BANGKAPOS.COM, PANGKALPINANG -- Menelusuri jejak perjuangan Depati Amir, pahlawan nasional pertama dari Bangka Belitung, sekaligus menggali makna perjuangannya bagi generasi hari ini.
Dalam Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Jumat (14/8/2026), kami berbincang secara eksklusif bersama Sejarawan sekaligus Budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian.
Di balik nama yang selama ini melekat pada berbagai fasilitas publik, tersimpan kisah panjang tentang perlawanan, kepemimpinan, keberanian, hingga pengorbanan Depati Amir dalam menghadapi kolonialisme Belanda.
Lantas, seperti apa sebenarnya sosok Depati Amir serta apa pesan perjuangannya yang masih relevan untuk Bangka Belitung hari ini?
Simak wawancara eksklusif Dialog Ruang Tengah Bangka Pos bersama Dato’ Akhmad Elvian, yang mengungkap jejak perjuangan Depati Amir dari Bangka hingga tanah pengasingannya di Kupang.
Q: Pak Elvian, masyarakat Bangka Belitung sebenarnya sudah sangat familiar dengan nama Depati Amir. Nama beliau digunakan untuk berbagai fasilitas publik, seperti Bandara Depati Amir, Stadion Depati Amir, Jalan Depati Amir, hingga sejumlah ruangan dan fasilitas lainnya.
Namun, mungkin belum banyak masyarakat yang benar-benar mengetahui seperti apa sosok Depati Amir dan bagaimana perjuangannya.
Q: Menurut Bapak, apa makna kehadiran patung Depati Amir yang baru dibangun ini bagi masyarakat Bangka Belitung?
A: Selama ini masyarakat memang lebih banyak mengenal sosok Depati Amir melalui penamaan berbagai sarana monumental. Ada Bandara Depati Amir, Stadion Depati Amir, Jalan Depati Amir, dan berbagai fasilitas lainnya. Jadi, memori kolektif masyarakat terhadap Depati Amir selama ini lebih banyak terbentuk melalui nama-nama tersebut. Persoalannya, seperti apa sebenarnya sosok Depati Amir itu, masyarakat belum sepenuhnya mengetahuinya. Karena itu, untuk melengkapi memori kolektif masyarakat mengenai pahlawan Bangka Belitung, kita perlu merekonstruksi kembali gambaran tentang sosok Depati Amir. Dari hasil rekonstruksi lukisan itulah kemudian dibuat patung.
Patung Depati Amir sendiri ada dua. Pertama, patung setengah badan dengan tinggi sekitar 1,5 meter yang ditempatkan di depan Museum Timah Indonesia Pangkalpinang. Kemudian di dalam museum juga dibuat galeri khusus mengenai tindak kepahlawanan Depati Amir. Kalau masyarakat ingin melihat sejarah singkat Depati Amir dalam bentuk tata pamer, bisa datang ke Galeri Tindak Kepahlawanan Depati Amir di Museum Timah Indonesia. Di sana juga bisa dilihat pakaian Depati Amir yang sangat unik. Setelah saya kaji, pakaian tersebut ternyata terbuat dari kulit kayu. Kemudian ada keris khas Bangka yang disebut siwar, serta penutup kepala atau destar. Lalu ada patung utuh yang ditempatkan di pertigaan depan Kantor Timah dengan tinggi 3,5 meter.
Q: Kalau kita fokus kepada sosoknya, sebenarnya siapa Depati Amir dan seberapa penting perannya bagi masyarakat Bangka Belitung?
A: Depati Amir adalah putra sulung Depati Bahar. Depati Bahar mempunyai istri bernama Dakim. Anak tertuanya adalah Amir yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Depati Amir.
Setelah Amir, ada putra berikutnya bernama Hamzah. Di Kupang dia dikenal sebagai Depati Cing atau Depati Hamzah. Namanya kemudian diabadikan menjadi Jalan Depati Hamzah di Semabung dan Rumah Sakit Depati Hamzah. Sebagai putra sulung, Depati Amir sebenarnya sudah ikut berperang bersama ayahnya melawan Pemerintah Hindia Belanda.
