Cerita Pemuda Pekalongan Patungan Buat Sulap Jalan Kampung Jadi Lorong Merah Putih Sejauh 200 Meter
raka f pujangga August 16, 2026 07:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Semangat menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia ditunjukkan dengan cara unik oleh pemuda Dukuh Rejosari, Kelurahan Kayugritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan.

Mereka tidak sekadar memasang bendera di tepi jalan, tetapi menyulap jalan kampung menjadi lorong Merah Putih sepanjang sekitar 200 meter.

Uniknya, seluruh proses tersebut dikerjakan secara swadaya.

Mulai dari membeli kain dengan uang urunan, memotong, menjahit, hingga memasangnya di sepanjang jalan, dilakukan sendiri oleh para pemuda.

Baca juga: Bupati Tika Kukuhkan 70 Anggota Paskibraka, Kibarkan Merah Putih di Alun-alun Kendal

Ketua Pemuda Dukuh Rejosari, Muhammad Fahri Alfareza (21), mengatakan ide membuat bentangan Merah Putih tersebut muncul dari obrolan para pemuda yang ingin menghadirkan sesuatu berbeda dalam menyambut kemerdekaan.

"Dulu itu pas tahun kemarin (2025) ramai bendera One Piece. Kita biar beda saja. Bagaimanapun kan kita harus tetap cinta Tanah Air," kata Fahri, Sabtu (15/8/2026).

Dari obrolan tersebut, muncul gagasan membuat bendera Merah Putih berukuran panjang. Mereka kemudian membeli kain secara bersama-sama. 

Kain itu tidak langsung diserahkan kepada penjahit, tetapi dikerjakan sendiri oleh para pemuda.

Sekitar lima pemuda terlibat dalam proses menjahit. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bergantian hingga kain menjadi satu bentangan panjang.

Bagi pemuda Rejosari, menjahit kain dalam ukuran panjang bukan pekerjaan sulit. Sebagian besar warga setempat, terutama para pemuda, memang memiliki keterampilan di bidang konveksi.

"Di sini juga mayoritas pekerja konveksi. Jadi gampang, jahit seperti itu gampang. Kita jahit sendiri," ujarnya.

Sekitar 200 meter kain Merah Putih itu bahkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu jam. 

Setelah selesai dijahit, kain langsung dipasang di sepanjang jalan kampung.

Awalnya, bentangan Merah Putih tersebut hanya memiliki panjang sekitar 150 meter. 

Namun, dukungan warga membuat panjangnya bertambah sekitar 50 meter. 

Tambahan kain diperoleh melalui urunan sukarela para pemuda.

Besaran urunan tidak ditentukan. Ada yang menyumbang Rp50 ribu, ada pula yang memberikan Rp100 ribu. 

Semuanya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

"Kainnya dibeli dari urunan pemuda," terang Fahri.

20260816_Lorong Bendera Merah Putih di Pekalongan_2
LORONG MERAH PUTIH - Kain bentangan Merah Putih sepanjang 200 meter di Dukuh Rejosari, Kelurahan Kayugritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (15/8/2026). Seluruh proses tersebut dikerjakan secara swadaya. Mulai dari membeli kain dengan uang urunan, memotong, menjahit, hingga memasangnya di sepanjang jalan, dilakukan sendiri oleh para pemuda.

Semangat gotong royong juga terlihat saat pemasangan. Sekitar 20 pemuda ikut turun tangan membentangkan kain sejak 1 Agustus. 

Mereka memasang rangka sederhana di sisi jalan sebagai penyangga, kemudian mengikat kain Merah Putih hingga membentuk semacam kanopi.

Hasilnya, jalur kampung berubah menjadi lorong Merah Putih.

Warga yang melintas seolah berjalan di bawah bentangan bendera yang membentang dari satu ujung ke ujung lainnya.

Namun, prosesnya bukan tanpa kendala. Beberapa bagian kain sempat terlepas, bahkan sobek. 

Bendera tersebut memang bukan barang baru. Kain itu sudah digunakan selama dua tahun, sehingga sebagian warnanya mulai pudar akibat terkena panas dan hujan.

Meski demikian, para pemuda memilih tetap menggunakannya selama kondisinya masih layak. Bagi mereka, nilai sebuah bendera bukan hanya terletak pada kondisi fisiknya, tetapi juga pada semangat yang menyertainya.

"Itu untuk menyambut, menyemarakkan Merah Putih. Inilah kebanggaan, karena sudah dua tahun dipakai," tutur Fahri.

Kreativitas para pemuda tersebut mendapat apresiasi dari warga. Pambudi (48), warga Dukuh Rejosari, mengaku bangga melihat anak-anak muda di kampungnya mampu menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki.

Menurutnya, ukuran bendera yang mencapai 200 meter bukan satu-satunya hal yang membuatnya menarik. Justru proses pembuatannya secara mandiri menjadi nilai lebih.

"Wah banget. Yang bikin wahnya bukan masalah panjangnya. Kita garap sendiri, jahit sendiri. Kain juga beli, tapi digarap sendiri," ujar Pambudi.

Ia menilai, kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa potensi sumber daya manusia di tingkat kampung dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bersama.

"Kebetulan anak-anak semuanya rata-rata usahanya di bidang jahit. Jadi memanfaatkan SDM yang ada. Digunakan, tidak ada salahnya," tandasnya.

Baca juga: Potret Upacara Kemerdekaan di Bawah Air Umbul Ponggok Klaten, Merah Putih Berkibar dari Dasar Kolam

Lorong Merah Putih sepanjang 200 meter itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar hiasan Agustusan. 

Di balik kain yang membentang di atas jalan, ada uang urunan, keterampilan menjahit, tenaga para pemuda, dan semangat gotong royong warga.

Dari kampung kecil di Rejosari, Merah Putih tidak hanya dikibarkan, tetapi juga dijahit dan dibentangkan bersama sebagai simbol kebanggaan menyambut kemerdekaan Indonesia. (Dro)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.