Anjung Seni Idrus Tintin : Ketika Ikon Melayu Riau Dibiar Lapuk
Nolpitos Hendri August 15, 2026 11:29 PM

Oleh: RHR Dodi Sarjana
Positive Communication

CATATAN TRIBUNER - RHR Dodi Sarjana
Positive Communication - RHR Dodi Sarjana (Foto/Ist)

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - KITA, di Pekanbaru punya mall yang terus direnovasi dan dibangun. Punya jalan yang tiap tahun diaspal ulang. Tapi kita tidak punya niat merawat satu gedung yang menyandang nama seorang maestro: Anjung Seni Idrus Tintin.

Iya, kita punya satu gedung yang seharusnya jadi cermin peradaban Melayu Riau. Namanya melangit, berdiri megah di Jalan Jenderal Sudirman, di dalam Kompleks Bandar Serai, bekas Arena Purna MTQ.

Bangunan kuning dengan ukiran Melayu itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Agustus 2007. Kapasitasnya 600 kursi, berstandar internasional, lengkap tata suara dan cahaya. Namanya diambil dari Idrus Tintin, seniman Rengat yang meletakkan dasar teater Melayu modern di Riau.

Seharusnya, ini rumah. Rumah bagi tari, teater, musik, sastra. Rumah bagi ingatan.

Tapi mari jujur. Sejak awal 2010-an, kabar duka sudah beredar. Sehingga pada 2014, Forum Seniman Riau turun ke jalan. Mereka demo ke Kantor Gubernur karena Anjung Seni Idrus Tintin “tidak terurus dan rusak di beberapa bagian”. Tuntutan mereka sederhana: bentuk badan pengelola khusus. Tapi janji yang diberikan ternyata melayang.

Hari ini, 2026, gedung itu masih berdiri. Masih dipakai untuk pameran seni rupa di Galeri Hang Nadim, masih jadi tempat latihan anak-anak teater. Tapi denyutnya tidak lagi sekencang nama besarnya.

Yang lebih menyakitkan, di pelatarannya dulu ada deretan anjungan ciri khas kabupaten/kota se-Riau. Miniatur identitas. Tempat orang belajar: Oh, Kuansing begini rumahnya. Bengkalis begini atapnya. Kini? Entah ke mana. Sebagian roboh, sebagian dibiarkan. Yang tersisa hanya rumput dan lupa.

Mengapa harus begini? Tampaknya ada 3 penyakit lama yang menggerogoti.

Pertama, tidak ada nadi pengelolaan. UPT Bandar Serai di bawah Disparbud Riau yang pegang. Tapi fungsi UPT sering terjebak urusan administrasi, bukan penghidupan seni. Tidak ada kurator, tidak ada program tahunan yang pasti.

Kedua, ada anggaran  tapi tanpa visi. Dana ada saat mau event besar. Selesai event, lampu padam. Padahal gedung kesenian bukan proyek, dia institusi. Dia butuh biaya perawatan, kurasi, dan kaderisasi.

Hal ketiga, terjadinya "putus hubungan" atau pecahnya relasi dengan komunitas. Padahal sejak awal gedung ini hidup karena pemuda-pemudi Pekanbaru latihan di sini. Ketika pintu birokrasi terlalu tinggi, komunitas pergi. Gedung jadi sepi.

Padahal kita semua tahu bahwa identitas tidak bisa ditambal dengan spanduk. Melayu Riau tidak akan hidup hanya di pidato. Ia butuh tempat fisik untuk dipraktikkan.

Menyelamatkan Anjung Seni Idrus Tintin bukan soal mengecat ulang. Ada beberapa langkah nyata yang harus diambil.

Diantaranya adalah bentuk Badan Pengelola Independen. Campur tangan pemerintah, seniman, akademisi, dan swasta. Seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta atau Bentara Budaya. Punya direktur, punya program, punya akuntabilitas publik.

Selanjutnya hidupkan Kembali Anjungan Kabupaten. Kembalikan miniatur ciri kabupaten/kota itu. Jadikan sebagai “Taman Mini Riau”. Sekali jalan, orang dari luar Riau langsung paham keberagaman kita. Ini wisata budaya, ini pendidikan.

Anggarkan untuk kegiatan, bukan sekadar anggaran untuk  gedung. Beri dana rutin untuk residensi seniman, festival teater Melayu, sekolah seni gratis. Jadikan Anjung ini laboratorium, bukan hanya panggung sewaan.

Idrus Tintin dulu memulai teater dari asrama yatim piatu zaman Jepang. Dengan keterbatasan, ia menciptakan bahasa panggung Melayu. Masa kita, dengan gedung semegah ini, justru membiarkannya sepi?

Anjung Seni Idrus Tintin bukan sekadar beton dan kursi. Dia adalah pernyataan bahwa Riau serius merawat budayanya.

Jika kita membiarkannya lapuk, maka kita sedang mengirim pesan pada anak cucu: “Budaya kita tidak penting.”

Padahal seharusnya sebaliknya. Di tengah gempuran global, kita butuh satu tempat untuk bilang dengan lantang: Inilah kami, orang Melayu Riau.

Sudah waktunya Pemprov Riau memilih, merawat ikon, atau merelakan ikon menjadi reruntuhan yang indah untuk difoto, lalu dilupakan.

Sekali lagi, ini bukan soal gedung rusak. Ini soal watak kita terhadap budaya sendiri. Mungkin sudah lapuk. Mungkin sudah digusur lupa. Yang pasti, identitas kita ikut hilang bersama kayu-kayu itu.

Ini bukan kelalaian. Ini pembiaran. Kita boleh berpidato tentang "Marwah Melayu". Kita boleh bikin jargon "Bermarwah." Tapi selama Anjung Idrus Tintin masih seperti ini, semua itu omong kosong.

Sebuah bangsa bisa dilihat dari cara ia memperlakukan senimannya dan gedung keseniannya.

Saat ini, cermin itu retak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.