WARTAKOTALIVE.COM, CIPAYUNG -- Kerusakan jalan menjadi salah satu persoalan yang terus membayangi infrastruktur transportasi di Indonesia.
Dengan jaringan jalan nasional yang membentang lebih dari 47 ribu kilometer, proses inspeksi dan pemeliharaan membutuhkan metode yang cepat, akurat, serta mampu menghasilkan data yang dapat diandalkan.
Menjawab tantangan tersebut, Agus Mulyanto, peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), mengembangkan metode inspeksi kerusakan jalan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Inovasi tersebut dipaparkan Agus dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor FTUI pada Selasa (4/8/2026).
Risetnya memadukan teknologi deep learning, analisis geometri tiga dimensi, dan binocular stereo vision camera untuk mendeteksi sekaligus mengukur penurunan permukaan jalan secara otomatis.
Teknologi tersebut tidak sekadar mengenali adanya kerusakan.
Baca juga: JAKI Perketat Laporan Petugas, Kini Bisa Deteksi Foto Hasil Rekayasa AI
Sistem yang dikembangkan juga mampu mengukur kedalaman permukaan jalan, sehingga tingkat kerusakan dapat dianalisis secara lebih objektif dan akurat.
Kamera binocular stereo vision menjadi salah satu komponen penting dalam sistem tersebut.
Kamera ini memungkinkan permukaan jalan direkonstruksi secara visual dalam bentuk model tiga dimensi.
Dengan pendekatan itu, kondisi jalan dapat dipetakan berdasarkan data geometris yang lebih detail.
Integrasi antara data tiga dimensi dan teknologi AI juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan manual yang rentan terhadap perbedaan penilaian dan kesalahan manusia.
Bagi pengelola jalan, teknologi tersebut membuka peluang untuk melakukan pemantauan kondisi infrastruktur secara lebih cepat dan presisi.
Data hasil inspeksi juga dapat menjadi dasar dalam menentukan tingkat kerusakan dan menyusun prioritas penanganan jalan.
Agus berharap hasil penelitiannya dapat mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk menjawab persoalan nyata di sektor transportasi Indonesia.
"Saya berharap penelitian ini dapat menjadi salah satu kontribusi dalam pengembangan teknologi inspeksi jalan yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan analisis tiga dimensi," kata Agus.
Dekan FTUI Kemas Ridwan Kurniawan turut mengapresiasi penelitian tersebut.
Menurutnya, riset Agus menunjukkan bahwa teknologi AI tidak hanya berkembang sebagai inovasi digital, tetapi juga dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
"Penelitian yang dilakukan Agus Mulyanto menunjukkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan," tutur Kemas.
Dalam sidang tersebut, Agus berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih predikat Sangat Memuaskan dengan IPK sempurna 4,00.
Pencapaian itu sekaligus mengantarkan Agus menjadi doktor ke-704 di lingkungan FTUI.
Riset tersebut menjadi gambaran bagaimana perkembangan AI dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: memastikan jalan yang digunakan masyarakat tetap aman dan layak.
Jika dikembangkan lebih lanjut, teknologi inspeksi jalan berbasis AI dan pemodelan tiga dimensi ini berpotensi membantu pemerintah mengidentifikasi kerusakan lebih dini, menentukan prioritas perbaikan, serta membuat pemeliharaan infrastruktur berjalan lebih terukur.
Universitas Indonesia pun menilai inovasi tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong transformasi digital di sektor transportasi nasional.