Depati Bahar sendiri telah melakukan perlawanan sejak 1819 hingga 1828.
Pada 1819, usia Depati Amir sekitar 21 tahun. Jadi, sejak usia muda dia sudah menjadi salah satu panglima pasukan ayahnya.
Q: Jadi sejak awal beliau sudah menjadi panglima perang ayahnya?
A: Betul. Dia menjadi salah satu panglima perang Depati Bahar. Perlawanan Depati Bahar berlangsung sangat hebat selama hampir satu dekade, dari 1819 sampai 1828. Untuk memahami perlawanan itu, kita harus melihat latar belakangnya.
Pada 1819, kondisi keuangan kerajaan Belanda sedang kosong akibat perang di Eropa. Kemudian pemerintah membuat berbagai kebijakan, salah satunya di Bangka.
Belanda mengeluarkan Tinreglement, yaitu peraturan mengenai timah yang menetapkan bahwa timah menjadi monopoli pemerintah. Tambang-tambang timah swasta atau particuliere dilarang dibuka. Dengan demikian, seluruh tambang dinyatakan sebagai milik pemerintah.
Padahal sebelumnya, pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, masyarakat dapat menambang timah dengan izin sultan melalui pejabat kesultanan di Bangka, seperti depati, batin, gegading, dan lenggang.
Orang-orang Tionghoa juga memiliki kongsi-kongsi pertambangan timah. Mereka membuka tambang dengan ketentuan hasil timah dijual kepada sultan.
Sultan memang menerapkan hukuman yang sangat tegas. Siapa pun yang membuka tambang tanpa izin kemudian menjual timah di luar dan tidak menyerahkannya kepada sultan dapat dikenai hukuman mati. Kemudian ketika Belanda mengeluarkan undang-undang yang menetapkan semua tambang menjadi milik pemerintah, para elite lokal, depati, pemilik kongsi, dan kelompok yang selama ini memiliki kepentingan ekonomi dari timah merasa dirugikan. Dari situlah muncul perlawanan.
Puncaknya, perlawanan Depati Bahrin begitu kuat sampai Residen Bangka pada waktu itu berhasil dibunuh atas perintahnya. Di Bangka, itu merupakan peristiwa yang luar biasa. Bahkan belum banyak catatan dalam sejarah Indonesia mengenai rakyat yang berperang hingga berhasil membunuh pejabat setingkat residen. Lebih menarik lagi, perlawanan Bahrin harus dihadapi dengan kekuatan Legiun Mangkunegaran yang didatangkan dari Jawa. Mereka terdiri atas pasukan infanteri dan kavaleri berkuda. Sekitar 70 ekor kuda didatangkan untuk menghadapi Depati Bahrin.
Q: Depati Amir sendiri menyandang gelar Depati pada 1830. Apakah sebelum mendapatkan gelar tersebut dia sudah memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat?
A: Sudah. Pertama karena dia merupakan putra Depati Bahrin Kedua karena dia seorang panglima perang. Ada satu peristiwa penting pada 1847. Sebelum perang kembali pecah, kondisi Bangka sebenarnya tidak aman karena banyak serangan bajak laut.
Amir bersama ayahnya ikut menumpas bajak laut di perairan Bangka. Setelah itu masyarakat menjadi lebih aman dan tenteram. Jadi pengaruh Amir terhadap masyarakat memang sangat besar.
Q: Kalau Bapak melihat dari berbagai literatur sejarah, seperti apa karakter Depati Amir sebagai pemimpin sehingga masyarakat begitu loyal mendukung perjuangannya?
A: Kalau kita membaca literatur sejarah, Depati Amir digambarkan sebagai sosok yang sangat berbahaya bagi Belanda. Tentu berbahaya dalam tanda kutip, karena dia sangat melindungi rakyatnya.
