Sandiwara di Negeri Dongeng
Subur Dani August 16, 2026 08:03 AM

Oleh: Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy) *)

Di kampung itu, menjelang sore, warung kopi hampir selalu penuh. Gelas berdenting pelan, asap kopi naik tipis, dan percakapan saling bertaut tanpa harus saling mengenal. 

Orang datang dengan urusannya masing-masing—ada yang ingin berbicara, ada yang sekadar menunda pulang.

Sore di warung itu tidak pernah benar-benar sama, meski tampak berulang. Ada yang datang membawa cerita, ada yang pulang tanpa menyelesaikannya. 

Di antara bunyi gelas dan sisa percakapan, selalu ada sesuatu yang tertinggal—sesuatu yang tidak diucapkan, tetapi terasa.Di salah satu meja, aku dan Polem duduk seperti biasa. 

Orang-orang mengenalku sebagai Apa Kaoy, tukang meuhiem—tukang cerita—bukan karena aku tahu banyak hal, melainkan karena aku selalu punya cara untuk mengatakannya.

Baca juga: Polda Aceh Pastikan Situasi Usai Zikir Peringatan Hari Damai ke-21 Kondusif

Polem datang dengan wajah setengah lelah, setengah ingin tahu.

Ia sering datang seperti itu—membawa sisa hari yang belum selesai. Dan seperti biasa, ia berharap cerita bisa menjadi cara lain untuk memahami sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.

“Apa Kaoy,” katanya sambil duduk, “aku ingin dengar cerita yang tertunda kemarin. Tentang negeri dongeng itu.”

Aku mengangguk, membiarkan jeda sejenak sambil meneguk kopi.

“Negeri itu tidak jauh,” kataku. “Hanya saja, orang-orang di dalamnya lebih suka menyebutnya cerita.”
Polem tersenyum tipis. “Cerita yang enak didengar?”

“Yang terlalu sering didengar,” jawabku, “sampai tidak lagi ditimbang.”

Di Negeri Dongeng, cerita tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berpindah dari satu mulut ke mulut lain, dari

satu masa ke masa berikutnya, hingga orang lupa sejak kapan ia mulai dipercayai.

Di sana, orang lebih terbiasa mendengar daripada menimbang; apa yang berulang pelan-pelan menjadi benar, dan apa yang terdengar rapi jarang dipersoalkan.

Cerita di negeri itu bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi tentang apa yang terus diulang. Dan yang terus diulang, perlahan tidak lagi terasa sebagai cerita—melainkan sebagai kenyataan yang diterima begitu saja.

Baca juga: Pemkab Nagan Raya Gelar Zikir Peringati Hari Damai Aceh di Masjid Giok

Pada suatu masa, negeri itu dipimpin oleh seorang raja bernama Monda. Ia dikenal tenang, tutur katanya terukur, dan wajahnya jarang memperlihatkan kegelisahan.

Ia tidak memerintah dengan ancaman yang tampak, melainkan melalui sesuatu yang lebih halus: kesan. Ia seperti seseorang yang tidak perlu menaikkan suara untuk didengar. Cukup memastikan bahwa orang lain berbicara dengan cara yang ia inginkan.

“Kesan?” Polem mengulang.

“Kesan bahwa keadaan baik-baik saja. Kesan bahwa arah masih terjaga. Kesan bahwa waktu akan memperbaiki apa yang belum sempat diselesaikan.”

Dalam waktu yang cukup lama, kesan itu perlahan menggantikan kenyataan.
Puluhan tahun Monda berkuasa. Harapan diproduksi seperti kebiasaan.

Setiap kali sesuatu tidak tercapai, penjelasan hadir; ketika penjelasan melemah, harapan baru disodorkan dengan bentuk yang lebih meyakinkan.

Baca juga: Bupati Bireuen Kunjungi Tiga Kecamatan, 34 Rumah Layak Huni Segera Dibangun

“Orang bisa hidup dari harapan?” tanya Polem.
“Bisa,” jawabku. “Bahkan sangat lama.”
“Kalau begitu… itu bukan harapan lagi.”

