TRIBUNNEWSDEPOK.COM, KUNINGAN - Pasokan listrik yang andal menjadi kebutuhan utama bagi industri data center karena operasional pusat data dituntut berlangsung tanpa gangguan atau zero downtime.
Kebutuhan tersebut semakin penting seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital, cloud computing, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mendorong peningkatan kebutuhan daya listrik pusat data di Indonesia.
Assistant Manager Pemasaran dan Bisnis Inovatif PLN Electricity Services Unit Pelaksana 5 DKI dan Banten Bintang Dewa Tomo mengatakan operasional data center harus dijaga agar tidak mengalami gangguan.
“Dengan tujuan bahwa data center ini tidak boleh padam, zero downtime, maka harus dikendalikan Operation and Maintenance-nya yang di PLN,” ujar Bintang dalam Multi Stakeholder Forum 2026 bertema “Kesiapan Ketenagalistrikan Dalam Rangka Mendukung Ekosistem Digital yang Andal dan Kompetitif Tahun 2026” di Manhattan Hotel Jakarta, Kuningan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Bintang, kebutuhan terhadap keandalan listrik membuat pengelolaan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dalam mendukung operasional data center.
PLN Electricity Services, kata dia, menyiapkan berbagai layanan mulai dari pembangunan gardu induk, gardu induk Gas Insulated Switchgear (GIS), substation, operasi dan pemeliharaan hingga managed service.
“Data center ini tentu butuh mitra strategis yang bisa membangun gardu induknya, gardu induk GIS-nya atau bentuk teknologi-teknologi lainnya, kemudian juga sampai ke dalam operasinya,” katanya.
Berbagai skema layanan juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri, mulai dari pembangunan infrastruktur, sewa listrik sementara, Operation and Maintenance, managed service, hingga Build-Operate-Transfer (BOT).
Untuk mengantisipasi potensi gangguan, PLN juga menyiapkan sejumlah teknologi pendukung, termasuk battery energy storage system (BESS) dan drone untuk melakukan inspeksi gardu.
“Tentu saat ini menjadi concern karena tidak boleh padam di Jakarta 5. Nah, ini ada juga kami menyediakan drone untuk inspeksi gardu, kemudian baterai Energy Storage System juga, BESS juga,” ujar Bintang.
Pasokan listrik andal untuk kebutuhan data center
Manager PLN UP3 Lenteng Agung Yuniar Budi Satrio mengatakan kebutuhan industri data center terhadap listrik tidak cukup hanya dipenuhi dengan kapasitas daya yang besar.
Menurut dia, pelaku industri membutuhkan pasokan listrik yang andal, berkualitas, memiliki kepastian, serta fleksibel mengikuti pertumbuhan kebutuhan bisnis.
“Tak hanya sekadar daya, lebih dari itu industri data center membutuhkan keandalan, kualitas, kepastian, dan tentunya fleksibilitas layanan, serta kemampuan untuk tumbuh bersama memenuhi kebutuhan bisnis pelanggannya,” ujar Yuniar.
Ia menilai perkembangan ekonomi digital, cloud computing, AI, dan transformasi digital menjadikan data center sebagai salah satu infrastruktur strategis bagi perekonomian nasional.
Karena itu, PLN berupaya mengambil peran lebih luas dalam mendukung pertumbuhan industri tersebut.
“Untuk itu, PLN ingin menempatkan diri bukan hanya sebagai electricity provider, namun juga sebagai strategic energy partner bagi industri data center,” ungkap Yuniar.
Kebutuhan listrik data center meningkat
Chairman Indonesia Data Center Provider (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan industri data center merupakan sektor yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Kebutuhan listrik tersebut semakin meningkat seiring penerapan AI yang membutuhkan kapasitas komputasi lebih tinggi.
“Industri kami adalah industri yang sangat power hungry dengan adanya AI implementation yang lebih banyak di industri kami,” ujar Hendra.
Hendra menyebut kapasitas daya listrik data center yang telah terpasang di Indonesia mencapai sekitar 637 megawatt. Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 1,2 gigawatt pada akhir 2026.
“Kalau data dari yang terakhir kami lihat yang sudah ter-install kapasitas daya listriknya sudah 637 Megawatt. Dan potensial di akhir tahun ini naik menjadi 1,2 gigawatt,” katanya.
Peningkatan kebutuhan daya juga terlihat dari kebutuhan listrik setiap rak data center.
Hendra mengatakan pada 2016 kebutuhan daya untuk satu rak data center tidak lebih dari 6 kilowatt. Kini, sejumlah anggota IDPRO telah menggunakan prosesor AI yang membutuhkan daya lebih dari 130 kilowatt per rak.
“Dulunya kami hanya menjalankan satu rak itu tidak lebih dari 6 Kilowatt di tahun 2016. Sekarang ini beberapa member kami sudah running to Grace Black Processor, DB200, DB300, yang per rak-nya itu butuh lebih dari 130 Kilowatt,” ujarnya.
Investasi data center capai triliunan rupiah
Besarnya kebutuhan infrastruktur data center juga berbanding lurus dengan nilai investasi yang diperlukan.
Hendra mengatakan pembangunan data center membutuhkan investasi sekitar 8 juta hingga 11 juta dolar AS per megawatt.