Dia juga sangat peka terhadap hal-hal yang berbau Belanda maupun berbagai bentuk ketidakadilan di tengah masyarakat. Ada satu peristiwa ketika Amir berusaha menangkap Jambil, putra Batin Mendo Timur. Jambil dianggap melanggar hukum adat dan harus membayar denda sebesar 25 ringgit. Artinya, Amir berusaha menegakkan hukum adat di Bangka. Namun, Jambil dan ayahnya kemudian melaporkan Amir kepada hofjaksa Belanda dengan tuduhan bahwa Amir melakukan pemerasan.
Padahal yang dilakukan Amir adalah menegakkan hukum adat. Dalam catatan Eropa, Amir dan Bahar juga digambarkan sebagai gerilyawan yang sangat ulung. Ketika terdesak dalam pertempuran, mereka mampu meloloskan diri dan menghilang.
Catatan Belanda juga menggambarkan Amir sebagai sosok dengan tubuh tegap dan kekar serta sangat mencintai keluarganya. Hal itu terlihat pada 1848 ketika dia dipanggil jaksa Belanda ke Pangkalpinang untuk dimintai penjelasan mengenai kasus pelanggaran adat tadi.
Rumah Demang Abdur Rasid di dekat Sungai Rangkui telah dikepung tentara, polisi, dan jaksa. Bahkan makanan Amir sudah diberi racun. Namun Amir berhasil meloloskan diri melalui Sungai Rangkui.
Sementara itu, ibunya, Dakim, saudara perempuannya Ipa Sena, serta anak angkatnya Baidin ditawan Belanda. Penahanan keluarga ini tentu mengganggu konsentrasi perjuangan Amir.
Jadi, Amir adalah sosok yang sangat mencintai keluarga sekaligus rakyatnya.
Kalau dirangkum dalam konteks sejarah, cita-cita hidupnya adalah membebaskan rakyat Bangka dari kezaliman, ketidakadilan, dan kesengsaraan akibat penjajahan Belanda.
Q: Dari banyak tokoh pejuang di Bangka Belitung, seperti Depati Bahar dan Depati Hamzah, apa yang paling membedakan perjuangan Depati Amir?
A: Perbedaannya terutama terletak pada luas dan panjangnya simpul perjuangan. Perlawanan Depati Bahar berhenti pada 1828 karena adanya perundingan. Sementara beberapa tokoh lain memiliki masa perjuangan yang relatif singkat. Depati Amir berbeda. Simpul perjuangannya sangat luas dan berlangsung cukup panjang. Perlawanan Amir hampir mencakup seluruh sepuluh distrik di Bangka.
Dia juga mendapatkan dukungan dari masyarakat Bangka, termasuk orang-orang Tionghoa, orang-orang dari Kerajaan Lingga, Siak, orang laut, dan orang Saka. Karena itu, pertempuran tidak hanya berlangsung di daratan Bangka, tetapi juga di laut, termasuk Teluk Kelabat, Laut Natuna, Laut Jawa, dan Selat Bangka. Pada 1848 hingga 1851, orang bahkan sulit masuk ke Bangka karena situasi keamanan sangat tidak kondusif. Laut Jawa tidak aman, Laut Natuna bagian selatan yang dekat Bangka tidak aman, begitu pula Selat Bangka.
Q: Jadi bisa dikatakan cakupan perjuangan Depati Amir paling luas?
A: Sangat luas. Dan itu tercatat dalam berbagai literatur Belanda. Simpul perlawanannya bahkan sampai Singapura, Eropa, dan wilayah lainnya. Dalam hal persenjataan, Amir juga sudah menerapkan konsep perang modern pada zamannya.
Pasukannya memiliki geweren dan buksen, atau senjata api yang sejenis dengan yang digunakan pasukan Belanda. Belanda mengerahkan kekuatan cukup besar untuk menumpas Amir. Ada empat kompi dari dua batalion, hampir 500 orang, termasuk sekitar 16 perwira Belanda.