Aku menatapnya sejenak. 

“Itulah yang jarang disadari oleh banyak orang.” 

Rakyat di negeri itu belajar hidup di antara penjelasan dan harapan. 

Sebagian percaya, sebagian menunggu, dan sebagian lagi berhenti bertanya. Di sekitar kekuasaan, yang bertahan bukan selalu yang paling mampu, melainkan yang paling peka terhadap arah.

Mereka tahu kapan harus berbicara dan lebih tahu lagi kapan harus diam.

Baca juga: Warga dan Aparat Terluka dalam Kericuhan Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman

“Diam itu aman,” kata Polem.

“Diam itu posisi,” jawabku. “Dan di negeri itu, posisi sering lebih penting daripada kebenaran.”

“Lalu yang jujur?”

“Tidak hilang,” kataku. “Hanya tidak diutamakan.”

Waktu berjalan seperti biasa—tenang, tetapi tidak pernah mundur. Di antara yang tetap, ada satu ketentuan lama: kekuasaan memiliki batas.

Seorang raja tidak berkuasa selamanya. Aturan itu jarang dibicarakan, tetapi selalu ada.

“Di sinilah biasanya orang panik,” kata Polem.

Aku menggeleng. “Tidak dengan Monda.”

“Berarti dia siap.”

“Atau sudah merencanakan.”

Polem terdiam.

Setiap kekuasaan yang mendekati batasnya, selalu mencari cara untuk tetap 

bertahan—tidak selalu dalam bentuk yang terlihat. Di negeri itu, ada beberapa nama yang sejak lama beredar di sekitar kekuasaan—muncul, menghilang, lalu muncul kembali ketika keadaan berubah. 

Baca juga: Bupati Haili Yoga Kukuhkan 70 Anggota Paskibraka Aceh Tengah

Dalam waktu yang hampir bersamaan, nama Buman kembali sering disebut. Ia bukan orang baru; ia beberapa kali mendekati pusat kekuasaan, tetapi selalu gagal di saat terakhir. Ambisinya dikenal luas dan tidak mudah padam.

“Orang seperti itu berbahaya,” kata Polem.

“Tidak selalu,” jawabku. “Yang berbahaya sering kali bukan ambisinya… melainkan siapa yang mengarahkannya.”

Kali ini, jalannya terasa berbeda. Buman tidak datang sendiri; ia dibukakan ruang. Ia diberi peran, panggung, dan kesempatan untuk tampil.

Banyak yang melihatnya sebagai kepercayaan, sebagian sebagai tanda perubahan. Buman sendiri tampak mempercayainya.

Ia bergerak dengan keyakinan dan melangkah seolah arah itu memang miliknya. Namun tidak semua yang tampak sebagai kemajuan berdiri di atas pilihan sendiri.

Dalam langkah-langkahnya, Buman memasuki wilayah yang tidak sepenuhnya jelas. Keputusan-keputusannya tidak selalu salah, tetapi juga tidak sepenuhnya bersih. Kesalahan kecil mulai muncul—tidak cukup besar untuk mengguncang, tetapi tidak cukup kecil untuk dilupakan.

“Dia tidak sadar?” tanya Polem.

“Orang yang merasa sedang naik,” kataku, “jarang melihat jebakan di bawah kakinya.”

Hari pemilihan raja tiba. Sejak pagi, orang-orang berdatangan dengan wajah yang tidak sepenuhnya tenang. Mereka tetap hadir, seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar dipertanyakan, meskipun sebagian dari mereka tidak lagi yakin pada apa yang sedang mereka jalani.

Baca juga: Ribuan Siswa SMA, SMK, dan MA di Bireuen Gelar Zikir Bersama untuk Perdamaian Aceh

Segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Prosedur dilaksanakan, tahapan diumumkan, dan aturan dibacakan dengan bahasa yang terdengar rapi.

Namun di balik keteraturan itu, ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya jujur. Seolah hasil telah lebih dulu menemukan jalannya, sebelum proses benar-benar dimulai.