Dengan rata-rata investasi sekitar 10 juta dolar AS per megawatt, pembangunan data center berkapasitas 100 megawatt membutuhkan investasi sekitar 1 miliar dolar AS atau setara Rp14 triliun-Rp18 triliun.
“Kalau kita rata-ratakan di 10 juta Dollar, per 100 Megawatt kita butuh antara 14 sampai 18 triliun rupiah,” ujarnya.
Ia memperkirakan apabila industri data center Indonesia mencapai kapasitas 1 gigawatt, potensi penerimaan negara dari sektor tersebut dapat mencapai sekitar Rp1,7 triliun.
“Dan kalau industri ini sudah reach 1 Gigawatt, potentially pendapatan negara NPU-nya itu bisa 1,7 Triliun. Jadi ini sangat baik untuk GDP growth kita,” kata Hendra.
Infrastruktur konektivitas jadi penopang data center
Selain listrik, kebutuhan data center juga ditopang infrastruktur konektivitas dengan kapasitas besar dan kualitas tinggi.
Assistant Manager Logistik dan Transportasi PLN Icon Plus Alexander Putro Santosa mengatakan perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur konektivitas semakin besar.
“Dengan adanya perkembangan AI yang begitu pesat, pasti dibutuhkan infrastruktur dan konektivitas yang juga harus memiliki kapasitas besar dan kualitas tinggi,” ujar Alexander.
Menurut dia, kebutuhan tersebut tidak terlepas dari karakteristik data center yang membutuhkan pertukaran data dalam jumlah besar dan berlangsung secara terus-menerus.
“Karena pasti data center itu membutuhkan konektivitas yang besar dan juga berkualitas,” katanya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PLN Icon Plus telah membangun jaringan fiber optik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jaringan tersebut mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi hingga wilayah Indonesia Timur dengan panjang sekitar 500.000 kilometer.
“Untuk jaringan fiber optik kita itu sudah tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Indonesia Timur. Di situ sudah terbentang kurang lebih 500.000 km fiber optik yang tergelar,” ujar Alexander.
Menurut dia, ketersediaan jaringan tersebut dapat mendukung pengembangan data center apabila pembangunan pusat data semakin meluas ke luar Jakarta.
Dengan jaringan yang tersebar di berbagai wilayah, kebutuhan konektivitas pusat data tidak hanya dapat ditopang di kawasan Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga membuka peluang pengembangan data center di daerah lain.
Investasi sektor digital terus tumbuh
Di sisi investasi, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zulkarnaen mengatakan sektor digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan.
Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada KBLI 63102, yakni aktivitas penyedia infrastruktur komputasi, hosting, dan sejenisnya, meningkat dari sekitar 480 juta dolar AS pada 2023 menjadi hampir 2 miliar dolar AS pada 2025.
“Kalau di sisi KBLI-nya, itu biasanya dia menggunakan KBLI yang 2 digitnya adalah 63. Misalnya untuk KBLI 63102 yaitu aktivitas penyedia infrastruktur komputasi, hosting, dan sejenisnya. Nah, ini realisasi PMA-nya itu terus meningkat dari tahun 2023 itu sekitar 480 juta dollar AS ya, itu menjadi kurang lebih hampir 2 miliar dollar AS pada tahun 2025,” ujar Ichsan.
Sementara itu, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada sektor tersebut meningkat dari hampir Rp2,5 triliun pada 2023 menjadi sekitar Rp5,5 triliun pada 2025.
“Kalau dari sisi PMDN itu tahun 2023 dari sisi rupiahnya itu mencapai hampir Rp2,5 triliun. Di tahun 2025 ini dua kali lipat ya menjadi Rp5,5 triliun,” katanya.
Menurut Ichsan, peningkatan tersebut menunjukkan sektor digital, termasuk data center, semakin diminati investor asing maupun domestik.
“Ini menunjukkan bahwa aktivitas sektor digital dalam hal ini diwakili oleh KBLI yang menggunakan dua angka di depannya adalah 63, contohnya adalah data center, itu sudah berkembang dan terus menjadi investasi yang diminati baik oleh investor asing maupun oleh investor dalam negeri,” ujar Ichsan.
Sebagai informasi, PLN UID Jakarta Raya melalui PLN Region Jakarta Pusat menggelar kegiatan Multi Stakeholder Forum 2026 bertema “Kesiapan Ketenagalistrikan Dalam Rangka Mendukung Ekosistem Digital yang Andal dan Kompetitif Tahun 2026” di Manhattan Hotel Jakarta, Kuningan, Kamis (13/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan PLN, pemerintah, pelaku industri data center, dan sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan dalam mendukung pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.
Adapun narasumber yang hadir dalam forum tersebut adalah Manager PLN UP3 Lenteng Agung Yuniar Budi Satrio, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zukarnaen, Chairman Indonesia Data Center Provider (IDPRO) Hendra Suryakusuma, Assistant Manager Pemasaran dan Bisnis Inovatif - PLN Electricity Services Unit Pelaksana 5 DKI dan Banten Bintang Dewa Tomo, serta Assistant Manager Logistik dan Transportasi PLN Icon Plus Alexander Putro Santosa.