Sementara Amir memperoleh sebagian senjatanya dari Singapura. Orang-orang Tionghoa dan para panglimanya menukarkan timah dengan senjata api di Singapura. Karena itulah perang menjadi panjang dan menimbulkan banyak korban di pihak Belanda. Pemerintah Inggris dan Belanda akhirnya sepakat membatasi penjualan senjata api secara bebas di Singapura.
Jadi dampak perlawanan Amir bahkan memiliki simpul hingga perekonomian Eropa. Dampaknya juga terasa sampai Batavia. Akibat perlawanan Depati Amir, sekitar 250 tambang timah milik Belanda berhenti beroperasi.
Kalau ada yang mencoba beroperasi, tambang tersebut dibakar atau diserang. Akibatnya, pemasukan pemerintah Belanda di Batavia terganggu. Keresidenan Bangka kemudian ditetapkan dalam status staat van beleg, yaitu keadaan darurat perang atau darurat militer.
Artinya, untuk menghadapi Amir, Belanda tidak lagi cukup mengandalkan polisi dan jaksa. Mereka harus menggunakan kekuatan militer. Simpul perjuangan itu kemudian berlanjut hingga Keresidenan Timor.
Q: Berarti persoalan tambang timah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pecahnya perlawanan Depati Amir?
A: Betul. Karena perlawanan yang dipimpin Depati Amir, tambang-tambang timah banyak yang tidak beroperasi. Sekitar 5.000 pekerja tambang bahkan menghilang dari lokasi pertambangan.
Sebagian di antaranya bergabung dengan pasukan Amir, termasuk orang-orang Tionghoa dan kepala-kepala parit. Ada juga Kapitan Letnan Ong Beng Hui, Kapitan Cina untuk Merawang, yang membantu Depati Amir. Dia kemudian ditangkap dan dihukum di Gouvernement Mentok serta dicopot dari jabatannya.
Q: Kalau kita tarik lebih jauh, sebenarnya apa yang terjadi antara keluarga Depati Bahar dan Belanda terkait persoalan timah?
A: Persoalannya kembali kepada Tinreglement atau undang-undang timah tadi. Kebijakan itu membuat Belanda memperoleh keuntungan yang sangat besar. Semakin banyak timah yang diperoleh, semakin besar pula pemasukan negara. Timah bahkan menjadi salah satu sumber kekayaan utama Belanda setelah perkebunan.
Setelah sistem tanam paksa menghasilkan keuntungan besar, timah Bangka juga menjadi sumber kekayaan yang sangat penting. Banyak kota maju di Belanda, seperti Rotterdam dan Amsterdam, ikut berkembang dari kekayaan yang diperoleh dari wilayah jajahan, termasuk hasil perkebunan dan timah.
Karena timah menjadi sumber kekayaan besar, para elite lokal seperti depati dan batin, termasuk elite Tionghoa serta kepala kongsi, kehilangan sumber ekonomi mereka setelah monopoli diberlakukan. Itulah salah satu pemicu perlawanan. Karena itu, timah sejak dulu harus dikelola secara baik.
Q: Depati Amir beberapa kali menjadi target penangkapan Belanda. Seberapa besar sebenarnya ancaman yang mereka lihat dari sosok Amir?
A: Amir dianggap sangat berbahaya bagi pemerintah. Buktinya, Keresidenan Bangka sampai ditetapkan dalam status darurat militer atau darurat perang. Artinya, Belanda menilai perlawanan Amir harus segera dihentikan melalui kekuatan militer. Kalau dibiarkan, perlawanan akan berlangsung semakin panjang. Selain itu, kekayaan timah tidak masuk ke kas Pemerintah Hindia Belanda. Itulah yang sebenarnya sangat ditakuti oleh Belanda.
