Laporan Kontributor Majalengka, Adim Mubaroq
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Dalam panjat pinang, orang yang mengambil hadiah di puncak bukanlah satu-satunya yang menentukan kemenangan.
Ia harus bergantung pada peserta lain yang menjadi tumpuan di bawah. Permainan sederhana ini, dengan demikian, sejak awal memang menempatkan kerja sama sebagai bagian penting dari cara bermain.
Pola itu kembali terlihat dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Senin (17/8/2026).
Panjat pinang menjadi salah satu perlombaan yang digelar. Anak-anak hingga orang dewasa ikut ambil bagian, sementara warga lainnya menyaksikan dari sekitar arena.
Hadiah yang digantung di bagian atas pun beragam. Ada makanan, peralatan dapur, kaus, dan berbagai barang lainnya. Di bagian puncak, ada Sang Saka Merah Putih berkibar.
Bagi peserta, hadiah tersebut menjadi sasaran yang harus dicapai. Namun, untuk sampai ke atas, mereka harus menghadapi batang pinang yang dibuat licin.
Peserta kemudian menyusun strategi. Ada yang mengambil posisi di bawah sebagai pijakan, sementara peserta lainnya berusaha naik. Ketika susunan tidak kuat dan pemanjat kembali melorot, mereka mengulanginya lagi.
Baca juga: Momen HUT ke-81 RI, Camat hingga DPRD Dorong Kebangkitan Wisata Gunung Karang Majalengka
Faisal, 16 tahun, mengaku senang dengan adanya perlombaan Agustusan, terutama panjat pinang. “Saya senang ada Agustusan, ada panjat pinang. Banyak hadiahnya,” kata Faisal.
Panjat pinang memang sudah sangat lekat dengan perayaan kemerdekaan. Tetapi permainan ini sebenarnya memiliki sejarah yang lebih panjang.
Kementerian Pertahanan melalui Majalah Wira mencatat panjat pinang telah dikenal sejak masa penjajahan dan kemudian berkembang menjadi salah satu ikon perlombaan dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Permainan dilakukan dengan memanjat batang pinang yang dibuat licin untuk mengambil hadiah di bagian atas. Kemhan juga menekankan bahwa kerja sama menjadi salah satu kunci dalam permainan tersebut.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan mencatat panjat pinang sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, hadiah seperti bahan pokok dan pakaian diletakkan di bagian atas pohon pinang dan diperebutkan oleh masyarakat Indonesia.
DJKN juga menjelaskan bahwa pada masa tersebut panjat pinang digunakan sebagai hiburan dalam acara seperti pernikahan dan hajatan. Setelah Indonesia merdeka, permainan ini kemudian melekat kuat dengan perayaan 17 Agustus.
Karena itu, sejarah panjat pinang tidak sesederhana anggapan bahwa permainan tersebut sejak awal diciptakan untuk merayakan kemerdekaan. Permainannya sudah dikenal sebelumnya, kemudian mengalami perubahan konteks dan menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan.
Bagaimana sebenarnya permainan ini?
Dalam buku Permainan Tradisional Anak Nusantara yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, panjat pinang dijelaskan sebagai permainan yang dimainkan secara berkelompok.
Batang pinang yang digunakan dapat mencapai sekitar lima meter. Batang tersebut dibuat licin, sementara berbagai hadiah dan bendera ditempatkan di bagian atas. Permainan dapat diikuti anak-anak maupun orang dewasa.
Untuk mencapai puncak, peserta harus saling membantu. Orang yang berada di bawah menjadi tumpuan bagi peserta berikutnya. Dengan susunan tersebut, anggota kelompok berusaha membuat satu orang bisa mencapai bagian paling atas.
Jadi, kekuatan seorang peserta saja tidak cukup.
Kemendikdasmen mencatat permainan tradisional seperti panjat pinang mengandung unsur aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kerja sama. Dalam praktiknya, peserta harus berkomunikasi dan menyesuaikan gerakan agar tujuan kelompok dapat tercapai.
Ini pula yang membuat kegagalan menjadi bagian dari permainan. Ketika seorang peserta jatuh atau kembali melorot, kelompok tidak otomatis kalah. Mereka mencari posisi yang lebih tepat, mengatur ulang tumpuan dan mencoba lagi.
Hadiah memang berada di atas, tetapi jalan menuju hadiah harus dilakukan bersama.
Hadiah sederhana, hiburan yang dicari
Di Cipeundeuy, hadiah yang disiapkan cukup dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Makanan, peralatan dapur, kaus, dan barang lainnya digantung di bagian atas batang pinang. Nilainya mungkin tidak sebesar hadiah dalam sebuah kompetisi modern, tetapi justru karena sederhana itulah lomba mudah diterima masyarakat.
Anak-anak dapat ikut bermain atau menonton. Orang dewasa bisa menjadi peserta. Warga lainnya menikmati perlombaan dari pinggir arena.
Ezal, salah seorang penonton, menyebut panjat pinang sebagai sarana hiburan yang hampir selalu hadir ketika Agustusan.
“Senang, karena jadi sarana hiburan. Hampir setiap Agustusan selalu ada panjat pinang,” tutur Ezal.
Menurut Ezal, panjat pinang kali ini digelar di area sawah yang sudah selesai dipanen. Pada kesempatan lain, perlombaan serupa juga pernah digelar di kawasan kolam ikan.
Artinya, tempat bukan persoalan utama dalam tradisi tersebut. Ruang yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat menjadi arena ketika perayaan kemerdekaan digelar.
Mengapa tetap bertahan?
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan menyebut panjat pinang sebagai salah satu lomba yang sangat melekat dengan perayaan 17 Agustus.
Selain menjadi hiburan, permainan tersebut dapat dilihat dari sisi kreativitas dan kekompakan tim untuk mencapai kemenangan. Makna yang berkembang sekarang juga berbeda dengan konteks sejarahnya.
Jika dahulu permainan ini memiliki latar hiburan pada masa kolonial, kini panjat pinang ditempatkan masyarakat sebagai bagian dari kegembiraan merayakan kemerdekaan. Karakter permainannya pun membuat banyak orang bisa terlibat.
Tidak diperlukan kemampuan khusus seperti dalam olahraga prestasi. Peserta hanya perlu kekuatan fisik, keberanian, strategi, dan kemampuan bekerja bersama.
Penonton pun memiliki peran sendiri. Mereka memberi semangat, tertawa ketika peserta terjatuh dan kembali bersorak ketika pemanjat mulai mendekati puncak.
Tradisi lama di tengah hiburan baru
Di tengah semakin banyaknya bentuk hiburan modern, panjat pinang masih bertahan karena sifatnya yang sederhana dan melibatkan banyak orang.
Kemhan, Kemendikdasmen dan Kementerian Keuangan sama-sama menempatkan panjat pinang dalam konteks permainan rakyat yang berkaitan dengan perayaan kemerdekaan, dengan unsur kerja sama dan kekompakan yang menonjol.
Di Cipeundeuy, tradisi itu kembali dimainkan.
Sawah yang telah dipanen menjadi salah satu ruang pelaksanaan. Anak-anak dan orang dewasa ikut meramaikan.
Hadiah berupa makanan, peralatan dapur, kaos dan barang lainnya menunggu di atas.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta harus mencari cara agar bisa mencapai puncak. Di situlah panjat pinang tetap menarik.
Sebab permainan ini mengajarkan sesuatu tanpa perlu banyak teori: orang yang sampai di puncak boleh jadi hanya satu, tetapi ia tidak akan sampai tanpa orang-orang yang menopangnya dari bawah. (*)