TRIBUNBENGKULU.COM - Susanah tak pernah menyangka undangan menghadiri acara kenegaraan di Jakarta justru membuat dirinya menjadi sorotan hingga dihujat netizen.
Warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, itu awalnya menganggap undangan tersebut sebagai rezeki.
Namun, semuanya berubah setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut nama Susanah dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian pengupas bawang asal Bogor yang disebut menerima upah Rp700 ribu per kilogram.
Pernyataan tersebut sontak membuat nama Susanah viral.
Bukan hanya menjadi perbincangan, Susanah juga menjadi sasaran nyinyiran netizen yang mempertanyakan kebenaran upah Rp700 ribu per kilogram tersebut.
Bahkan, ada netizen yang mempertanyakan apakah Susanah dibayar untuk memberikan keterangan tersebut.
"Dibayar berapa sih Bu, sampai mau diajak bohong," tulis seorang netizen.
Di tengah hujatan tersebut, anak Susanah akhirnya turun tangan membela sang ibu.
Melalui kolom komentar unggahan Instagram Tribun Bogor, akun yang mengaku sebagai anak Susanah menjelaskan bahwa ibunya justru kaget ketika disebut sebagai pengupas bawang.
"Sorry ka itu ibu saya, beliau juga kaget pas dibilang pengupas bawang, beliau juga sudah klarif pekerjaan sebenarnya," jawabnya.
Ia bahkan menegaskan pekerjaan Susanah sebenarnya bukan mengupas bawang.
"Mmh saya kerjanya jahit ka bukan kupas bawang," sambungnya.
Anak Susanah juga membongkar cerita di balik kehadiran ibunya dalam acara kenegaraan tersebut.
Seorang netizen mempertanyakan alasan Susanah bisa mendapat undangan menghadiri acara tersebut.
"Yg jadi pertanyaan saya, atas dasar apa susanah diundang di acara tsb," tanya netizen.
Akun yang mengaku anak Susanah menjawab bahwa ibunya sendiri tidak menyangka mendapatkan undangan tersebut.
"Sorry ka itu ibu saya, beliau juga kaget karena dapat undangan untuk hadir ke sana," jawabnya.
Menurutnya, Susanah menerima undangan tersebut karena menganggap kesempatan itu sebagai rezeki.
"Pikiran mamah saya memang rezeki kebetulan diundang ke sana, makanya mamah saya menerima undangan itu," ungkapnya.
Namun, setelah namanya disebut Prabowo, Susanah justru harus menghadapi berbagai komentar pedas dari netizen.
Keluarga pun akhirnya memberikan penjelasan mengenai pekerjaan Susanah yang sebenarnya.
Kakak ipar Susanah, Wina, turut buka suara mengenai pekerjaan perempuan berusia 38 tahun tersebut.
Wina membantah Susanah bekerja sebagai pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.
Menurutnya, Susanah sehari-hari bekerja sebagai penjahit kain lap atau kain majun.
Upahnya pun hanya Rp700 per kilogram kain yang dijahit.
Dalam sehari, Susanah rata-rata mampu menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain.
Artinya, penghasilan Susanah dari menjahit hanya sekitar Rp14 ribu per hari.
"Itu tidak benar (gajinya Rp700 ribu per kilogram bawang). Ibu Susanah itu bekerja di MBG dan juga penjahit lap majun dengan harga Rp700 per kilo. Itu tidak benar kalau dia bekerja mengupas bawang dengan harga Rp700 ribu per kilo," ujar Wina saat ditemui TribunnewsBogor.com di rumah Susanah, Minggu (16/8/2026).
Selain menjahit, Susanah juga menyambi pekerjaan sebagai petugas pencuci ompreng di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wina menyebut Susanah sudah sekitar tujuh bulan bekerja di SPPG kawasan Bojong.
"(Kerja) di SPPG sudah 7 bulanan, karena memang belum lama di SPPG daerah Bojong. (Pekerjaan utama) ini (penjahit lap)," ujarnya.
Sementara itu, suami Susanah bekerja sebagai buruh sekaligus kuli bangunan.