Ada satu catatan menarik. Pada 15 Agustus, komandan militer Belanda di Bangka, Mayor De Wijking, berusaha mencari cara untuk mengatasi perlawanan Depati Amir.
Pasukan utama Amir diperkirakan sekitar 300 orang dan sudah memiliki persenjataan lengkap.
Namun Belanda tidak menyadari bahwa Amir juga memiliki pasukan lain di berbagai distrik yang dipimpin oleh panglima perang. Karena itu, komandan militer Belanda meminta tambahan pasukan kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Empat kompi dari dua batalion yang sudah ada di Bangka dianggap kelelahan. Kemudian didatangkan Kompi Afrika, yaitu pasukan yang terdiri atas orang-orang Afrika dari Ghana. Mereka didatangkan dari Jawa karena dianggap memiliki fisik yang kuat untuk menghadapi cuaca dan medan Bangka, seperti bukit, gunung, hutan, dan rawa. Kehadiran mereka juga diharapkan dapat menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Di Bangka terdapat istilah Tulah Kepale Ganak, yang merujuk kepada kepala pasukan Afrika dari Ghana. Dari sinilah salah satu asal-usul istilah Londo Ireng. Memang tentara Belanda yang berasal dari Afrika berkulit hitam. Namun kemudian istilah itu meluas kepada pribumi Bangka yang bergabung sebagai pasukan Belanda, meskipun tentu saja mereka bukan orang berkulit hitam.
Q: Depati Amir akhirnya ditangkap pada 7 Januari 1851. Bagaimana sebenarnya proses penangkapannya?
A: Belanda kemudian mengubah strategi. Kolonel Busken diminta mengkaji dan meneliti pola perlawanan Depati Amir. Strategi pertama adalah mendirikan pos-pos militer di berbagai kampung, terutama kampung yang berada di sepanjang jalan penting. Kemudian Belanda mencari tahu dari mana sumber pangan pasukan Amir. Ternyata pasukan Amir memperoleh makanan dari petani dan peladang yang tinggal di kawasan hutan.
Belanda kemudian membangun jalan-jalan baru dan memindahkan permukiman yang sebelumnya berada di dalam hutan ke pinggir jalan. Dengan cara itu, jalur pasokan makanan kepada pasukan Amir terputus. Selain itu, jalur pasokan senjata dari Singapura diblokade kapal-kapal perang Belanda.
Laut diawasi agar tidak ada senjata yang masuk ke Bangka. Wilayah gerilya Amir semakin menyempit. Belanda juga menyusupkan mata-mata ke dalam pasukannya untuk mengetahui posisi Amir.Kemudian Belanda menawarkan hadiah sebesar 1.000 dolar Spanyol kepada siapa pun yang berhasil membantu menangkap Amir.
Padahal harta milik Amir sendiri tidak sampai 100 dolar Spanyol. Namun kepalanya dihargai 1.000 dolar. Ketika dikepung di Titipua atau Titimendang, Amir masih berhasil meloloskan diri.
Dia kemudian bersembunyi di Hutan Mendo Barat. Saat hendak menyeberang menuju Distrik Sungaiselan, dia akhirnya ditangkap. Amir dibawa ke pos militer Belanda di Bakem, kemudian ke kapal Onrust di Teluk Kelabat. Dia ditahan di atas kapal yang berada di tengah laut agar tidak ada pihak yang dapat menyerang atau membebaskannya. Selanjutnya Amir dibawa ke Batavia dan dipenjara selama beberapa bulan. Pada 9 Maret, dia dibawa dari Batavia menuju Surabaya menggunakan kapal Argo. Dari Surabaya, dia kemudian dibawa dengan kapal Banda menuju Kupang.
Q: Tadi Bapak menjelaskan mengenai hadiah bagi orang-orang yang membantu proses penangkapan. Apakah itu berbeda dengan anggapan bahwa ada tujuh panglima dan 36 pasukan yang menyerah atau disuap?