Beberapa orang mulai saling berpandangan, tetapi tidak cukup lama untuk menjadi pertanyaan. Sebagian memilih diam, sebagian lain menunggu, dan sebagian lagi hanya mengikuti alur yang sudah terasa terlalu akrab.

Nama Buman semakin sering disebut. Bukan karena ia satu-satunya pilihan, melainkan karena tidak banyak ruang yang tersisa untuk kemungkinan lain.

Dukungan mengalir dengan cara yang tampak wajar, tetapi terlalu lancar untuk tidak menimbulkan keraguan.
Ketika hasil diumumkan, tidak ada yang benar-benar terkejut—tetapi juga tidak ada yang benar-benar siap.

Beberapa wajah tampak tercengang, seperti menyadari sesuatu yang sejak awal sudah terasa, tetapi tidak pernah diucapkan. Ada yang menatap kosong, ada yang menunduk pelan, dan ada pula yang mencoba tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

Kebingungan tidak berlangsung lama. Ia segera digantikan oleh sesuatu yang lebih sunyi: kekecewaan yang tidak dinyatakan.

Namun seperti banyak hal lain di negeri itu, kekecewaan pun tidak bertahan lama. Ia perlahan berubah menjadi penerimaan—bukan karena diyakini, tetapi karena dibiasakan.

Tidak lama setelah itu, Monda tidak lagi terlihat. Ia tidak pergi dengan upacara, tidak pula meninggalkan penjelasan. Ia hanya berhenti muncul.

“Begitu saja?” kata Polem.

Baca juga: VIDEO Ricuh di Hari Damai, KontraS Aceh Sebut Tembakan Aparat Buka Trauma Konflik

“Begitu saja.”

“Terlalu mudah.”

“Yang sulit bukan pergi,” kataku pelan, “melainkan tetap ada tanpa terlihat.”

Buman kini berada di pusat kekuasaan. Ia mengambil keputusan, menjalankan peran, dan mengatur arah negeri.

Namun dalam banyak hal, yang dijalankannya terasa tidak sepenuhnya baru. Pola-pola lama masih tampak, cara-cara lama masih bekerja, dan tanpa disadari ia perlahan menyesuaikan diri.

“Jadi sama saja?” tanya Polem.

Aku tidak langsung menjawab. “Menurutmu?”

Polem terdiam lama. “Kalau harus bertanya begitu… mungkin jawabannya sudah jelas.”
Kebohongan tidak hadir sebagai sesuatu yang mengejutkan.

Ia datang sebagai penjelasan, pembenaran, dan bagian dari cerita yang terus diulang. Apa yang sering diulang menjadi akrab, dan apa yang akrab jarang dipertanyakan.

“Yang begitu, lama-lama dianggap patut,” kata Polem pelan.

Aku mengangguk.“Yang dibiarkan, lama-lama dianggap wajar.”

Kedai mulai lengang. Suara percakapan menurun, dan malam turun pelan.

“Jadi ini belum selesai?” tanya Polem.

“Belum,” jawabku. “Karena ini bukan hanya tentang siapa yang berkuasa.”

“Lalu tentang apa?”

“Cara kekuasaan bekerja… bahkan setelah orangnya pergi.”

Di Negeri Dongeng, panggung tidak pernah kosong. Ia hanya berganti peran.

Dan seperti sandiwara yang terlalu lama dimainkan, tidak semua penonton lagi berusaha memahami cerita. Sebagian cukup duduk, melihat, dan menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.

Barangkali yang paling bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan kebiasaan untuk tidak mempertanyakan.
Dan sejak itu, tidak ada yang benar-benar berbeda—kecuali cara orang membenarkannya. 

Banda Aceh, 20 Desember 2025

Biodata Penulis:

Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy) adalah seniman dan budayawan Aceh yang aktif dalam bidang teater, sastra, dan pelestarian seni tradisi Aceh. Ia telah menerbitkan buku Hikayat Cangguek Pong Pajoh Kapai (2022) dan karya-karyanya banyak mengangkat kehidupan masyarakat serta kebudayaan Aceh. Saat ini menetap di Banda Aceh.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.