Cerita Warga Pasarwajo Buton saat Air Laut Naik ke Pesisir Desa Kabawakole, Tak Sampai ke Permukiman
Desi Triana Aswan August 15, 2026 10:48 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Sebuah video yang memperlihatkan kondisi air laut surut kemudian kembali naik ke wilayah pesisir Desa Kabawakole (Tanamaeta), Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, beredar di media sosial.

Fenomena tersebut terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi dan membuat warga sekitar memantau kondisi pesisir.

Seorang warga Pasarwajo, Mukar Rijaldin Wisau sempat membagikan video tersebut pada akun Facebook miliknya. 

Ia juga sempat berada di lokasi mengatakan, perubahan kondisi air laut terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

"Terjadi pagi tadi di Desa Kabawakole (Tanamaeta), Kecamatan Pasarwajo. Masyarakat sekitar sedang memantau fenomena pasang surut air laut yang terjadi dalam tempo singkat," ujarnya dikonfirmasi jurnalis TribunnewsSultra.com. 

Warga tersebut mengatakan, masyarakat sempat menduga fenomena itu berkaitan dengan gelombang tsunami menyusul gempa kuat yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Video kondisi air laut tersebut diketahui dibagikan oleh warga melalui grup WhatsApp dan kemudian beredar di masyarakat.

"Ini dibagikan oleh teman di grup WA (WhatasApp)," jelasnya. 

Baca juga: 5 Kecamatan di Kota Kendari Sultra Terdampak Banjir 16 Mei 2026 Malam, Air Surut Kini Sisakan Lumpur

Warga yang diwawancarai mengaku sempat memantau situasi di sekitar pesisir hingga kondisi dinilai benar-benar aman.

"Saya sempat memantau situasi di pesisir hingga situasi benar-benar aman," katanya.

Fenomena air laut yang surut dan kemudian kembali naik tersebut menjadi perhatian warga Pasarwajo, terutama karena terjadi setelah gempa kuat yang mengguncang wilayah NTT.

Kondisi Kembali Normal

Fenomena surutnya air laut yang sempat terjadi di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Tenggara (Sultra) pada pagi hari, seperti di perairan Buton dan Bombana. 

Hal ini berkaitan dengan aktivitas gempa bumi di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelumnya, wilayah NTT diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7, Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 WITA.

Gempa besar berkedalaman dangkal sekitar 10–15 kilometer ini berpusat di laut pada jarak 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Guncangan ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). 

Insiden tersebut juga berimbas pada wilayah sekitar NTT. 

Termasuk di Sulawesi Tenggara. Sejumlah daerah dilaporkan mengalami air laut surut bahkan terjadi gelombang yang naik ke daratan. 

Informasi tersebut disampaikan Kustoro H, Kepala Stasiun Geofisika Kendari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sultra terkait kondisi air laut yang sempat surut dan kemudian kembali naik di sejumlah wilayah pesisir Kabaena dan Buton.

Meski sempat memicu kepanikan warga karena beredar video yang mengaitkan fenomena tersebut dengan tsunami, hingga kini tidak ada laporan mengenai kerusakan maupun dampak langsung terhadap masyarakat.

Berdasarkan koordinasi dengan Kepala Stasiun Meteorologi Betoambari Baubau serta pihak terkait di daerah, situasi di Pulau Kabaena, termasuk kawasan Pasar Wajo, telah berhasil ditangani.

Fenomena perubahan muka air laut tersebut merupakan dampak dari gempa bumi yang terjadi di Laut Flores, tepatnya di wilayah utara Pulau Flores.

Perubahan muka air laut juga terpantau melalui alat tsunami gate yang dimiliki BMKG bersama Badan Informasi Geospasial (BIG).

Ketinggian perubahan muka air laut yang tercatat berada pada kisaran 30 hingga 50 sentimeter di sejumlah lokasi Sultra.

"Kalau dampak secara langsung, kerusakan sampai saat ini belum ada laporan. Tapi kalau efek dari surutnya air laut dan air laut naik lagi, memang itu dari dampak gempa bumi di Laut Flores tersebut," ujar Kustoro H dikonfirmasi TribunnewsSultra.com. 

Saat ini, kondisi di wilayah terdampak telah kembali normal.

Setelah peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG berakhir, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa.

"Sudah tidak ada. Jadi begitu peringatan dini berakhir di BMKG, suasana sudah dianggap normal," katanya.

Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar mengenai tsunami yang beredar melalui media sosial.

Warga diminta memperoleh informasi mengenai gempa maupun potensi tsunami hanya dari sumber resmi pemerintah.

"Jadi tetap masyarakat kita imbau untuk tenang, lalu jangan percaya dengan hoaks. Menerima informasi resmi dari lembaga pemerintah resmi, dalam hal ini BMKG, BNPB atau BPBD, dan aparat TNI atau Polri serta Pemda setempat," imbaunya.(*)

(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.