A: Berbeda. Orang-orang yang membantu proses penangkapan kemudian mendapatkan pembayaran dari pemerintah Belanda. Ada barisan, individu, bahkan para batin yang dianggap berjasa dalam penangkapan Depati Amir.
Q: Setelah ditangkap, mengapa Depati Amir tidak dipenjara di Bangka, tetapi justru diasingkan ke Kupang?
A: Pemerintah Hindia Belanda memiliki kewenangan yang disebut exorbitante rechten. Melalui kewenangan tersebut, pemerintah dapat menghukum buang orang yang dianggap mengganggu keamanan atau ketertiban ke wilayah jajahan Belanda mana pun.
Contohnya Syekh Yusuf al-Makassari dibuang ke Afrika Selatan, Diponegoro ke Manado kemudian Makassar, Mahmud Badaruddin II ke Ternate, dan Cut Nyak Dien ke Sumedang. Depati Amir kemudian dibuang ke Kupang. Dalam Besluit Belanda sebenarnya disebutkan bahwa hukuman mati merupakan hukuman yang tepat bagi pemberontak seperti Amir. Namun keputusan tersebut harus dilaporkan kepada Ratu Belanda. Kewenangan untuk menjatuhkan hukuman buang juga berada di Belanda, bukan semata-mata di Batavia. Akhirnya Amir diasingkan dan dihukum buang seumur hidup di Keresidenan Timor bersama Hamzah.
Q: Jadi anggapan bahwa Depati Amir menyerah tidak benar?
A: Tidak benar.
Saya menemukan literatur di National Archives Belanda yang menjadi salah satu kata kunci penting dalam proses pengusulan Amir sebagai pahlawan nasional. Dalam Memorie van Overgave, yaitu catatan laporan residen kepada pemerintah Belanda, disebutkan bahwa Amir dikejar, dikepung, kemudian ditangkap. Itu merupakan laporan resmi residen. Jadi, secara historis dia tidak menyerah.
Q: Tiga kali pengusulan berarti?
A: Ya. Tahun 2004, 2006, dan akhirnya 2018.
Q: Setelah Depati Amir diasingkan ke Timor dan melanjutkan aktivitas dakwah, ada adiknya, Depati Hamzah, yang juga ikut dibuang. Mengapa Hamzah berada di sana?
A: Hamzah pada usia sekitar 17 tahun sudah menjadi salah satu panglima pasukan Depati Amir. Ketika Doktor Franz datang ke Kampung Mendara dan bertemu keluarga Bahar, Bahar meminta agar dirinya dilukis bersama keluarganya.
Dalam lukisan tersebut terdapat Bahar, Amir yang kemudian menjadi dasar gambar yang kita gunakan, serta seorang pembantu atau pengawal Bahar.
Hamzah tidak dilukis bersama mereka pada 1836 karena saat itu usianya baru sekitar empat tahun. Dia dilukis terpisah dalam posisi sedang digendong. Ketika memasuki 1848, usianya sekitar 17 tahun dan dia sudah menjadi panglima pasukan Amir. Salah satu pertempuran penting terjadi di Ampang, yang sekarang masuk kawasan Kelapa.
Salah satu pos atau benteng militer Belanda di Ampang berhasil dihancurkan oleh Depati Hamzah. Banyak pasukan Belanda tewas akibat diracun. Peristiwa itu membuat Belanda sangat marah.
Hamzah kemudian terus mendampingi Amir dalam berbagai pertempuran hingga akhirnya ikut diasingkan.
Q: Seberapa besar kontribusi Amir dan Hamzah dalam penyebaran Islam selama berada di Timor?
A: Dalam sejumlah literatur dan catatan sejarah Nusa Tenggara Timur disebutkan bahwa perkembangan Islam di Timor, selain melalui pedagang-pedagang Arab, juga berkaitan dengan dua tokoh yang diasingkan dari Bangka, yaitu Amir dan Hamzah. Mereka disebut membangun masjid sekaligus membentuk komunitas Muslim.
