Mahasiswa KKN UMK Kupang Hijaukan Lereng Rawan Longsor di Webetun Dengan Tanam Bambu
Ryan Nong August 14, 2026 11:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota


POS-KUPANG.COM, BETUN - Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kupang melalui aksi reboisasi dengan menanam bambu di sejumlah titik lereng rawan longsor di Desa Webetun, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Jumat (14/8/2026). 


Bersama masyarakat, mereka mengubah lahan yang rentan tergerus menjadi ruang harapan bagi keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga.


Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Tidak sekadar menanam, para mahasiswa juga mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga tutupan vegetasi sebagai langkah pencegahan erosi dan longsor di wilayah yang memiliki kondisi tanah labil. Aksi itu sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan harus dimulai sebelum bencana datang.

Baca juga: PMKRI Cabang Kefamenanu Nilai Pengajuan Keberatan Keputusan BK DPRD TTU Tunjukan Persoalan Serius


Pemilihan bambu sebagai tanaman konservasi dilakukan karena memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu memperkokoh struktur tanah, menahan laju erosi, serta membantu menjaga kestabilan lereng. Selain memberikan manfaat ekologis, bambu juga bernilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, pagar, kerajinan, hingga berbagai produk bernilai jual.


Ketua Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang di Desa Webetun, Paskalis Krifando Tae, mengatakan penanaman bambu merupakan bentuk kepedulian mahasiswa agar kehadiran mereka meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. 


"Kami tidak ingin kehadiran mahasiswa KKN hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Penanaman bambu ini adalah langkah kecil untuk membantu menjaga tanah, mengurangi erosi, dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan," ujarnya.


Menurut Paskalis, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, dan seluruh pemangku kepentingan agar upaya konservasi berjalan secara berkelanjutan. Ia menegaskan, menanam bambu memang tidak langsung menghilangkan ancaman longsor, namun perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dirawat bersama.


Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa KKN harus mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, selain menjalankan program kerja, mahasiswa mengajak warga untuk terus merawat tanaman yang telah ditanam melalui penyulaman bibit yang mati, pembersihan area, perlindungan tanaman muda, hingga penanaman lanjutan agar kegiatan reboisasi tidak berhenti sebagai seremoni semata.


"Kami menyadari bahwa penanaman bambu bukan satu-satunya solusi mengatasi kawasan rawan longsor. Penanganan yang efektif memerlukan langkah yang lebih menyeluruh, mulai dari menjaga vegetasi, mengatur aliran air, mencegah pembukaan lahan secara berlebihan, memperbaiki sistem drainase, memantau kondisi lereng, hingga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana," jelas Paskalis. 


Menurut Paskalis, aksi penghijauan di Desa Webetun menjadi pelajaran bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. 


"Bambu yang ditanam hari ini memang membutuhkan waktu untuk tumbuh. Namun setiap batang yang ditanam membawa harapan akan lereng yang lebih aman, lingkungan yang lebih lestari, serta masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang," pungkasnya. (ito)

Mahasiswa KKN UMK foto bersama warga usai penanaman bambu di Desa Webetun
UMK - Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang foto bersama warga usai penanaman bambu di Desa Webetun, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Jumat (14/8/2026).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.