal dan mempelajarinya setelah generasi sekarang.
“Dambus ini sebenarnya bukan hanya musik yang kita dengarkan untuk sekadar hiburan,” ujarnya.
Ia melihat dambus sebagai salah satu akar budaya Bangka Belitung. Di dalamnya ada tradisi, pantun, dan identitas masyarakat.
Menurut Putra, persoalannya adalah musik tradisional sering kali hanya muncul ketika ada kegiatan tertentu. Ia khawatir musik yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat justru berakhir sebagai sesuatu yang hanya muncul ketika panggung dibutuhkan.
“Musik tradisi kita hanya dipertontonkan saja, bukan menjadi sumber pembelajaran,” katanya.
Padahal, menurutnya, musik dapat menjadi pintu masuk untuk mengajarkan kebudayaan kepada anak-anak. Pantun, misalnya, dapat diperkenalkan melalui musik sehingga proses belajar terasa lebih dekat dengan dunia mereka.
Pemikiran itulah yang membuat Putra membangun Rampai Bunyi.
Ia memilih memulai dari lingkup kecil. Anak-anak diajak mengenal musik tradisional, belajar memainkannya, dan perlahan memahami bahwa suara yang mereka dengarkan merupakan bagian dari budaya tempat mereka tumbuh.
Menurut Putra, masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan ketika tidak mengenal musik tradisional. Seniman juga memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat dan memperkenalkan karya mereka.
“Jangan juga kita salahkan kepada orang yang tidak tahu,” ujarnya.
Sebab, menurutnya, jika para seniman tidak pernah muncul, tidak pernah tampil, dan tidak pernah melakukan edukasi kepada masyarakat, bagaimana orang lain bisa mengenal apa yang sedang diperjuangkan?
Bagi Putra sendiri, dambus memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sebuah alat musik.
Ia menunjuk pada bentuk kepala rusa yang terdapat pada ujung dambus. Menurutnya, rusa memiliki kaitan dengan tanah Bangka karena dahulu banyak ditemukan di wilayah tersebut, sekaligus dipandang sebagai binatang yang bijak.
Dari bentuk itu saja, menurut Putra, sudah ada cerita mengenai identitas daerah.
Dambus menjadi semacam penanda. Ia membawa nama tempat asalnya melalui bunyi, bentuk, dan cerita yang menyertainya.
Karena itu, Putra tidak ingin pelestarian dambus hanya berhenti pada acara-acara seremonial. Ia berharap ada ruang yang lebih luas bagi seniman untuk mengajar, berkarya, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Ia bahkan membayangkan ruang-ruang publik dapat menjadi tempat belajar musik tradisional. Tidak harus selalu dimulai dengan program besar, sebab baginya gerakan kecil pun dapat menjadi awal.
“Harapannya kita buat pergerakan di lingkup kecil dulu untuk memperkenalkan musik dambus,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah membuat program kebudayaan yang benar-benar mendukung para pelakunya. Menurutnya, seniman bukan sekadar pelengkap sebuah pertunjukan, tetapi bagian yang hidup dari kebudayaan itu sendiri.
“Dambus ini apalagi seniman ini kan sesuatu yang hidup,” ujarnya.
Putra telah memilih caranya sendiri untuk menjaga kehidupan itu tetap berjalan. Ia mengajar anak-anak, mendirikan komunitas, menciptakan karya, membawa musiknya ke media sosial, hingga mempertemukannya dengan masyarakat yang menjadi sumber cerita.
Di tempat lain, mungkin ada anak yang baru pertama kali memegang dambus. Mungkin pula ada seseorang yang baru mendengar namanya melalui sebuah video yang lewat di layar ponsel.
Bagi Putra, semuanya dapat menjadi awal.
Sebab musik tradisional tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk tetap hidup. Kadang-kadang ia hanya membutuhkan satu orang yang mau mengajarkan, satu anak yang mau belajar, dan sepasang tangan yang bersedia kembali memetik senar.
Dan selama petikan itu masih terdengar, suara dambus masih memiliki jalan untuk pulang ke tanah yang melahirkannya. (Bangkapos.com/Sumanti)