Di Kampung Air Mata, mereka membangun Masjid Baitul Qodim. Setelah Islam berkembang di Air Mata, Amir dan Hamzah kemudian berpindah. Amir berada di Bonifoi, sementara Hamzah juga melakukan aktivitas dakwah di wilayah lain. Mereka kemudian mendirikan Masjid Al-Ikhlas di Bonifoi.
Hamzah sendiri memiliki keistimewaan lain. Dia tidak hanya diasingkan di Kupang. Setelah tiba di Kupang, dia kemudian dibuang ke Ba’a di Pulau Rote. Di sana Hamzah memiliki kemampuan medis yang dalam sejumlah catatan disebut sangat baik, bahkan dianggap melebihi kemampuan dokter Belanda.
Karena itu pemerintah Belanda kemudian mengangkatnya melalui besluit dan memberikan surat keputusan serta gaji sebagai mantri.
Q: Padahal beliau tidak pernah menempuh pendidikan kedokteran?
A: Tidak sekolah secara formal. Itulah salah satu keunikannya. Kemampuan Hamzah bahkan sempat menjadi persoalan di Mahkamah Agung Belanda: apakah seseorang yang berstatus hukuman buang boleh dipekerjakan, diberikan surat keputusan, dan digaji pemerintah.
Namun karena pertimbangan kemanusiaan dan keahliannya, terutama dalam menangani penyakit seperti cacar, Hamzah tetap diperbolehkan bekerja sebagai mantri.
Q: Setelah Amir dan Hamzah diasingkan, apakah masih ada komunikasi dengan masyarakat atau keluarga mereka di Bangka?
A: Jarak menjadi salah satu alasan mengapa mereka diasingkan. Belanda ingin memastikan mereka tidak mudah kembali ke Bangka. Amir berada di pengasingan selama beberapa tahun. Dia pernah mengirim surat kepada Gubernur Jenderal dan meminta agar tidak dihukum di Kupang, tetapi dipindahkan ke Jawa. Permintaan tersebut tidak dikabulkan. Hamzah juga beberapa kali mengirim surat. Pada 11 Agustus, kalau tidak salah, dia pernah berkirim surat ke Belanda. Saat itu usianya sudah sekitar 54 tahun dan dia telah menjalani hukuman sekitar 35 tahun. Artinya, hukuman seumur hidup yang dijalani sudah sangat panjang.
Dia meminta agar statusnya sebagai orang hukuman dihapus dan diberi izin kembali ke Bangka untuk mengurus warisan. Namun pemerintah Belanda menolaknya karena Hamzah masih dianggap berbahaya jika kembali ke Bangka. Pada 1903, beliau meninggal. Jadi komunikasi yang kemudian berlangsung lebih banyak melalui keturunan.
Pada 1950-an, Depati Hamzah memiliki anak bernama Abdullah Hab. Abdullah Hab bin Depati Hamzah kemudian mempunyai anak bernama Hamzah bin Abdullah Hab bin Depati Hamzah bin Depati Bahrin.
Cucunya inilah yang kemudian berkirim surat ke Bangka pada 1950-an. Surat tersebut ditujukan kepada pemerintah di Bangka. Pemerintah kemudian mencari keluarga Depati Bahrin dan akhirnya bertemu dengan salah satu anggota keluarga bernama Abdurrahman Jr.
Surat itu kemudian diserahkan kepada keluarga. Saya sendiri memiliki dokumentasi surat tersebut. Dari surat-surat itu saya mendapatkan banyak informasi mengenai situasi mereka pada 1950-an, termasuk kondisi perjuangan mereka di sana dan keadaan keluarga di Bangka.
Q: Berarti mereka tidak pernah kembali ke Bangka?
