TRIBUN-BALI.COM - Tiga anak berdiri di depan panggung Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar. Siapa sangka, mereka yang masih SD sudah bisa menjawab soal matematika dalam hitungan detik.
Padahal soal matematika yang dilontarkan itu, termasuk soal yang cukup sulit dan biasanya menjadi mata pelajaran di SMA/SMK. Namun ketiga anak SD ini menjawabnya dengan sangat baik dan tepat.
Hal ini membuat tepuk tangan bergemuruh di dalam gedung, karena saking takjubnya melihat kemampuan anak-anak tersebut. Bahkan menghitung tanpa alat bantu seperti kalkulator dan sempoa.
Baca juga: TELKOMSEL Dukung Kenyamanan Pengunjung Sunset di Kebun dengan Penguatan Jaringan & Layanan Pelanggan
Baca juga: Semarak HUT ke-80 RI, Telkomsel Kobarkan Semangat Kemerdekaan
Setiap anak berhak belajar matematika, dengan cara yang mudah dipahami dan membangun kepercayaan diri. Berangkat dari aspirasi itu, Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali, Gasing Academy, Kuncie, dan para pemangku kepentingan pendidikan di Bali berkolaborasi mendukung penguatan kapabilitas numerasi guru dan siswa melalui ekosistem pembelajaran digital dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan (AI for Education).
Lebih dari sekadar kemampuan berhitung, numerasi telah menjadi fondasi untuk bernalar, memahami
informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan sehari-hari. Kolaborasi digitalisasi di bidang
pendidikan ini sejalan Asta Cita keempat Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam memperkuat
pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga,
kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Ekosistem kolaborasi dimulai dari peningkatan kompetensi guru melalui Gasing Academy, dengan pendekatan GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan). Pembelajaran siswa kemudian diperkuat melalui Sacred Octagon, platform berbasis permainan yang didukung dengan teknologi AI untuk membantu anak berlatih matematika secara interaktif dan bertahap.
SkulPintar selanjutnya disiapkan untuk mendukung pembelajaran dan asesmen, sementara hasil pelaksanaan program dirancang agar dapat dipantau berbasis data sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengatakan, numerasi lebih dari sekadar kemampuan berhitung,
tetapi juga fondasi untuk berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan.
"Melalui kolaborasi ini, kami ingin memberi lebih banyak anak kesempatan untuk belajar, mencoba, mencoba lagi, hingga percaya bahwa mereka bisa dan berhasil. Dari Bali, mari bersama membangun generasi yang lebih cerdas, percaya diri, dan siap membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar,” jelasnya di Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, 14 Agustus 2026.
Pada kesempatan tersebut, guru dan siswa menyaksikan serta mencoba pembelajaran Sacred Octagon dan pendekatan GASING. Kegiatan ini menjadi langkah awal, memahami kebutuhan di lapangan dan mengukur manfaat program secara bertahap, sehingga pelaksanaannya tetap relevan bagi sekolah, guru, siswa dan keluarga.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul, karena kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Kami mengapresiasi inisiatif Telkomsel dan Prof. Yohanes Surya yang menghadirkan program ini di Bali, dan kami siap mendorong kolaborasi yang lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Bali,” jelasnya.
Dalam konsep AI for Education, guru tetap menjadi pusat proses pembelajaran. Teknologi sebagai alat bantu agar pendidik dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih sesuai perkembangan kemampuan siswa, bukan untuk menggantikan tuntunan, empati, dan pemahaman guru terhadap setiap anak.
Pencetus Metode GASING, Prof. Yohanes Surya Ph.D, mengatakan tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru dan metode yang baik. "Melalui GASING, matematika kami hadirkan secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, di situlah proses belajar mulai membawa perubahan,” jelasnya.
Sebelumnya, Telkomsel dan INA AI telah menghadirkan Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon melalui aplikasi MyTelkomsel dan by.U untuk memperluas akses keluarga Indonesia terhadap pembelajaran numerasi digital. Dalam kolaborasi di Bali, dukungan tersebut diperkuat melalui keterlibatan pemerintah daerah, peningkatan kompetensi pendidik, pembelajaran siswa, dan evaluasi program secara bertahap. (*)