Pasangan tersebut memiliki tiga anak. Anak pertama Susanah baru lulus, sedangkan dua anak lainnya masih bersekolah.
Kini, setelah namanya viral se-Indonesia, Susanah harus menghadapi situasi yang tak pernah dibayangkannya.
Melalui video yang dirilis di kanal YouTube resmi Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Sabtu (15/8/2026), Susanah memperlihatkan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap pagi, Susanah terlebih dahulu mengurus anak-anaknya yang hendak berangkat sekolah serta suaminya yang hendak bekerja.
Setelah itu, sekitar pukul 07.00 WIB, ia mulai menjahit kain perca dari rumah hingga siang hari.
Di depan mesin jahit, Susanah mengerjakan kain perca yang menjadi salah satu sumber penghasilannya.
Namun, upah yang disebut Susanah dalam video tersebut berbeda dengan nominal yang sebelumnya disampaikan Prabowo.
Susanah mengatakan, dirinya mendapat bayaran Rp700 per kilogram kain yang dijahit.
Dalam sehari, ia rata-rata mampu menjahit sekitar 20 kilogram kain.
Dengan jumlah tersebut, penghasilan Susanah dari pekerjaan menjahit sekitar Rp14 ribu per hari.
"Alhamdulillah banget ya, meskipun sehari 20 kilo ngejahit. 20 kali 700 kan cuma berapa ya? Rp14 ribu. Alhamdulillah aja buat hitung-hitung uang taro, uang simpenan. Nanti kalau nggak ada uang jajan tinggal minta," kata Susanah dalam video Bakom RI.
Bagi Susanah, penghasilan dari menjahit kain perca tetap berarti meski jumlahnya tidak besar.
Uang tersebut biasanya ia sisihkan sebagai simpanan dan digunakan ketika membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari.
Susanah juga mengatakan dapat meminta uang kepada pemilik usaha tempatnya bekerja apabila sedang membutuhkan tambahan.
"Pas saya lagi butuh uang, saya bilang, 'Oh, ya udah, Bu, berapa?' Minta dikasih sama bosnya," ujarnya.
Jumlah kain yang dikerjakan Susanah juga dapat bertambah pada waktu tertentu.
Dalam kondisi biasa, ia mengatakan dapat mengerjakan sekitar 20 ikat kain dalam sehari.
Ketika hari libur, jumlah pekerjaan yang tersedia bisa lebih banyak.
"Kalau pada libur, sehari bisa 50 ikat pada ngerjainnya," kata Susanah.
Selain menjahit kain perca, Susanah juga bekerja di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pukul 13.00 WIB, Susanah beralih profesi sebagai pencuci ompreng.
Susanah memiliki suami bernama Didim.
Sang suami bekerja sebagai buruh bangunan.
Keduanya berusaha mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya.
Mengurus keluarga, menjahit kain perca dari rumah, dan bekerja di dapur MBG menjadi bagian dari kesehariannya.
Berdasarkan penjelasan Susanah dalam video Bakom RI, pekerjaan menjahit kain perca dilakukannya dengan bayaran Rp700 per kilogram.
Dengan rata-rata 20 kilogram kain yang dijahit setiap hari, ia memperoleh sekitar Rp14 ribu dari pekerjaan tersebut.
Penghasilan tersebut tetap ia syukuri dan sisihkan untuk digunakan ketika membutuhkan.
Respon Mensesneg
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menanggapi terkait pengupas bawang yang mendapat upah Rp700 ribu per kilogram yang dihadirkan Presiden Prabowo Subianto saat pidato tahunan di MPR, DPR, dan DPD, pada Jumat (14/8/2026).
Pasetyo menyebut, pihaknya akan mengecek kembali secara detail mengenai informasi terkait upah pengupas bawang yang dimaksud.
"Nanti kita cek ya," kata Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Pemerintah, kata Prasetyo, akan menelusuri lebih rinci mengenai angka nominal upah yang disebutkan tersebut. "Kalau detailnya kita cek," ucapnya.
Sebelumnya, Prabowo memperkenalkan seorang buruh harian asal Bogor, Jawa Barat bernama Susanah yang dihadirkan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, Jakarta, Jumat (14/8/2026).