A: Tidak. Mereka tidak kembali. Keinginan untuk pulang sudah disampaikan melalui surat, tetapi ditolak Belanda. Komunikasi kemudian dilakukan melalui surat dan berisi berbagai kabar mengenai kondisi masing-masing. Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda. Kita bisa melakukan video call untuk mengetahui keadaan keluarga. Dulu mereka harus mengandalkan surat. Bahkan jika ada seseorang yang mengaku sebagai keturunan Depati Amir atau Depati Hamzah, biasanya ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang diajukan untuk memastikan hubungan keluarganya.
Jawaban dari Kupang kemudian dikirim kembali ke Bangka. Jika jawabannya benar, pertanyaan berikutnya akan diberikan. Saya mengetahui beberapa hal terkait keluarga tersebut secara ilmiah, tetapi ada hal-hal yang tidak perlu saya ungkapkan karena menyangkut ranah keluarga. Yang terpenting bagi saya adalah Depati Amir telah menjadi pahlawan nasional dan Depati Hamzah menjadi salah satu pahlawan yang kita banggakan.
Q: Kalau dari catatan yang Bapak miliki, berapa kali surat-menyurat antara Kupang dan Bangka berlangsung?
A: Surat menyurat itu cukup berlangsung lama alias bertahun-tahun antara kedua pihak. Cukup banyak hal yang dibicarakan, bahkan sampai persoalan bisnis dan usaha apa yang kira-kira cocok dilakukan jika membuka usaha di Kupang.
Q: Pak, apakah ada pesan khusus dari Depati Amir yang menurut Bapak masih relevan untuk kita renungkan saat ini, terutama dalam konteks bagaimana kita mengelola kekayaan alam daerah?
A: Setiap pahlawan nasional tentu meninggalkan pesan. Saya membaca sejumlah literatur Belanda, termasuk surat yang dikirim Depati Amir kepada Mayor Cina di Mentok, Mayor Tan Kong Tyan. Dari surat dan laporan-laporan Belanda tersebut, saya kemudian merangkum beberapa pesan penting Depati Amir.
Pesan pertama adalah keberanian melawan pihak yang ingin membinasakan negeri selama kita masih memiliki jiwa. Maknanya, kita tidak boleh takut kepada siapa pun yang ingin menghancurkan negeri. Bukan hanya terhadap penjajah, tetapi juga kepada siapa pun yang melakukan pengkhianatan terhadap negeri.
Ada pula catatan yang menyatakan bahwa pemerintah Gouvernement Belanda akan menghadapi masa terang yang berubah menjadi gelap. Itu merupakan bentuk perlawanan dan ancaman bahwa Belanda akan menghadapi masa yang sulit.
Kemudian ada pesan lain yang sangat kuat, yaitu bahwa dia rela binasa daripada harus berunding dengan Belanda. Tiga pesan tersebut saya rangkum sebagai pesan perjuangan Depati Amir. Pesan itu kemudian ditempatkan pada patung agar dapat dibaca masyarakat. Saya berharap setiap 17 Agustus atau Hari Pahlawan, pesan-pesan tersebut dapat dibacakan kepada masyarakat.
Tujuannya agar semangat perjuangan para pahlawan tetap hidup dan menjadi motivasi bagi kita untuk lebih giat membangun Bangka Belitung.
Q: Sebagai penutup, Pak, apa pesan Bapak kepada masyarakat Bangka Belitung mengenai perjuangan Depati Amir dan para pahlawan lainnya?
A: Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini berserakan tulang-belulang para pahlawan Bangka maupun Belitung. Karena itu, mari kita menghargai perjuangan dan pengorbanan mereka.
Bukan hanya dengan mengenang nama mereka, tetapi dengan mencontoh, meneladani, dan menumbuhkan semangat perjuangan dalam diri kita.
Pahlawan harus menjadi panutan. Mereka seharusnya mampu memacu dan memicu semangat kita agar lebih giat, lebih bijaksana, lebih berani, dan lebih sungguh-sungguh dalam membangun negeri Bangka Belitung yang kita cintai. (Bangkapos.com/Vigestha Repit)